96. AL BAQI' (Dzat Yang Maha Kekal) Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah Ta’ala baik dilangit maupun dibumi tidak ada yang sia-sia dan semuanya bersifat sementara. Tidak ada satupun yang diciptakan Allah Ta’ala dalam keadaan kekal dan segala sesuatu yang bersifat sementara pasti akan hancur. Bahkan syurga dan neraka adalah kekal selama dikehendaki oleh Allah Ta'ala. Dengan kata lain kekekalan syurga dan neraka tidak sama dengan kekekalan Allah Ta'ala. Karena Allah Ta'ala adalah Tuhan yang Maha Esa dan tidak ada satupun yang setara dengan-Nya. Syurga dan neraka dikatakan kekal karena sehari disana (akhirat) sama seperti seribu hari didunia. Sehingga apabila seseorang masuk neraka selama satu bulan, maka sama seperti 30 ribu tahun hidup didunia. Hal ini sangat berbeda dengan kekekalan Allah Ta'ala. Sesuai surat Huud (11) : 106 – 108 106. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). 107. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. 108. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. Hanya Allah-lah Dzat Yang Maha Kekal yang tidak akan pernah mati. Oleh sebab itu hendaknya kita bergantung hanya kepada Allah Ta’ala Dzat Yang Maha Kekal dan jangan sekali-kali bergantung kepada sesuatu yang bersifat sementara. Segala sesuatu yang bersifat sementara pasti ada proses. Seperti manusia pada awalnya bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, mati. Begitupun juga dengan yang lain, semuanya ada proses dan pasti akan binasa. Akan tetapi kebanyakan manusia selalu bergantung dengan ciptaan-ciptaan Allah Ta’ala. Banyak sekali yang bergantung dengan manusia, bergantung dengan harta, bergantung dengan jabatan, bergantung dengan ilmu dan lain sebagainya. Padahal semuanya itu bersifat sementara dan pasti akan binasa. Sebagai contohnya seseorang yang bergantung dengan sejumlah uang yang dia depositkan di bank. Seorang isteri yang bergantung dengan suaminya, seorang anak yang bergantung dengan orang tuanya dan lain sebagainya. Didalam hidup ini Allah Ta’ala sering kali membuktikan bahwa harta, ilmu, dan lain sebagainya tidak bisa memberikan manfaat dan mudhorat. Sebagai contohnya seseorang yang sakit parah. Walaupun hartanya banyak, ilmunya tinggi dan lain sebagainya, apabila Allah Ta’ala belum menghendaki dia sembuh maka semua itu tidak ada gunanya. Kekekalan Allah Ta'ala tidak hanya DzatNya tetapi juga sifat dan perbuatanNya. Jika Allah Ta'ala mempunyai sifat Ar Rahim, yaitu akan memasukkan hambaNya yang beriman dan bertaqwa kedalam syurga, maka ketentuan-Nya tersebut kekal tidak akan berubah. Begitu juga Al Muntaqim, yaitu Allah Ta'ala akan memasukkan orang-orang yang ingkar kedalam neraka. Maka ketentuan Allah Ta'ala ini juga kekal tidak akan berubah. Tidak seperti manusia yang sewaktu-waktu bisa berubah. Sekarang baik, besok berubah menjadi tidak baik. Apabila Allah Ta'ala menentukan orang-orang yang ingkar masuk kedalam neraka, maka diakhirat kelak ketentuan-Nya tersebut pasti akan terjadi dan tidak akan berubah. Karena tidak ada perubahan bagi sunnah-sunnah Allah Ta'ala. Sesuai surat Faathir (35) : 43 43. Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. Kalau Allah Al Baqi’ maka selain Allah adalah fana’. Termasuk diri kita yang suatu saat pasti akan mati (musnah) dan akan kembali kepada Allah. Walaupun semua yang dilangit dan dibumi hancur (musnah) Allah tetap ada. Sedangkan kapan waktu kita kembali hanya Allah yang tahu. Mungkin malam ini, besok pagi, seminggu lagi, setahun lagi dan seterusnya. Oleh sebab itu jangan sekali kita sia-siakan waktu ini. Sebelum batas waktu itu datang, manfaatkanlah waktu-waktu yang tersisa untuk amal ibadah atau amal sholeh. Surat Al Anbiya' (21) : 34, 35 34. Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? 35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. Segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi ini adalah ciptaan Allah. Dan semuanya bersifat fana’ (sementara). Oleh sebab itu satu-satunya yang bersifat kekal hanyalah Allah SWT. Maka dari itu jangan sampai kita bergantung di pohon yang rapuh, seperti makhluk, jabatan, harta, ilmu, dan lain sebagainya, karena semuanya akan musnah. Hendaklah kita bergantung hanya kepada Dzat yang Maha Kekal. Yang selalu kaya dan tidak pernah miskin, yang selalu berkuasa, yang selalu hidup dan tidak pernah mati. Akan tetapi kenapa kebanyakan manusia bergantung kepada sesuatu yang bersifat fana’? Hal ini dikarenakan sedikit sekali dari manusia ini yang kenal dan yakin kepada Allah. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kita bergantung dengan hukum-hukum Allah Ta'ala dan seberapa banyak kita bergantung dengan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu mematuhi semua hukum-hukum yang telah Engkau berikan kepada manusia. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa hanya Allah Ta'ala yang Maha Kekal. Dan apa-apa yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala berupa hukum-hukumNya pasti akan terjadi dan tidak akan pernah berubah. Apabila Allah Ta'ala menentukan hukum bahwa orang fasik akan masuk neraka dan orang beriman serta bertaqwa masuk syurga, maka ketentuan-Nya tersebut sifatnya kekal dan tidak akan pernah berubah. D. Sikap Orang Bertaqwa Apapun yang ada didunia ini adalah bersifat sementara dan pasti akan binasa. Harta sebanyak apapun suatu saat nanti akan bisana. Manusia sehebat apapun suatu saat nanti akan binasa. Jabatan setinggi apapun suatu saat nanti akan binasa. Begitu juga dengan hal-hal yang lain. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang bertaqwa, dia hanya bergantung kepada Allah Ta'ala baik didunia maupun diakhirat kelak. Karena Allah Ta'ala yang mempunyai dunia dan akhirat, dan hanya Dia yang bisa menyelamatkan hamba-hambaNya baik didunia maupun diakhirat. Dan hanya Allah satu-satuNya Dzat Yang Maha Kekal yang tidak akan pernah mati untuk selama-lamanya. KekuasaanNya tidak akan pernah berkurang dan kekayaan-Nya tidak akan pernah habis. Orang-orang yang bertaqwa sangat takut jika dirinya termasuk orang-orang fasik dan durhaka. Oleh sebab itu dia selalu berusaha untuk mematuhi hukum-hukum Allah Ta'ala, yaitu melakukan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kiranya kami dapat lebih bijaksana dalam mempergunakan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia, karena sesungguhnya hukum-hukum manusia tidaklah kekal. F. Sikap Orang Bertawakkal Apabila dia telah bergantung hanya kepada Allah Ta'ala serta menjalankan hukum-hukumNya, maka masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Dan dia selalu memohon agar ditambah kekuatan untuk dapat menjalankan hukum-hukum Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Dia tidak pernah mempermasalahkan pendapat manusia kepadanya. Biarlah manusia mengatakan salah yang penting dimata Allah Ta'ala benar. Apapun penilaian manusia terhadapnya dia terima dengan ikhlas. Yang penting dia selalu berusaha untuk menjalankan hukum-hukum Allah Ta'ala dengan niat yang benar (semata-mata karena Allah Ta'ala dan mengharapkan balasan dihari akhir). Didalam hidup ini Allah Ta'ala telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih. Apakah memilih jalan kefasikan atau jalan ketaqwaan. Akan tetapi ingatlah...!! bahwasannya kita nanti pasti akan bertemu dengan Allah Ta'ala diakhirat kelak. Dan kita pasti akan dimintai pertanggung jawabannya. Sedikitpun kita tidak bisa mengelak, karena Allah Ta'ala Maha Mengetahui dan para Malaikat yang ditugaskan untuk mencatat amal perbuatan manusia juga mengetahui. Apabila kita memilih kefasikan, maka kita akan masuk neraka. Apabila kita memilih jalan ketaqwaan, maka kita akan masuk syurga. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Baqi Apabila telah menjadi kholifah, maka ia hanya bergantung kepada Allah Dzat Yang Maha Kekal. Hal ini terjadi karena adanya suatu keyakinan bahwa selain Allah Ta’ala akan menemui kehancuran. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Baqi Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam mengingatkan manusia agar mereka selalu mengikuti hukum-hukumMu. Agar mereka dapat melihat bahwasannya hukum yang Engkau tentukan adalah hukum yang seadil-adilNya dan hukum-Mu pasti berlaku dan kekal.