90. AL MANI’ (Dzat Yang Maha Mencegah) Tidak semua permohonan yang diinginkan hamba-hambaNya dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Sehingga apabila permohonan hamba-Nya justru akan memudhoratkannya, maka permohonan tersebut akan Allah Ta'ala cegah. Karena Allah Ta'ala adalah Al Mani’. Pertama sekali apabila Allah Ta'ala belum menghendaki untuk mengabulkan keinginan hamba-Nya, maka Allah Ta'ala akan mencegah hamba-Nya untuk berdo’a. Karena barang siapa yang berdo’a, maka 50 persen sudah terkabul. Yang kedua, apabila hamba-Nya menghendaki sesuatu dan diapun telah berdo’a, akan tetapi apabila do’anya itu tekabul justru akan memudhoratkannya, maka Allah Ta'ala tidak akan mengabulkan do’anya tersebut. Oleh sebab itu apabila kita memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala tetapi belum terkabul, maka hendaknya kita terima dengan ikhlas. Karena apabila permohonan tersebut dikabulkan oleh Allah justru akan memudhoratkan kita yang bisa menjerumuskan kedalam neraka. Apakah nantinya kita akan menjadi sombong, atau riya’ atau akan melampaui batas (memperturutkan hawa nafsu). Disini bisa kita renungkan begitu besar keinginan Allah Ta’ala untuk menyelamatkan hamba-hambaNya diakhirat kelak. Sehingga berbagai macam cara Allah Ta’ala lakukan agar hamba-hambaNya bisa masuk kedalam syurga-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mau selamat dan selalu memperturutkan hawa nafsunya. Hal ini disebabkan kebanyakan manusia lebih memilih kehidupan dunia yang semu dan sebentar dari pada kehidupan akhirat yang kekal. Dalam hidup ini apabila keinginan kita tidak dikabulkan maka akan kecewa, padahal ini telah dicontohkan dalam kehidupan orang tua dan anak. Sebagai orang tua tidak semua keinginan anaknya dikabulkan. Misal anak kecil minta pisau, tentunya sebagai orang tua tidak diberi, karena akan membawa kemudhoratan baginya. Begitupun juga Allah, apabila keinginan sang hamba akan membawa kemudhoratan maka tidak akan dikabulkan, karena Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semestinya dengan tercegahnya keinginan yang akan memudhoratkan kita harus bersyukur, akan tetapi terkadang kita justru menganggap Allah tidak adil dan tidak mendengar do’a-do’a kita, padahal Allah mencegah itu adalah karena kasih sayangNya yang begitu dalam. Dalam hidup ini berusahalah untuk mempersiapkan diri, jangan berharap sesuatu yang kita belum mampu. Misal kita punya teman yang berhasil dalam berternak, biasanya yang kita lihat adalah keberhasilannya saja, padahal yang seharusnya kita lihat adalah bagaimana dia bisa berhasil. Apa saja yang ia lakukan sehingga disitu kita akan mendengar penjelasan darinya tentang begitu berat perjuangannya. Mungkin pertama dia gagal, dicoba lagi berulang kali sehingga dia menjadi seorang yang ahli dalam berternak. Inilah yang dinamakan istiqomah. Sangat berbeda dengan kita yang selalu berpindah-pindah dan tidak mau istiqomah. Oleh sebab itu jangan belajar bagaimana kita mencari uang, tetapi bagaimana caranya kita sanggup atau mampu memegang uang, sehingga tidak mempengaruhi hati kita. Makanya Allah memberikan rezeki kepada hamba-hambaNya sesuai dengan ukuran, karena apabila diberi lebih akan melampaui batas. Surat Asy Syuura (42) : 27 27. Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat. Ukuran itu kitalah yang menentukan. Ibaratnya ukuran kita gelas, maka sederas apapun hujan maka yang kita dapatkan hanya satu gelas. Dan apabila ingin ditambah lagi, maka upayakan hati kita jangan terpengaruh dengan dunia (zuhud). Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita kecewa dengan apa yang luput dari kita dan jangan terlalu gembira dengan apa yang dapat kita dapatkan. Surat Al Hadiid (57) : 23 23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, Barang siapa yang berdo’a berdasarkan hawa nafsunya, maka do’a-do’anya tersebut tidak dikabulkan oleh Allah. Karena jika do’anya terkabul akan memudhoratkannya (bertambah jauh dari Allah) sehingga akhiratnya akan celaka. Akan tetapi do’a-do’a yang berdasarkan ketaqwaan akan dikabulkan oleh Allah. Dan asma’ Al Mani’ ini hanya berlaku bagi orang-orang yang diinginkan Allah untuk diselamatkan. Oleh sebab itu apabila do’a-do’a kita banyak yang terkabul tetapi tidak membawa keselamatan diakhirat (tidak bertambah dekat dengan Allah), seharusnya kita harus khawatir. Kenapa Al Mani’ Nya Allah tidak berlaku pada diri kita? Karena bagi orang-orang yang tidak diinginkan Allah untuk diselamatkan (hatinya telah dikunci mati) setiap do’a-do’anya akan terkabul walaupun didasari dengan hawa nafsu sebagai bentuk bayaran didunia. Tetapi diakhirat tidak memperoleh apa-apa melainkan neraka. A. Sisi Tafakkurnya Berapa banyak pencegahan Allah Ta’ala yang membuat kita kecewa padahal ternyata merupakan penyelamatan dari Allah Ta’ala? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang bersyukur terhadap pencegahan-Mu dari keinginan-keinginan kami akan sesuatu, karena sesungguhnya pencegahan-Mu itu adalah penyelamatan bagi kami. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa apabila do’anya belum terkabul merupakan sebuah penyelamatan dari Allah Ta'ala. Karena andaikata dikabulkan, maka akan memudhoratkan dirinya. Apakah dia akan menjadi sombong, riya, ujub atau melampaui batas, sehingga dirinya akan celaka diakhirat kelak. D. Sikap Orang Bertaqwa Apabila do’anya belum dikabulkan oleh Allah Ta'ala, maka dia akan mencari penyebabnya. Apakah dia belum siap, apakah dia akan melampaui batas dan lain sebagainya. Setelah itu dia akan berusaha untuk memperbaiki diri. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami dapat bersabar dalam menunggu terpenuhinya keinginan-keinginan kami sampai waktu yang Engkau tentukan. F. Sikap Orang Bertawakkal Kapanpun Allah Ta'ala akan mengabulkan permohonannya, dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Dia tidak mempermasalahkan apakah do’anya terkabul atau tidak. Yang penting dia sudah bermohon dan bertawakkal kepada Allah Ta'ala. Apabila do’anya terkabul, maka dia akan menerimanya dengan ikhlas. Kemudian dia akan menggunakannya untuk keta’atan (beramal sholeh), bukan untuk kebutuhan hawa nafsu. Apabila permohonannya belum dikabulkan, dia akan bersabar dan ikhlas menerimanya. Karena hanya Allah Ta'ala yang tahu apakah pemberianNya akan menjadikan manfaat atau mudhorat. Dia sangat yakin bahwa pencegahan Allah Ta'ala disini bukan berarti Allah Ta'ala dzolim. Akan tetapi karena kasih sayang-Nya kepada hambaNya yang begitu besar, yaitu untuk menyelamatkan hamba-Nya dari kemudhoratan. Apakah Allah Ta'ala akan mengabulkan atau mencegahnya, tidak membuatnya gelisah, kecewa, putus asa atau menyalahkan Allah Ta'ala. Yang penting dia tidak memohon untuk kebutuhan hawa nafsu dan dengan memohon itu dia bisa merasa dekat dengan Allah Ta'ala. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Mani’ Apabila sudah menjadi kholifah, ia selalu mencegah segala sesuatu yang sifatnya membawa kemudharatan bagi dirinya maupun bagi orang lain. Apapun resikonya akan ia hadapi dan ia akan menolak semua permintaan yang menjadikan kemudharatan. Dia betul-betul membenci kemusyrikan dan menentangnya dengan sekuat-kuatnya. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Mani’ Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam mencegah keinginan manusia yang dapat membawa kemudhoratan bagi mereka. Sehingga mereka bisa mengerti bahwa sesungguhnya pencegahan-Mu dari keinginan mereka adalah untuk menyelamatkan mereka.