91. ADH DHOR (Dzat Yang Maha Memberi Mudhorat) 92. AN NAFI’ (Dzat Yang Maha Memberi Manfa’at) Kedua Asma’ ini adalah titik kunci keimanan. Bahwasannya hanya Allah Ta’ala satu-satunya Dzat Yang Dapat Memberikan Manfaat dan Mudhorat. Apabila hamba-hambaNya melakukan ketaqwaan, maka Allah Ta’ala akan memberikan kemanfaatan-kemanfaatan dan apabila hamba-hambaNya melakukan kefasikan, maka Allah Ta’ala akan memberikan kemudhoratan-kemudaratan. Apabila Allah Ta’ala berkehendak memberikan kemanfaatan kepada hamba-Nya, maka kehendak-Nya tersebut pasti akan terlaksana dan tidak ada satupun yang bisa menghalangi-Nya. Walaupun semua yang ada dilangit dan dibumi, baik dari golongan jin dan manusia bersatu, maka tidak bisa menggagalkannya. Begitupun juga sebaliknya apabila Allah Ta’ala menghendaki untuk memberikan kemudhoratan kepada hamba-Nya, maka tidak ada satupun yang bisa menolaknya. Walaupun semua makhluq yang ada dilangit dan dibumi bersatu untuk menghalangi-Nya. Dan apabila hambaNya telah menerima kemudhoratan, maka tidak ada satupun yang bisa melepaskannya kecuali hanya Allah Ta’ala. Seseorang yang ingin beriman, maka terlebih dahulu dia harus betul-betul memahami serta meyakini dengan sepenuh hati, bahwa hanya Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat. Sehingga apabila seseorang telah meyakini kedua hal ini, barulah dia diizinkan oleh Allah Ta'ala menjadi orang yang beriman. Dan ini masih dalam keadaan setitik iman. Tidak ada satupun selain Allah Ta'ala yang bisa mendatangkan manfaat dan mudhorat. Sebagai contohnya adalah harta. Apabila harta bisa memberikan manfaat, maka apabila ada orang yang sakit tentunya bisa sembuh dengan harta yang banyak. Akan tetapi buktinya tidak. Walau sebanyak apapun harta tidak bisa menyembuhkan seseorang dari penyakit apabila Allah Ta'ala tidak menghendaki. Begitu juga dengan yang lain. Didalam hidup ini hawa nafsu dan syetan selalu menghalangi manusia agar tidak beriman kepada Allah Ta'ala. Sehingga hawa nafsu dan syetan selalu menampakkan bahwa selain Allah Ta'ala seolah-olah bisa memberikan manfaat dan mudhorat. Padahal selain Allah Ta'ala hanya dijadikan sebagai perantara dan yang mengatur semuanya adalah Allah Ta'ala. Dengan kata lain musuh utama yang menghalangi manusia untuk beriman kepada Allah Ta'ala adalah hawa nafsu dan syetan. Karena hawa nafsu selalu mengajak manusia untuk meyakini selain Allah Ta'ala ada yang bisa memberikan manfaat dan mudhorat. Sebagai contohnya hawa nafsu dan syetan mengajak manusia untuk meyakini, bahwa ada orang lain yang bisa memberikan manfaat dan mudhorat. Hawa nafsu dan syetan mengajak manusia untuk meyakini bahwa uang, harta, jabatan, azimat, benda-benda pusaka dan lain sebagainya bisa memberikan manfaat dan mudhorat. Oleh sebab itu kita harus mengenal Allah Ta'ala dengan sebenar-benarnya, sehingga kita bisa meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat. Untuk mencapai keimanan memang sungguh berat. Karena iman adalah sesuatu yang sangat mahal. Dan hanya dengan keimanan inilah yang bisa memasukkan seseorang kedalam syurga. Tanpa keimanan tidaklah mungkin seseorang bisa masuk syurga, walaupun dia menebus diri dengan emas sepenuh bumi. Surat Ali Imran (3) : 91 91. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. Orang-orang yang beriman semua amalnya akan diterima oleh Allah Ta'ala. Karena didalam beramal niatnya adalah karena Allah Ta'ala dan mengharapkan balasan dihari akhir. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak beriman amal-amalnya tidak ada satupun yang diterima sementara dosa-dosanya selalu bertambah setiap saat. Karena didalam beramal niatnya bukan karena Allah Ta'ala dan hanya mengharapkan balasan didunia. Begitupun juga bagi orang-orang yang mempersekutukan Allah Ta'ala, maka semua amalnya akan menjadi hapus. Surat Az Zumar (39) : 65 65. Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Apabila kita telah yakin bahwa satu-satuNya Tuhan hanyalah Allah, baru kita memahami sifat-sifat dan perbuatanNya yang terangkum didalam Asma’ul Husna. Setelah itu kita baru bisa yakin bahwa satu-satuNya Tuhan yang dapat memberikan manfa’at dan mudhorat hanyalah Allah. Bahkan Rasulullah sebagai manusia yang paling baik juga tidak bisa. Sesuai dengan surat Yunus (10) : 49 49. Katakanlah: "aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku sendiri, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). Hal ini disebabkan Beliau kenal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya akan cenderung meyakini selain Allah. Sesuai dengan surat Al Hajj (22) : 73, 74 73. Hai manusia, telah dibuat perumpamaan maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. 74. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dalam kehidupan sehari-hari bahkan dalam seluruh aktivitas, kita selalu diuji dengan Adh Dhor dan An Nafi’. Akan tetapi kita sering kalah (karena meyakini selain Allah ada yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat). Hal ini disebabkan kita belum faham dengan seluruh Asma’ul Husna. Sehingga apabila terbentur dengan satu masalah yang kita belum faham dengan salah satu Asma’ Allah Ta’ala, membuat keimanan kita lepas (meyakini selain Allah ada yang bisa memberikan manfaat dan mudhorat). Sebagai contohnya kita sakit. Biasanya kita merasa kalau tidak berobat tidak akan sembuh. Akan tetapi bagi orang-orang yang imannya kuat (faham dan yakin dengan seluruh Asma’ul Husna) apabila menghadapi masalah apapun selalu ia kembalikan bahwa hanya Allah yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat. Oleh sebab itu sebelum faham dan yakin dengan seluruh Asma’ul Husna, keimanan kepada Allah akan sering lepas. Apabila kita berbuat satu kesalahan maka kemudhoratannya akan kembali kepada diri kita dan tidak ada satupun yang bisa melepaskan kemudhoratan tersebut kecuali hanya Allah. Jadi bukan manusia dan makhluk yang dibumi ini yang bisa memberi mudhorat tetapi hanya Allah. Begitupun juga sebaliknya apabila kita melakukan suatu kebaikan maka Allah akan memberikan kemanfaatan walaupun semua yang dilangit dan dibumi ini berusaha untuk menghalangi. Disinilah letak kita bisa melihat bahwasannya kita makhluk yang individu, sedangkan makhluk-makhluk yang lain hanya menjadi perantara Allah untuk memberikan manfaat atau mudhorat kepada kita. Oleh sebab itu apabila kita menerima suatu kemudhoratan jangan sekali-kali menyalahkan orang lain, tetapi salahkan diri sendiri dan mohonlah kepada Allah untuk melepaskannya. Akan tetapi kenyataannya apabila kita menerima suatu kemudhoratan kita menyalahkan orang lain, tetapi apabila menerima suatu kemanfaatan tidak menghitung orang lain. Tanda-tanda orang yang beriman adalah dia sangat yakin bahwa hanya Allah yang dapat memberikan manfaat atau mudhorat dan dia tidak melihat orang lain, sehingga apabila ia dapat mudhorat ia yakin datangya dari Allah. Mungkin ada kesalahan yang ia perbuat. Dan apabila ia mendapat kemanfaatan juga ia yakin datangnya dari Allah. Sedangkan ciri-ciri orang yang tidak beriman apabila menerima kemudhoratan menyalahkan orang lain, tetapi apabila menerima kemanfaatan tidak menghitung orang lain. Ia hanya merasa atas kemampuan dirinya sendiri. Untuk itu hendaklah kita kontrol diri kita masing-masing, masuk golongan mana? Karena iman itu perlu diuji bukan hanya diucapkan dengan lisan saja. A. Sisi Tafakkurnya Apabila kita menerima kemudhoratan dari Allah Ta'ala, seberapa banyak kita kecewa dan menyalahkan orang lain? dan seberapa banyak kita melihat kesalahan diri sendiri, sehingga kita menerima ketentuan Allah Ta'ala berupa kemudhoratan tersebut? Dan apabila kita menerima kemanfa’atan dari Allah Ta'ala, seberapa banyak kita melihat bahwa itu adalah hasil kemampuan diri kita sendiri, atau atas pertolongan orang lain? dan seberapa banyak kita melihat (menyadari) bahwa segala sesuatu kemanfa’atan yang kita terima adalah datangnya dari Allah Ta'ala? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang selalu ingat akan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang kami lakukan apabila kami menerima kemudhoratan dari-Mu. Dan jadikanlah kami ya Allah termasuk hamba-hambaMu yang bersyukur atas kemanfaatan yang Engkau berikan kepada kami. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa hanya Allah Ta'ala yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat. Tidak ada satupun yang dapat memudhoratkan dirinya atau mendatangkan kemanfaatan kepada dirinya kecuali hanya Allah Ta'ala. Sehingga dia khawatir apabila melakukan kefasikan akan mendapat kemudhoratan dari Allah Ta'ala. Karena hukum Allah Ta'ala adalah pasti. Bahwa barang siapa yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan (kemanfaatan) dan barang siapa yang berbuat jahat akan dibalas dengan kejahatan (kemudhoratan). Oleh sebab itu dia sangat bergantung kepada Allah Ta'ala, dan tidak pernah takut kepada selain Allah Ta'ala. Karena tidak ada satupun yang dapat memberikan kemanfaatan dan kemudhoratan kecuali hanya Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Apabila dia terkena kemudhoratan, maka dia sangat menyadari bahwa kemudhoratan itu datangnya dari Allah Ta'ala. Setelah itu dia mengintrospeksi dirinya, kesalahan apa yang membuat dirinya terkena mudhorat. Kemudian dia bertaubat dan berusaha memperbaiki diri. Orang-orang yang bertaqwa apabila terkena kemudhoratan, dia hanya mengadu dan memohon kepada Allah Ta'ala. Dia tidak pernah mengadu dan memohon kepada selain Allah Ta'ala. Karena dia yakin bahwa tidak ada satupun yang dapat melepaskan kemudhoratan itu kecuali hanya Allah Ta'ala. Dan dia tidak pernah menyalahkan siapapun, apalagi menyalahkan Allah Ta'ala. Karena kemudhoratan apapun yang dia terima adalah disebabkan perbuatan tangannya sendiri. Begitupun juga apabila dia mendapatkan kemanfaatan, dia yakini semua itu datangnya dari Allah Ta'ala. Dia tidak pernah mengakui bahwa kemanfaatan itu karena hasil upayanya sendiri atau karena kemampuan dan kepintarannya sendiri. Dan dia tidak menjadi sombong dengan apa yang dia terima, karena semua itu datangnya dari Allah Ta'ala sebagai amanah dari-Nya. Kemudian dia-pun mencari tahu, kebaikan atau amal apa yang menyebabkan dirinya menerima kemanfaatan dari Allah Ta'ala. Setelah itu dia akan melakukan amal tersebut secara istiqomah dan dia tingkatkan supaya lebih banyak dan lebih baik lagi. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar dapat kembali kejalan-Mu yang lurus pada saat Engkau memberikan kemudhoratan kepada kami. Dan tolonglah kami ya Allah, agar kami dapat menambah amal ibadah dan amal sholeh dari apa yang kami lakukan. F. Sikap Orang Bertawakkal Yang penting dia telah berusaha untuk melakukan kebaikan-kebaikan, sedangkan masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Apabila dia menerima kemudhoratan, dia hanya mengadu dan memohon kepada Allah Ta'ala. Karena hanya Allah Ta'ala yang dapat melepaskan kemudhoratan itu. Dan apabila dia diberi kemanfaatan, dia akan memohon agar dibimbing untuk dapat menggunakannya untuk beramal sholeh. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apapun yang Allah Ta'ala berikan kepadanya. Sedikitpun dia tidak mempermasalahkan kemanfaatan dan kemudhoratan yang menimpa dirinya. Karena dia yakin bahwa semua itu datangnya dari Allah Ta'ala. Apabila dia diberi kemudhoratan akibat kesalahan yang dia lakukan, maka dia terima dengan ikhlas dan sangat bersyukur. Berarti Allah Ta'ala masih sayang kepadanya, sehingga dia bisa bertaubat dan memperbaiki diri. Begitupun juga apabila dia diberi kemanfaatan akibat kebaikan yang dia lakukan, maka dia sangat bersyukur. Setelah itu dia akan melakukan amal itu secara terus menerus dan dia tingkatkan supaya lebih banyak dan lebih baik lagi. Orang-orang mukhlis tidak mau melakukan hukum yang diluar hukum Allah Ta'ala. Karena dia khawatir, apabila melakukan sesuatu tidak sesuai hukum Allah Ta'ala, maka dia akan menerima kemudhoratan. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Adh Dhor Apabila ia sudah menjadi kholifah, andaikata ada orang-orang yang melanggar hukum-hukum Allah, dia selalu membimbing orang yang melanggar tersebut sampai ia kembali kepada Allah. Ia akan mengajak manusia untuk selalu bertaubat kepada Allah. Ia tidak akan pernah meyakini bahwa selain Allah Ta'ala ada yang bisa memberikan mudhorat. Dan ketika ia menerima kemudharatan ia hanya yakin Allah sajalah yang bisa melepaskan kemudharatan tersebut. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Adh Dhor Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk mengingatkan manusia agar mereka kembali kejalan-Mu yang lurus apabila mereka mendapat kemudhoratan dari dosa yang mereka lakukan. Agar manusia dapat melihat bahwa sesungguhnya kemudhoratan yang mereka terima itu adalah untuk mengembalikan mereka kejalan-Mu yang lurus. J. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ An Nafi’ Apabila ia sudah menjadi kholifah, andaikata ada orang-orang yang melaksanakan hukum-hukum Allah Ta'ala, maka dia akan selalu berusaha untuk memberikan kebaikan kepada orang tersebut dan mengajak mereka untuk bersyukur kepada Allah Ta'ala. K. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ An Nafi’ Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk mengingatkan manusia tentang manfaat yang mereka terima itu adalah karena mereka mau menerima petunjuk dari-Mu. Sehingga manusia dapat mengetahui bahwa sesungguhnya kemanfaatan yang mereka terima tersebut karena mereka ta’at kepada-Mu, agar mereka bisa menambah amal ibadah dan amal sholeh dari apa yang telah mereka lakukan.