95. AL BADI’ (Dzat Yang Maha Pertama Menciptakan) Segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi, yang pertama sekali menciptakan adalah Allah Ta’ala. Sedangkan manusia hanya bisa mengelola ciptaan-ciptaanNya saja. Sebagai contohnya manusia bisa memakai pakaian untuk menutupi aurat. Pada dasarnya yang pertama sekali menciptakan bahannya yaitu kapas adalah Allah Ta’ala, kemudian manusia hanya bisa mengelolanya sehingga menjadi benang, setelah itu ditenun menjadi kain, baru setelah itu dijahit menjadi pakaian. Begitu juga dengan hal-hal yang lain semuanya Allah Ta'ala yang pertama sekali menciptakan. Oleh sebab itu apapun yang bisa kita lakukan atau perbuat, hendaknya kita ingat bahwa Allah-lah yang pertama-tama menciptakan. Jangan sekali-kali kita merasa sombong dan riya’. Karena kita hanya bisa mengelola, sedangkan bahan-bahanya adalah Allah yang pertama menciptakan. Dan ilham pengelolaan itupun Allah Ta'ala yang memberikan. Akan tetapi kebanyakan manusia apabila bisa membuat sesuatu, maka dia akan merasa bahwa dialah yang mampu memulai menciptakannya. Makanya ada yang namanya “Hak Paten atau Hak Cipta”. Padahal dia hanyalah mengelola ciptaan-ciptaan Allah Ta’ala dan dia bisa melakukan semua itu juga karena izin dan pertolonganNya. Dan yang paling aneh adalah orang-orang yang memakainya menjadi sombong. Seperti orang-orang yang sombong ketika memakai pakaian, motor, mobil atau yang lainnya. Padahal semua itu adalah titipan Allah Ta'ala untuk memudahkannya didalam beraktivitaf dan untuk memudahkannya didalam melakukan keta’atan. Andaikata kita ingin menutup aurat, akan tetapi Allah Ta’ala tidak menciptakan kapas dan tidak memberi akal bagaimana cara membuat pakaian, bagaimana kita bisa menutup aurat? Andaikata kita ingin makan, akan tetapi Allah Ta’ala tidak menciptakan beras dan tidak mengajari kita bagaimana cara memasak, maka bagaimana kita bisa makan? Andaikata kita ingin bepergian, akan tetapi Allah Ta'ala tidak menciptakan bahan dan ilham untuk membuat kendaraan, maka kita akan merasa susah. Bisa kita bayangkan, andaikata Allah Ta’ala tidak menciptakan fasilitas-fasilitas, tidak memberi kita fisik (jasad), tidak memberi kita akal, tidak memberi kita tenaga, tidak memberi kita kemampuan dan lain sebagainya, maka kita tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita sombong dan merasa mampu. Karena yang namanya manusia hanya punya jiwa (keinginan) dan bersifat lemah, faqir, bodoh, tidak punya daya upaya dan kekuatan sedikitpun jika tanpa pertolongan Allah Ta’ala. Didalam hidup ini yang membuat manusia gelisah adalah tidak bisa bertawakkal kepada Allah Ta’ala. Dia selalu berniat untuk memperoleh dunia dan kepuasan hawa nafsu, sehingga dia akan berusaha dengan berbagai macam cara agar kiranya keinginannya tersebut terpenuhi. Padahal apabila kita ingin hidup dengan tenang, maka tugas yang harus kita lakukan adalah berniat yang baik, berikhtiyar (berusaha) yang sunguh-sungguh sesuai dengan syareat yang telah Allah Ta’ala tentukan, berdo’a dengan rendah diri, setelah itu bertawakkal (berserah diri kepada Allah Ta’ala), dan hasil apapun yang Allah Ta'ala berikan, hendaknya kita terima dengan ikhlas. Karena segala kebutuhan manusia selama hidupnya didunia telah ditentukan (dijamin) oleh Allah Ta’ala. Segala sesuatu yang ada dibumi ini sifatnya adalah netral. Setelah itu terserah manusia bagaimana menggunakannya. Sebagai contohnya pisau. Ada dasarnya adalah netral, setelah itu tergantung bagaimana manusia. Jika dipakai untuk sesuatu yang baik, maka akan menjadi amal akan tetapi jika dipakai untu sesuatu yang tidak baik, maka akan menjadi dosa. Allah Ta'ala menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepadanya. Dan didalam beribadah tentunya membutuhkan sarana. Oleh sebab itu Allah Ta'ala telah menyiapkan sarana-sarana tersebut dan Allah Ta'ala mengilhamkan untuk mengelolanya. Sebagai contohnya adalah kapal. Yang pertama sekali menciptakan kapal adalah Nabi Nuh As atas petunjuk dan pengawasan Allah Ta'ala. Sesuai Surat Huud (11) : 37 37. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Disini dijelaskan bahwa Nabi Nuh As hanya bisa mengelola saja, karena bahan-bahannya (kayu) adalah Allah Ta'ala yang menciptakan, dan didalam pengelolaannya juga karena petunjuk dan pengawasan dari Allah Ta'ala. Begitupun juga dengan manusia-manusia yang lain. Tidak ada satupun manusia yang bisa menciptakan sesuatu kecuali hanya sekedar mengelola saja. Bahkan bisa mengelola itupun Allah yang mengilhamkan. Pertama Allah ilhamkan ide, diilhamkan perencanaan dan ditolong dalam membuatnya. Maka dari itu kalau kita bisa membuat sesuatu janganlah sombong dan jangan mencari bayaran dunia, karena semua Allah yang pertama menciptakan. Sebetulnya ini adalah untuk diri kita sendiri yaitu untuk mengumpulkan amal-amal akhirat. Akan tetapi dalam kehidupan sekarang ini ada istilah hak paten. Artinya apabila seseorang bisa menemukan sesuatu dan ingin dimanfaatkan oleh orang lain harus izin dan membayar terlebih dahulu. Padahal Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain”. Oleh sebab itu apabila kita bisa menemukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak, yakinlah bahwa kita hanya sebatas perantara yang diizinkan Allah untuk mengelola dan semua itu atas pertolongan Allah. Karena Allah memerintahkan kepada kita agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri kepadaNya, bukan pertama menjadi orang yang ingkar. Dan kita juga dilarang bergantung kepada sesuatu yang sifatnya sementara. Akan tetapi kenyataannya hal ini sering kita lakukan sehari-hari. Misal bergantung dengan jabatan, padahal jabatan sifatnya sementara yang suatu saat pasti akan berakhir, begitupun juga dengan harta dan lain sebagainya. Kenapa kita harus minta bayaran dunia yang sedikit ini? Padahal apabila kita ikhlas, maka kita akan memperoleh amal jariyah yang akan terus mengalir pahalanya walaupun kita sudah mati. Sebetulnya hukum-hukum dunia membatasi seseorang untuk beramal. Sehingga hanya mendapatkan bayaran-bayaran didunia ini saja. Seperti sanjungan-sanjungan, pujian-pujian, harta yang melimpah dan menjadi orang yang terkenal. Dalam hidup ini kita selalu memohon kepada Allah agar diberi ilmu yang manfaat dan barokah. Yang dinamakan manfaat adalah berguna untuk diri sendiri sedangkan yang dinamakan barokah adalah berguna untuk orang lain. Apabila seseorang mempunyai ilmu yang berguna untuk dirinya sendiri dan berguna untuk orang lain dan ia ikhlas, maka walaupun ia mati amalnya tetap akan mengalir. Akan tetapi kita tidak bisa melakukan hal ini sebelum meyakini Asma’ Allah Al Badi’. Seperti contohnya seseorang yang diilhamkan Allah bisa membuat sebuah buku. Selama buku ini dipakai orang lain, dia akan mendapatkan amalnya. Sejauh dia ikhlas dan tidak merasa bahwa dialah yang menciptakan. Apakah kita diperbolehkan memungut bayaran (royalti)? Boleh, asalkan kita pakai untuk menafkahkan harta dijalan Allah Ta’ala, bukan untuk mencari keuntungan duniawi (hawa nafsu). Akan tetapi hasilnya tidak bisa maksimal. A. Sisi Tafakkurnya Sudah berapa banyak kita meyakini bahwa segala sesuatu yang kita lakukan adalah karena kemampuan diri kita sendiri dan kitalah yang mula-mula melaksanakannya? dan seberapa banyak kita merasa bahwa kita hanya sebatas mengelola apa-apa yang telah diciptakan Allah Ta'ala? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tidak sombong apabila kami dapat melakukan sesuatu. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta'ala yang pertama sekali menciptakan segala sesuatu untuk keperluan manusia melakukan keta’atan kepada-Nya. Sedangkan manusia hanya sebatas mengelola saja dan itupun atas izin dan pertolongan Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia selalu berusaha untuk menggunakan ciptaan-ciptaan Allah Ta'ala untuk melakukan ketaqwaan kepada-Nya. Dia tidak mau menggunakan ciptaan-ciptaan Allah Ta'ala untuk melakukan kedurhakaan-kedurhakaan atau untuk kepuasan hawa nafsu. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami dapat menggunakan apa-apa yang Engkau ciptakan untuk ketaqwaan kami kepada-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Dia akan selalu memohon kepada Allah Ta'ala agar diberi kesempatan untuk bisa mengelola ciptaan-ciptaan Allah Ta'ala yang masih baku (bahan) agar bisa bermanfaat untuk kepentingan orang banyak (amal sholeh). Sehingga bisa menjadi amal jariyah (amal yang pahalanya terus mengalir walau sudah meninggal). Setelah itu masalah hasilnya dia serahkan kepada Allah Ta'ala. Apakah nantinya manusia akan menggunakannya untuk kefasikan, dia tidak ikut bertanggung jawab. Yang penting niat awalnya benar yaitu ingin memudahkan manusia didalam melakukan ketaqwaan kepada Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Apakah hasilnya bisa dimanfaatkan oleh manusia atau tidak dimanfaatkan, dia terima dengan ikhlas. Yang penting dia telah berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak didalam melakukan keta’atan kepada Allah Ta'ala. Sedikitpun tidak ada rasa sombong didalam hatinya dan tidak ingin dipuji oleh orang lain. Karena dia sadar bahwa dirinya hanya sebatas mengelola saja dan itupun atas izin dan pertolongan Allah Ta'ala. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Badi’ Apabila ia telah menjadi kholifah, maka dalam hidupnya ia selalu menghindari bergantung kepada makhluk. Karena ia yakin akan sia-sia apabila bergantung kepada makhluk. Dengan kata lain ia akan menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantungnya. Kemudian ia akan mengajak manusia untuk bergantung hanya kepada Allah Ta'ala dan tidak bergantung kepada makhluq. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Badi’ Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk memperingatkan manusia agar mereka tidak sombong dengan apa yang dapat mereka lakukan. Agar manusia mengetahui bahwa sesungguhnya mereka hanyalah sebagai perantara-Mu, sedangkan Engkau adalah Dzat Yang Maha Memulai penciptaan.