82. AL 'AFUWWU (Dzat Yang Maha Pemaaf) Allah Ta'ala sangat mudah memaafkan dosa-dosa yang berhubungan langsung kepada-Nya, yang penting hamba-Nya bersungguh-sungguh meminta maaf dan tidak mengulangi lagi. Akan tetapi yang berat adalah dosa hablum minannas, karena disamping memohon ampun kepada Allah Ta'ala juga harus menyelesaikan haq adami (meminta maaf kepada sesama manusia). Andaikata tidak ada pemaafan dari Allah Ta'ala, maka tidak ada satupun manusia yang bisa selamat dan masuk syurga. Karena kita ini dahulunya adalah orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah Ta'ala. Akan tetapi walaupun musyrik adalah dosa yang paling besar, Allah Ta'ala tetap memaafkan. Yang penting kita bertaubat, beriman dan jangan sekali-kali menyekutukan Allah Ta'ala lagi. Dosa ada dua macam, yaitu dosa Hablum Minallah (hubungan langsung kepada Allah) dan dosa Hablum Minannas (hubungan dengan sesama manusia). Oleh sebab itu apabila kita duduk diantara dua sujud ada dua permohonan ampun. Yaitu Robbighfirli (ampunilah dosaku yang sifatnya sesama manusia) dan Wa’fuanni (ma’afkanlah kesalahanku yang sifatnya langsung kepada Allah Ta'ala). Disini Allah Ta'ala lebih mendahulukan Robbigfirli dari pada Wa’fuanni. Hal ini membuktikan bahwa dosa yang berhubungan langsung kepada Allah Ta'ala lebih mudah untuk dimaafkan, dari pada dosa yang berhubungan dengan sesama manusia. Ibaratnya ada orang tua yang memiliki beberapa orang anak. Andaikata salah satu dari anaknya berbuat salah kepadanya, maka orang tua tersebut akan mudah memaafkan, apabila sang anak mau meminta maaf. Akan tetapi jika salah satu dari anaknya berbuat salah kepada anaknya yang lain, maka orang tua belum memaafkan sebelum dia meminta maaf kepada saudaranya yang lain tersebut. Begitupun juga dengan Allah Ta’ala. Dia mudah memaafkan kesalahan-kesalahan hambaNya yang sifatnya langsung kepadaNya. Dengan satu syarat hambanya mau memohon maaf dan memenuhi syarat-syaratnya. Yaitu menyesal, memohon maaf, berjanji tidak melakukan lagi dan berusaha menepati janjinya tersebut. Sedangkan dosa yang berhubungan dengan sesama manusia (Hablum Minannas) terlebih dahulu kita harus meminta maaf kepada orang yang bersangkutan (menyelesaikan Haq Adami), setelah itu baru memohon ampun kepada Allah Ta'ala. Bahkan didalam Al Qur’an yang mengatur tentang Hablum Minannas adalah 80 persen sedangkan yang mengatur Hablum Minallah hanya 20 persen. Dan agama ini diturunkan oleh Allah Ta’ala adalah untuk membenahi akhlaq. Maka dari itu keberhasilan agama seseorang ditentukan oleh akhlaqnya (tingkah lakunya) yang mulia. Apabila akhlaqnya mulia berarti agamanya berhasil, jika akhlaqnya tercela berarti agamanya belum berhasil. Ciri-ciri orang yang beriman adalah akhlaqnya pasti mulia, selalu menyenangkan orang lain dan berusaha untuk tidak menyusahkan serta menyakiti orang lain. Dan orang yang paling sempurna akhlaqnya adalah Rasulullah SAW. Sampai-sampai Allah Ta’a memuji beliau didalam Al Qur’an. Surat Al Qalam (68) : 1 – 4 1. Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, 2. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. 3. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. 4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Hal ini disebabkan karena kehidupan beliau sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang telah Allah Ta’ala turunkan. Oleh sebab itu Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengikuti teladan Rasulullah SAW. Surat Al Ahzab (33) : 21 21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Sebetulnya dosa-dosa kita yang berhubungan langsung kepada Allah Ta'ala (Hablum Minallah) jauh lebih banyak dibandingkan dengan dosa yang berhubungan dengan sesama manusia (Hablum Minannas). Selama ini Allah Ta'ala selalu memberikan karunia-karuniaNya kepada kita, akan tetapi karunia-karunia tersebut justru kita balas dengan kedurhakaan-kedurhakaan kepada-Nya. Padahal Allah Ta'ala memerintahkan kepada kita untuk banyak-banyak berdzikir (ingat) kepada-Nya baik diwaktu berdiri, duduk dan berbaring. Allah Ta'ala juga memerintahkan kepada kita agar bertasbih (mensucikan-Nya) diwaktu pagi, petang, siang, malam. Akan tetapi semua itu jarang sekali kita lakukan. Berarti dosa kita kepada Allah Ta'ala sungguh sangat banyak. Yang dimaksud mengingat Allah Ta'ala adalah mengingat nikmat-nikmatNya yang telah begitu banyak Dia berikan kepada diri kita, sehingga kita bisa bersyukur kepada-Nya. Sedangkan yang dimaksud mensucikan Allah Ta'ala adalah tidak berburuk sangka kepada-Nya dan tidak berkeluh kesah didalam menerima ketentuan-ketentuanNya. Dan tidak melakukan perkataan atau perbuatan tercela yang bisa mengotori kesucian Allah Ta'ala. Didalam hidup ini banyak sekali orang-orang yang tidak bisa mensucikan Allah Ta'ala, baik dari segi hati, perkataan, fikiran dan perbuatan. Dari segi hati banyak sekali orang-orang yang memiliki hati yang busuk (kotor). Dari segi perkataan banyak sekali perkataan-perkataan buruk yang menyakitkan orang lain. Dari segi fikiran banyak sekali orang-orang yang memiliki fikiran kotor dan jahat. Dari segi perbuatan banyak sekali orang-orang yang melakukan sesuatu yang tercela (dosa) yang bisa membuat Allah Ta'ala terhina. Seperti orang-orang yang meminta sumbangan dijalan-jalan untuk membangun masjid Allah Ta'ala. Padahal Allah Ta'ala adalah Maha Kaya, kenapa untuk membangun masjidnya harus meminta-minta ditengah jalan? Sehingga orang-orang yang beragama lain akan menghina Allah Ta'ala. Dan banyak sekali orang-orang yang tidak mau menerima ketentuan-ketentuan Allah Ta'ala, sehingga dia berkeluh kesah dan mengadukan kesusahannya tersebut kepada selain Allah Ta'ala. Dan yang lebih fatal lagi dia mengadukan kesusahannya tersebut kepada musuh-musuh Allah Ta'ala. Sehingga Allah Ta'ala menjadi terhina dengan perbuatannya tersebut. Akan tetapi walaupun demikian, Allah Ta'ala sangat mudah memafkan apabila kita mau memohon maaf kepada-Nya. Yang penting setelah meminta maaf kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri. Karena Allah Ta'ala tahu persis kelemahan-kelemahan manusia yang Dia ciptakan sendiri. Apabila kita tidak mau meminta maaf, maka Allah Ta'ala akan berfirman kepada Malaikat : “Wahai Malaikat-Ku, lihatlah hamba-hambaKu itu. Mereka telah melupakan-Ku dan tidak mau meminta maaf kepada-Ku. Maka dihari kiamat kelak Aku akan melupakan mereka”. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kesalahan-kesalahan yang kita lakukan kepada Allah Ta'ala, seperti tidak mensucikan Allah Ta'ala, tidak berdzikir kepada-Nya, dan termasuk tidak mensucikan Allah Ta'ala adalah tidak menerima takdir yang telah Dia tentukan terhadap diri kita, kemudian kita mau memohon maaf kepada-Nya? dan sebarapa banyak kesalahan-kesalah tersebut kita lalaikan sehingga tidak mau memohon maaf kepada-Nya? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah jadikanlah kami hamba-hambaMu yang selalu mensucikan Engkau dan maafkanlah kami apabila kami selalu mengotori Engkau. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa apabila dia mau meminta maaf, niscaya Allah Ta'ala akan memaafkannya. Yang penting kesalahan-kesalahannya memang sebuah kelalaian, bukan sesuatu yang disengaja. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia selalu menjaga dirinya agar tidak sampai berbuat salah kepada Allah Ta'ala. Dan apabila tanpa sengaja dia terlakukan kesalahan, maka dia segera meminta maaf kepada Allah Ta'ala dan berusaha untuk memperbaiki diri. Dia akan banyak-banyak mengingat Allah Ta'ala dan mensucikan Allah Ta'ala, baik dengan hati, lisan dan perbuatan. Dan dia selalu berusaha melakukan sesuatu yang bisa membuat Allah Ta'ala senang (ridho). E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami selalu dapat mengingat Engkau didalam kehidupan kami ini. F. Sikap Orang Bertawakkal Dia sangat berharap agar dirinya tidak termasuk kedalam golongan orang-orang yang lalai dalam mengingat Allah Ta'ala. Oleh sebab itu apabila dia telah berusaha untuk selalu mengingat Allah Ta'ala, kemudian dia-pun berserah diri kepadaNya. Dia sangat yakin dengan janji Allah Ta'ala, bahwa apabila dia ingat Allah Ta'ala didunia, maka Allah Ta'ala akan ingat kepadanya diakhirat kelak. Oleh sebab itu dia selalu berusaha untuk mengingat Allah Ta'ala, dan sangat berharap agar tidak termasuk orang-orang yang lalai dalam mengingat Allah Ta'ala. Kemudian setelah itu dia berserah diri kepada-Nya. Karena dia sangat khawatir Allah Ta'ala tidak mau mengingatnya diakhirat kelak. Apabila kita ingin dikenal dan diingat oleh Allah Ta'ala diakhirat kelak, maka hendaknya kita banyak mengingat Allah Ta'ala didunia. Dan apabila terlalaikan dari mengingat Allah Ta'ala, hendaknya kita segera memohon maaf kepada-Nya dan memperbaiki diri. Karena orang-orang yang melakukan kesalahan atau dosa adalah pada saat dia tidak ingat kepada Allah Ta'ala. Andaikata seseorang selalu mengingat Allah Ta'ala, maka dia akan merasa malu dan takut untuk melakukan dosa. Nabi Sulaiman As adalah seorang raja yang paling besar dan orang yang paling kaya diseluruh dunia. Karena beliau diberi kerajaan dan kekayaan oleh Allah Ta'ala yang tidak ada bandingannya, baik orang-orang yang sebelum beliau atau sesudah beliau. Akan tetapi semua itu tidak pernah membuat beliau lupa dari mengingat Allah Ta'ala. Pernah suatu ketika beliau senang melihat kuda-kuda sehingga beliau lupa mengingat Allah Ta'ala dalam waktu yang tidak lama. Kemudian beliau sangat merasa bersalah dan memohon maaf kepada Allah Ta'ala. Lalu kuda-kuda itupun beliau potong. Sesuai surat Shaad (38) : 31-33 31. (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. 32. Maka ia berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan". 33. "Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku". Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. Akan tetapi diri kita ini justru selalu sibuk dengan harta benda dan yang kita ingat adalah selain Allah Ta'ala. Mungkin dalam sehari hanya sedikit sekali kita mengingat Allah Ta'ala bahkan mungkin tidak sama sekali. Yang kita didalam hidup ini adalah harta, pekerjaan, wanita, anak-anak, uang, dan lain sebagainya. Bagaimana mungkin Allah Ta'ala akan mengingat kita diakhirat kelak, jika kita tidak mau mengingat-Nya didunia? Oleh sebab itu hendaknya kita buang kesenangan duniawi ini dari dalam hati kita, sehingga kita selalu ingat dengan Allah Ta'ala. Makanya Imam Al Ghazali berpesan : “Bagaimana mungkin akan tergambar Allah Ta'ala dihatimu, jika masih banyak gambar-gambar yang lain? Apabila kecintaanmu kepada dunia 50 persen, maka Tuhanmu hanya 50 persen, jika kecintaanmu kepada dunia 90 persen, maka Tuhanmu hanya 10 persen. Begitu juga dengan sebaliknya apabila kecintaanmu kepada dunia hanya 10 persen, maka Tuhanmu adalah 90 persen. Apabila Engkau ingin mencintai Tuhanmu 100 persen, maka hilangkan kecintaan kepada dunia 100 persen. Sehingga hatimu hanya terisi dengan Allah Ta'ala”. Rasulullah SAW Bersabda : “Barang siapa mencintai sesuatu, maka bersiap-siaplah menjadi hamba sesuatu itu”. Maksudnya adalah, apabila kita mencintai sesuatu, maka kita akan melakukan apapun yang diinginkan oleh sesuatu yang kita cintai tersebut. Sebagai contohnya kita mencintai anak. Apapun yang diinginkannya akan selalu kita penuhi walaupun melanggar hukum-hukum Allah Ta'ala. Karena kita takut kehilangannya. Apabila kita mencintai wanita, maka semua keinginannya akan kita penuhi, walaupun melanggar hukum-hukum Allah Ta'ala. Karena kita takut kehilangannya. Apabila kita mencintai harta, apapun akan kita lakukan untuk mendapatkannya walaupun harus melanggar hukum-hukum Allah Ta'ala. Begitu juga apabila kita mencintai Allah Ta'ala, maka apapun keinginan-Nya akan kita ikuti dan kita sangat takut ditinggalkan-Nya. Sehingga segala perintahNya akan kita jalankan dan segala laranganNya akan kita tinggalkan, karena kita takut Dia murka kepada kita. Solusi agar kita bisa membuang kecintaan kepada dunia adalah banyak-banyak mengingat mati dan mengingat hari akhir. Karena Rasulullah SAW telah meninggalkan dua nasehat, yang satu dapat berbicara dan yang satu lagi diam. Nasehat yang dapat berbicara adalah Al Qur’an dan nasehat yang diam adalah mengingat mati”. Orang-orang yang banyak mengingat mati, maka kehidupan dunia ini tidak indah didalam hatinya, sehingga dia-pun tidak mencintai kehidupan dunia. Akan tetapi bagi orang-orang yang lupa mengingat mati, maka dunia ini sangat menarik dan indah didalam hatinya, sehingga dia sangat cinta kepada dunia dan panjang angan-angan. Oleh sebab itu hendaknya kita banyak mengingat mati, karena jika Allah Ta'ala masih menghendaki kita hidup didunia, maka Allah Ta'ala pasti akan menjamin (mencukupi) segala kebutuhan kita. G. Sikap Orang Mukhlis Dia sangat faham bahwa apabila banyak mengingat Allah Ta'ala maka akan tumbuh ketenangan didalam hatinya. Oleh sebab itu apabila hatinya gelisah, maka dia terima dengan ikhlas bahkan bersyukur. Karena dengan kegelisahan itulah dia menjadi sadar bahwa dirinya sedikit sekali mengingat Allah Ta'ala. Kemudian dia akan berusaha untuk memperbanyak mengingat Allah Ta'ala. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Afuwwu Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan mudah sekali memaafkan kesalahan orang lain. Akan tetapi jika ada orang yang berbuat salah kepada orang lain, maka ia akan membantunya menyelesaikan masalah tersebut. Ia mudah memaafkan jikalau dirinya sendiri yang didzolimi. Akan tetapi ketika Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mengorbankan jiwanya untuk membela. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Afuwwu Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam mengingatkan manusia agar selalu mensucikan Engkau, dan mencegah manusia dari segala sesuatu yang bisa mengotori kesucian Engkau. Agar manusia dapat melihat bahwa sesungguhnya banyak sekali perbuatan-perbuatan mereka yang dapat mengotori kesucian Engkau.