88. AL GHANIY (Dzat Yang Maha Kaya) 89. AL MUGHNIY (Dzat Yang Maha Memberi Kekayaan) Semua yang ada dilangit dan dibumi adalah kepunyaan Allah termasuk diri kita sendiri. Oleh sebab itu apapun yang kita terima atau apapun yang kita miliki didunia ini semata-mata hanyalah amanah (titipan) dari-Nya. Allah Ta'ala memberikan semua itu dengan tujuan agar kita dapat mengumpulkan amal dengan apa yang dititipkan Allah Ta'ala tersebut sehingga Dia berkenan memasukkan kita kedalam syurga-Nya. Pada dasarnya segala apapun yang diberikan Allah Ta’ala kepada kita adalah berupa amanah yang harus kita kelola dengan baik dan benar sesuai dengan syareat yang telah Dia tentukan. Dan diakhirat nanti kita akan dimintai pertanggung jawabannya. Apabila kita mengelola tidak benar dan tidak sesuai dengan hukum-hukum yang telah Dia tentukan, maka kita akan celaka dan masuk kedalam neraka. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita merasa memiliki segala apapun yang ada didunia ini termasuk diri kita sendiri. Karena merasa memiliki adalah penyebab tumbuhnya segala penyakit-penyakit hati. Sehingga apabila mendapatkan sesuatu merasa karena kemampuan sendiri atau kepintaran sendiri. Seharusnya kita merasa malu apabila amanah-amanah tersebut kita pakai untuk memenuhi kebutuhan hawa nafsu dan mendurhakai Allah Ta’ala. Ibaratnya ada seseorang yang kita beri kebaikan-kebaikan, akan tetapi dibelakang kita dia berkhianat, memusuhi dan bermaksud mencelakakan kita. Akan tetapi kebanyakan orang yang ada dimuka bumi ini merasa memiliki segala apapun yang Allah Ta’ala titipkan (amanahkan) kepadanya. Setelah itu amanah-amanah tersebut akan dia pakai untuk kedurhakaan kepadaNya dan memenuhi segala kebutuhan hawa nafsunya. Didalam kehidupan ini apabila kita membutuhkan sesuatu yang penting bukan untuk kepuasan hawa nafsu, maka bermohonlah hanya kepada Allah Ta’ala. Karena Dia adalah Dzat Yang Maha Kaya Dan Maha Memberi Kekayaan. Dan hal ini tidak hanya masalah harta saja tetapi juga masalah ilmu, tenaga dan lain sebagainya. Jangan sekali-kali kita berharap dan memohon kepada selain Allah Ta’ala, karena selain Allah adalah faqir dan lemah. Dan mereka semua hanyalah sebagai perantara-Nya saja. Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang dua anak, yang satu makan roti dengan keju sedangkan anak yang satunya lagi makan roti tidak pakai keju. Anak yang makan roti tidak pakai keju sangat menginginkan bisa makan roti dengan keju, sehingga dia minta kepada kawannya yang punya keju. Akan tetapi kawannya yang punya keju tersebut memberi syarat agar dia menjadi anjing-anjingan. Karena dia sangat menginginkan bisa makan dengan keju, maka persyaratan tersebut dia penuhi, sehingga dia menjadi anak yang hina (menjadi anjing). Padahal andaikata dia bisa qona’ah (menerima apa adanya), tentunya dia tidak perlu menjadi anjing. Dan ternyata didalam kehidupan ini, hal seperti ini banyak sekali terjadi. Banyak sekali manusia yang menjadikan orang lain sebagai anjing, karena dia merasa memiliki dan merasa sombong. Dan banyak sekali manusia yang rela menjadi anjing karena tidak bisa qona’ah (menerima apa adanya) dan menginginkan kesenangan duniawi. Sehingga dia rela menjadi anjing orang lain agar keinginan hawa nafsunya terpenuhi. Padahal agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah mensejajarkan manusia, tidak memandang apakah dia kaya atau miskin, apakah dia budak atau orang merdeka, apakah dia orang pintar atau orang bodoh, dan lain sebagainya. Karena yang menjadi barometer kemuliaan seseorang disisi Allah Ta'ala adalah keimanan dan ketaqwaannya. Akan tetapi orang-orang kafir Quraisy menentang hal ini. Dan ternyata dikehidupan sekarang ini perilaku orang-orang kafir Quraisy terulang kembali. Sehingga banyak sekali orang-orang yang membedakan status sosial. Banyak sekali orang-orang kaya, orang-orang pintar dan orang-orang yang berkedudukan tinggi tega menjadikan orang lain sebagai anjingnya. Dan banyak sekali orang-orang yang mau menjadi anjing mereka. Pada dasarnya semua yang ada dilangit dan dibumi adalah kepunyaan Allah, tetapi ada sebagian yang diamanahkan (dititipkan) kepada hamba-hambaNya. Bisa berupa harta, ilmu, kekuasaan, dan tenaga. Akan tetapi banyak sekali manusia yang apabila diberi amanah membuat ia menjadi sombong dan apabila bisa memberikan sesuatu kepada orang lain merasa seolah-olah dialah yang mampu memberi. Hal ini disebabkan ia merasa memiliki. Padahal fisik (tubuh) ini adalah kepunyaan Allah dan bisa melakukan sesuatu karena ditolong Allah. Sebagai misal bisa sholat. Pakaian untuk menutup aurat yang memberi adalah Allah, air untuk wudhu, masjid atau rumah sebagai tempat semua adalah pemberian Allah. Atau kita bisa bersedekah yang memberi pekerjaan adalah Allah. Sehingga kita bisa mendapatkan gaji (uang) untuk bersedekah. Oleh sebab itu kalau kita bisa melakukan kebaikan apapun seharusnya bersyukur kepada Allah. Dalam hidup ini tidak ada satupun yang bisa memberikan kekayaan kecuali hanya Allah. Maka dari itu apabila kita tidak memperoleh sesuatu jangan sekali-kali menyalahkan orang lain atau keadaan. Berarti Allah yang Maha Kaya dan Maha Memberi Kekayaan belum memberi kita sesuatu. Begitupun sebaliknya apabila memperoleh sesuatu atau bisa melakukan sesuatu bukan kita yang mampu tetapi karena izin dan pertolongan Allah untuk menjadi perantaraNya. Apabila kita berhadapan dengan Asma’ Al Ghoniy, jangan sekali-kali merasa memiliki. Karena bisa membuat kita sombong, ujub, riya’, iri, dengki, hasud dan lain sebagainya. Akan tetapi apabila berhadapan dengan Asma’ Al Mughniy. kita harus merasa memiliki. Maksudnya kita harus merasa memiliki Allah yang Maha Memberi Kekayaan. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang beriman tidak punya rasa khawatir dan bersedih hati dalam hal keduniawian. Manusia banyak sekali yang terjerumus kedalam kefasikan dikarenakan merasa memiliki. Baik merasa memiliki harta, ilmu, kemampuan, kekuasaan dan lain sebagainya. Dan biasanya orang-orang yang merasa memiliki merasa tidak akan dihisab nanti diakhirat. Sehingga amanah-amanah yang Allah berikan ia pakai untuk kepuasan hawa nafsunya. Padahal kita hanya sebatas dititipi saja. Diperbolehkan kita memakai titipan tersebut sesuai dengan keinginan yang menitipkan. Dan keinginnan-keinginan Allah semuanya terangkum didalam Al Qur’an. Ibaratnya ada orang yang menitipkan motornya kepada kita. Apakah kita yang kaya? Pada dasarnya semua yang ada dilangit dan dibumi adalah kepunyaan Allah. Akan tetapi apabila sudah diamanahkan kepada kita harus kita jaga dan kita kelola dengan sebaik-baiknya. Bahkan Rasulullah berpesan didalam salah satu haditsnya yang menerangkan : “apabila ada orang lain yang akan merampas harta kita harus kita pertahankan sekalipun nyawa sebagai taruhannya”. Rasulullah juga bersabda : “Kekayaan letaknya bukan dimateri (harta benda) tetapi kekayaan letaknya dihati. Oleh sebab itu apabila seseorang sudah memiliki harta yang banyak tetapi masih selalu merasa kurang, maka dia termasuk fakir. Akan tetapi walaupun tidak punya harta tetapi sudah merasa cukup, maka ini namanya kaya. Jadi yang namanya fakir adalah : “Pada saat menginginkan sesuatu tetapi tidak terpenuhi”. Sebetulnya semua manusia adalah kaya jika dilihat dari awal ia lahir yang tidak punya apa-apa. Oleh sebab itu didalam islam diajarkan qonaah (sederhana). Apabila kebutuhan hidup sudah tercukupi dan masih ada lebih inilah yang harus kita keluarkan untuk dijalan Allah. Entah itu dari segi harta, tenaga atau ilmu. Sesuai surat Al Baqarah (2) : 219 219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kita merasa memiliki dalam hidup ini, dan berapa banyak yang kita merasa bahwa hanya Allah yang memiliki semua yang ada dilangit dan dibumi? Seberapa banyak kita memohon kepada Allah, dan seberapa banyak kita memohon kepada selain Allah? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang menganggap bahwa pemberian-Mu itu pada hakikatnya hanyalah titipan bagi kami. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa hanya Allah Ta'ala yang Maha Kaya dan Maha Memberi Kekayaan. Apapun yang dia miliki didunia ini, dia yakini semata-mata hanyalah titipan dari Allah Ta'ala. Dan apapun yang dia butuhkan semata-mata hanya memohon dan bergantung kepada Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia tidak pernah merasa memiliki atas apapun yang ada didunia ini termasuk dirinya sediri. Dia merasa bahwa semua itu kepunyaan Allah Ta'ala yang dititipkan kepadanya. Sehingga dia akan menggunakan segala sesuatu yang dititipkan Allah Ta'ala tersebut untuk melakukan keta’atan kepada-Nya (amal sholeh). Dan apabila dia membutuhkan sesuatu, dia hanya bermohon kepada Allah Ta'ala. Sedikitpun dia tidak mau memohon kepada selain Allah Ta'ala, karena selain Allah Ta'ala adalah faqir, lemah, bodoh dan hanya sebagai perantara-Nya saja. Orang-orang yang bertaqwa tidak pernah memohon sesuatu untuk kebutuhan hawa nafsunya, dan tidak pernah memohon sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk kehidupan akhirat. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami dapat mempergunakan apa-apa yang Engkau titipkan kepada kami sesuai dengan apa yang Engkau syariatkan kepada kami. Karena sesungguhnya segala sesuatu itu adalah milik-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Apabila dia telah menggunakan titipan Allah Ta'ala untuk melakukan amal-amal sholeh, dan hanya kepada Allah Ta'ala dia memohon atas segala sesuatu, maka masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Dia selalu ridho dan ikhlas menerima apapun yang telah ditentukan Allah Ta'ala untuk dirinya. Berapapun yang Allah Ta'ala berikan kepadanya, dia sykuri dan dia terima dengan ikhlas. Kemudian seberapapun yang Allah Ta'ala berikan itulah yang dia gunakan untuk beramal sholeh. Dan dia tidak pernah Thulul Amal (panjang angan-angan). Karena Thulul Amal inilah yang bisa membuat seseorang pusing dan bisa menunda seseorang untuk beramal sholeh. Orang-orang mukhlis apabila bisa berbuat baik kepada orang lain, maka dia yakin bahwa dirinya hanya sebatas perantara Allah Ta'ala saja. Sehingga dia tidak menjadi sombong dan tidak menjadikan orang lain sebagai anjing. Sedangkan masalah amalnya dia serahkan kepada Allah Ta'ala. Orang-orang mukhlis didalam melakukan kebaikan, sedikitpun tidak butuh kepada manusia walaupun hanya ucapan terima kasih. Karena yang dia butuhkan hanya keridhoan Allah Ta'ala. Sesuai Surat Al Insan (76) : 8 dan 9 8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. 9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Akan tetapi bagi orang-orang yang menerima harus mengucapkan terima kasih kepada yang memberi. Karena belumlah bersyukur kepada Allah Ta'ala sebelum mengucapkan terima kasih kepada orang yang dijadikan Allah Ta'ala sebagai perantara-Nya. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Ghaniy Apabila sudah menjadi kholifah, walaupun ia memiliki kekayaan ia tidak pernah merasa memiliki. Karena ketika ia merasa memiliki maka amanah tersebut akan dicabut. Dan ia selalu merasa cukup dengan pemberian-pemberian Allah Ta’ala. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Ghaniy Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam mengingatkan manusia bahwa sesungguhnya pemberian-pemberian yang Engkau berikan kepada mereka pada hakikatnya adalah amanah yang Engkau titipkan kepada mereka. Agar manusia dapat melihat bahwa sesungguhnya segala sesuatu itu adalah milik-Mu. J. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Mughniy Apabila ia sudah menjadi kholifah, maka pemberian-pemberian Allah akan ia berikan kepada orang lain. Karena ia sudah merasa bahagia dijadikan sebagai perantara Allah dengan menyampaikan amanah-amanah yang telah diberikan kepadanya. K. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Mughniy Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk membantu manusia dalam mempergunakan pemberian-pemberianMu kepada mereka agar penggunaannya sesuai dengan apa yang Engkau syareatkan. Sehingga manusia dapat melihat bahwa sesungguhnya mereka hanyalah sebagai perantara-perantaraMu dalam menggunakan pemberian-pemberianMu kepada orang lain.