73. AL AWAL (Dzat Yang Maha Mengawali) 74. AL AKHIR (Dzat Yang Maha Akhir) Allah adalah Dzat Yang Mengawali setiap kondisi yang terjadi dilangit dan dibumi, termasuk dalam diri kita sendiri. Setiap apapun yang kita lihat, yang kita nikmati, segala sesuatu yang bisa kita lakukan adalah diawali dengan Allah Ta’ala yang menciptakanNya. Oleh sebab itu janganlah merasa sombong apabila dapat berbuat sesuatu, karena Allahlah yang mengawali, mengajarkan kepada kita, memberikan segala sesuatunya kepada kita sehingga kita dapat melakukan sesuatu tersebut. Al Awwal ini juga sebagai jalan untuk mengenali diri sendiri, sehingga nantinya kita bisa menjadi seorang hamba yang tahu diri. Manusia diciptakan dari setetes air yang hina dan pada saat lahir dimuka bumi ini dalam keadaan fakir, lemah, bodoh, dan serba kekurangan. Disinilah Allah Ta’ala mengawali pemberianNya sebelum ada perantara-perantaraNya. Oleh sebab itu apabila kita menjadi orang yang pintar, kuat, kaya dan lain sebagainya, bukan karena kemampuan diri sendiri, tetapi Allah yang memberikan. Dan hendaknya kita menjadi orang yang pandai bersyukur. Bisa kita bayangkan andaikata masih bayi tidak diberi rizki oleh Allah Ta’ala, maka kita tidak bisa hidup. Begitupun juga andaikata Allah Ta’ala mencabut rasa kasih sayang kepada orang tua kita, maka kita akan sengsara. Asma’ Al Awwal ini ada dua sisi pemahaman. Sisi pertama apabila kita bisa berbuat baik kepada orang lain, seperti bershadaqah, berinfaq, membantu kesusahannya dan lain sebagainya, maka kita hanya sebagai perantara Allah Ta’ala saja. Kita bisa melakukan semua itu karena terlebih dahulu Allah Ta’ala yang memberikan sesuatu kepada diri kita. Andaikata Allah tidak memberi kita harta, mana mungkin kita bisa bershadaqah? Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita merasa sombong dan merasa mampu. Seharusnya kita sangat bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah menunjuk dan memilih kita sebagai perantaraNya. Karena jika Allah Ta’ala menghendaki, bisa saja Dia menunjuk atau memilih orang lain. Akan tetapi karena kasih sayangNya, Dia menunjuk kita sebagai perantaraNya, sehingga kita mendapatkan amal. Pada dasarnya orang yang lebih baik, yang lebih kaya, lebih pintar, lebih kuat dari pada kita sungguh sangat banyak. Akan tetapi kenapa Allah memilih atau menunjuk kita? Oleh sebab itu apabila kita dijadikan atau dipilih oleh Allah Ta’ala sebagai perantaraNya, maka hal itu merupakan suatu anugerah yang sangat besar yang diberikan Allah Ta’ala kepada kita. Didalam hidup ini hendaknya kita selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar ditunjuk atau dipilih sebagai perantaraNya didalam memberikan kebaikan, rizki, petunjuk, ilmu kepada hamba-hambaNya yang lain. Contoh ungkapan do’a adalah : “Yaa Allah Yaa Tuhan kami, jadikanlah kami sebagai perantara-perantaraMu didalam Engkau memberikan hidayah, ilmu dan kebaikan kepada hamba-hambaMu yang lain”. Karena didalam salah satu hadits dijelaskan, apabila kita memberi minum orang yang berbuka puasa, maka kita akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa berkurang sedikit juapun. Apabila kita memberikan baju kepada orang lain untuk melakukan sholat, maka selama baju itu dipakai untuk sholat, kita akan mendapatkan bagian pahalanya. Apabila kita menjadi menjadi perantara Allah untuk memberikan hidayah kepada orang lain, maka hal itu lebih baik dari pada bumi dan langit beserta isinya. Begitupun juga dengan hal-hal yang lain. Akan tetapi apabila kita tidak mau menerima tawaran amal dari Allah Ta’ala untuk menyampaikan kebaikan kepada hamba-hambaNya yang lain, maka Allah Ta’ala akan mengganti kita dengan orang lain yang tidak seperti kita. Sesuai dengan Surat Muhammad (47) : 38 38. Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya). Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu ini. Hal ini membuktikan bahwa manusia hanya sebagai perantara Allah Ta’ala saja, apabila tidak mau menerimanya pasti akan diganti dengan orang lain. Karena apabila Allah Ta’ala menghendaki sesuatu tidak ada satupun yang bisa merubahnya atau menolaknya. Bukan berarti gara-gara ada manusia yang tidak mau menjadi perantaraNya sehingga kehendak Allah Ta’ala menjadi gagal. Oleh sebab itu amal apapun yang kita lakukan sebetulnya adalah untuk kebaikan diri kita sendiri, karena kita telah dipilih oleh Allah Ta’ala sebagai perantaraNya. Apabila kita bersedekah, sebetulnya kita yang harus berterima kasih kepada orang yang mau menerima. Jangan sekali-kali kita mengharapkan ucapan terima kasih dari orang yang menerima sedekah tersebut. Firman Allah dalam Surat Al Insan (76) : 8 – 10 8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. 9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah Ta'ala. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. 10. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Sebenarnya setiap saat kita selalu diberi tawaran-tawaran amal oleh Allah Ta’ala. Tergantung diri kita apakah mau menerimanya atau tidak? Barang siapa yang tidak mau menerima tawaran Allah Ta’ala itulah orang yang kikir terhadap dirinya sendiri. Karena apa-apa yang dia keluarkan untuk orang lain itulah yang akan menjadi miliknya diakhirat kelak, sedangkan apa yang dia manfaatkan untuk dirinya sendiri justru akan menjadi hisabnya kelak diakhirat. Mengapa kita tidak mau melakukan perbuatan baik? Oleh sebab itu sungguh sangat bodoh bagi orang-orang yang sombong dan riya’ (pamer) didalam melakukan kebaikan-kebaikan. Karena semua kebaikan yang dia lakukan adalah untuk kebutuhan dirinya sendiri bukan untuk orang lain. Memang kalau kita pahami secara hukum dunia, apabila kita memberikan sesuatu kepada orang lain, maka orang lain itu yang mendapatkan kemanfaatan. Akan tetapi kalau kita pahami dengan hukum akhirat, maka sebetulnya kita yang harus bersyukur dan berterima kasih. Karena kebaikan yang telah kita lakukan tersebut akan menjadi amal diakhirat kelak, sehingga bisa memasukkan kita kedalam syurga. Makanya bagi orang-orang yang sombong tidak akan masuk syurga dan orang-orang yang riya’ semua amalnya akan hapus. Firman Allah dalam Surat Al Baqarah (2) : 264 264. Hai Dia, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Kebanyakan orang takut untuk melakukan kebaikan karena khawatir hartanya akan berkurang atau hidupnya akan sengsara. Padahal rizki yang telah Allah Ta’ala jamin tidak akan berkurang atau habis sebelum ajalnya tiba. Allah Ta’ala pasti akan mengganti dan rizki yang telah Allah Ta’ala jamin tidak akan berkurang. Sedangkan sisi yang kedua adalah bagi orang-orang yang menerima. Bagi orang-orang yang menerima, jangan sekali-kali tamak (berharap) kepada manusia, karena semua manusia hanya sebagai perantara-perantara Allah Ta’ala saja. Andaikata Allah menghendaki untuk memberi kita sesuatu, maka Dia akan membuka hati orang-orang yang dikehendakiNya untuk memberikan sesuatu tersebut kepada diri kita. Begitupun juga sebaliknya apabila Dia tidak menghendaki untuk memberikan sesuatu kepada diri kita, maka Allah Ta’ala akan menutup hati orang-orang sehingga tidak ada satupun yang mau memberi kita. Oleh sebab itu hendaknya kita berharap dan bergantung hanya kepada Allah Ta’ala, jangan sekali-kali bergantung kepada manusia yang lemah dan faqir. Apabila kita bergantung kepada manusia, diibaratkan seperti seorang kekasih yang berharap agar tukang pos memberikan surat kepadanya. Padahal tukang pos hanya bertugas mengantarkan surat saja, sedangkan yang mengirim surat adalah kekasihnya. Setelah kita paham dengan Al Awwal, maka selanjutnya kita harus paham dengan Al Akhir (Dzat Yang Maha Akhir). Maksudnya adalah, Allah Ta’ala yang menentukan akhir dari setiap kondisi dan semua makhluq yang diciptakan Allah pasti akan berakhir. Oleh sebab itu apabila kita tidak bisa amanah menjadi perantara-perantara Allah Ta’ala, maka Dia akan mengakhirkan amanahnya kepada diri kita. Begitupun juga sebaliknya apabila kita berharap kepada selain Allah (manusia), maka Allah akan mengakhirkan dan menutup pintu-pintu hati perantara-Nya agar tidak memberikan sesuatu kepada kita. Dan yang paling penting Allah Ta'ala yang mengawali kehidupan kita dan suatu saat nanti Allah Ta'ala pasti akan mengakhiri kehidupan kita. Dan dihari akhir nanti semua manusia akan dimintai pertanggung jawabannya atas segala apapun yang telah dia kerjakan selama hidup dimuka bumi. Didalam hidup ini banyak sekali orang-orang yang tidak yakin dengan Al Awwal dan Al Akhir. Sehingga apabila diberi awal yang senang, dia lupa bahwa suatu saat Allah Ta'ala akan mengakhirkan kesenangan tersebut. Sehingga dia cenderung sombong dan mengikuti hawa nafsu. Mungkin sekarang kita kaya, jangan sekali-kali merendahkan orang lain, karena suatu saat nanti kita bisa menjadi miskin dan orang lain yang kita rendahkan bisa berubah menjadi kaya. Begitupun juga apabila sekarang kita menjadi orang baik, jangan sekali-kali merendahkan orang lain yang masih belum baik. Karena siapa tahu esok hari dia bisa berubah menjadi lebih baik dari pada kita. Oleh sebab itu pepatah mengatakan, bahwa hidup ini seperti roda berputar. Tekadang diatas dan terkadang dibawah. Pada saat diatas, jangan sekali-kali sombong dan melampaui batas. Karena suatu saat nanti pasti akan berada dibawah. Begitupun juga apabila berada dibawah, jangan sekali-kali bersedih dan berkeluh kesah. Karena suatu saat nanti akan berada diatas. Akan tetapi didalam kehidupan ini, banyak sekali orang-orang yang apabila berada diatas, dia menjadi sombong, merendahkan orang lain dan melampaui batas. Dan pada saat dia berada dibawah, dia akan menjadi stres, bersedih hati dan berkeluh kesah. Dan banyak sekali orang-orang yang apabila berada dibawah, dia akan bersedih hati dan berkeluh kesah. Kemudian ketika Allah Ta'ala menjadikannya berada diatas, maka dia akan menjadi sombong dan melampaui batas. Padahal semua itu hanya permainan dunia. Tujuan Allah Ta'ala memberikan semua itu adalah sebagai ujian (balak dan nikmat), agar kiranya sang hamba bisa berbuat amal sholeh. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kita kecewa kepada Allah Ta'ala, apabila Allah Ta'ala mengawali segala sesuatu kepada diri kita yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan? dan seberapa banyak kita kecewa kepada Allah Ta'ala tentang segala sesuatu yang Allah Ta'ala akhirkan kebaikannya dengann sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang selalu ridho atas apa yang Engkau tentukan bagi kami. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa segala sesuatu berawal dari Allah Ta'ala dan akan diakhirkan oleh Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia selalu berfikir bahwa didalam kesulitan dan kesenangan pasti ada kebaikan didalamnya. Oleh sebab itu apabila dia diberi kesulitan, maka dia yakin bahwa kesulitan itu pasti akan ada akhirnya, sehingga dia dapat bersabar. Dan dengan bersabar itu dia akan mendapatkan pahala. Dan apabila dia diberi kelapangan, maka dia bersyukur dan tidak sombong. Setelah itu dia akan memanfaatkan kelebihan tersebut untuk melakukan amal-amal sholeh, sehingga dia-pun mendapatkan pahala. Oleh sebab itu Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh beruntung orang-orang mukmin. Apapun yang diberikan Allah Ta'ala menjadikan kebaikan bagi dirinya. Apabila diberi kesusahan dia bersabar, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Dan apabila diberi kesenangan dia bersyukur, maka hal itu juga kebaikan baginya”. Rasulullah SAW juga bersabda : “Ingatlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara. Ingat hidup sebelum mati, ingat sehat sebelum sakit, ingat lapang sebelum sempit, ingat waktu muda sebelum tua dan ingat kaya sebelum miskin”. Hal ini membuktikan ada awal dan ada akhir dan semua ada kebaikan didalamnya. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami dapat bersabar apabila Engkau berikan kesempitan, dan tolonglah kami agar dapat bersyukur apabila Engkau berikan kelapangan. F. Sikap Orang Bertawakkal Yang penting dia telah berusaha untuk menerima kesusahan dengan bersabar, dan menerima kesenangan dengan bersyukur. Sedangkan masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apapun yang Allah Ta'ala berikan kepadanya. Apakah Allah Ta'ala akan memberikan awal yang senang atau awal yang susah. Apakah Allah Ta'ala akan merubah awal yang susah itu menjadi akhir yang senang atau tidak. Karena semua itu ada kebaikan didalamnya. Dengan kata lain dia tidak pernah mempermasalahkan awal yang sulit atau awal yang lapang. Awal yang miskin atau awal yang kaya. Terserah Allah Ta'ala akan memberikan apa. Yang dia fikirkan adalah bagaimana bisa mensikapinya dengan benar sehingga bisa memperoleh kebaikan didalamnya. Orang-orang mukhlis tidak mempermasalahkan kesusahan atau kesenangan yang Allah Ta'ala berikan. Yang dia fikirkan bagaimana bisa selalu bertaqwa kepada Allah Ta'ala. Diberi senang dia bertaqwa, diberi susah juga tetap bertaqwa. Karena semua itu hanyalah permainan Allah Ta'ala untuk menguji hamba-hambaNya dan untuk memberikan amal kepada hamba-hambaNya. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Awwal Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia selalu berfikir tentang kondisi dirinya, sehingga menjadikan ia tahu diri. Bahwa apa-apa yang ia terima adalah datangnya dari Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengawali seluruh pemberian-pemberian yang ia terima. Jadi ia tidak pernah mengakui apapun yang dapat ia lakukan dan yang ia terima, karena ia tidak bisa seperti ini apabila tidak diawali oleh Allah Ta’ala. Misalnya ia bisa membuat gelas. Sebetulnya ia hanya bisa mengelola saja, karena apabila kita perhatikan gelas ini pasti ada bahan baku yaitu pasir kuarsa, dan bahan baku tersebut yang menciptakan adalah Allah. Jadi apabila ia melakukan sesuatu, ia selalu berfikir karena adanya pertolongan Allah atas dirinya sehingga ia tidak pernah merasa mampu. Dan ia juga akan selalu bersyukur kepada Allah, dan ia tidak pernah mengakui apa yang dapat ia lakukan karena kepandaian dirinya sehingga ia tidak menjadi sombong. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Awwal Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk membimbing manusia serta mengingat mereka agar dapat ridho atas ketentuan yang Engkau berikan kepada mereka. Sehingga mereka dapat melihat bahwa awal dan akhir apakah itu kesempitan atau kelapangan ada kebaikan didalamnya, yaitu apabila mereka diberikan kesempitan dan mereka bersabar itu adalah suatu kebaikan, dan apabila Engkau berikan kelapangan lalu mereka bersyukur, maka hal itu juga ada kebaikan bagi mereka. J. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Akhir Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia selalu berfikir bahwa segala sesuatu itu pasti akan berakhir dan ia tidak tahu kapan akan berakhir. Sehingga ia selalu berusaha dengan sungguh untuk memperbanyak amal-amal ibadah dan amal-amal sholeh. Dan didalam melakukannya ia merasa seolah-olah inilah amal yang terakhir, sehingga diperbagusinya amal-amalnya tersebut sebatas apa yang ia mampu. Sebagai contoh ia sholat, ia merasa inilah sholat yang terakhir sehingga ia berusaha menyempurnakan sholatnya tersebut dengan sebaik-baiknya. K. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Akhir Ya Allah jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk membimbing manusia serta mengingatkan mereka bahwa segala sesuatu akan ada akhirnya. Sehingga mereka tidak berputus asa dari rahmat-Mu dan agar mereka dapat melihat bahwa segala sesuatu tidaklah langgeng dan pasti akan Engkau akhirkan.