71. AL MUQODDIM (Dzat Yang Maha Mendahulukan) 72. AL MU’AKHIR (Dzat Yang Maha Mengakhirkan) Allah Ta’ala selalu mendahulukan petunjuk-petunjukNya dari pada peringatanNya, mendahulukan kewajibanNya dari pada hakNya. Terlebih dahulu Allah Ta’ala memberikan fisik, tenaga, pakaian, makan dan lain sebagainya kepada kita, setelah itu baru dituntut untuk melakukan ibadah kepadaNya. Terlebih dahulu Allah Ta’ala memberikan petunjuk-petunjukNya yang ada didalam kitab-kitabNya, sunnah-sunnah RasulNya dan mengirimkan utusan-utusanNya, setelah itu baru akan memberikan peringatan-peringatanNya. Dan apabila peringatan-peringatan tersebut diabaikan oleh hamba-hambaNya sampai berulang-ulang kali, dan sudah tidak ada lagi kemungkinan dia akan bertaubat, barulah Allah Ta’ala akan menurunkan azabNya. Oleh sebab itu apabila manusia tidak mau beriman dan melakukan ketaqwaan, maka manusia itu sendiri yang salah. Karena Allah Ta’ala telah menurunkan sarana dan prasarananya untuk memudahkan dia dalam beribadah kepadaNya. Sehingga apabila manusia celaka dan masuk neraka, maka manusia itu sendirilah yang salah yang tidak mengikuti petunjuk-petunjuk Allah Ta’ala. Sehingga diakhirat nanti kita tidak bisa menuntut atau menyalahkan Allah Ta’ala sedikitpun. Didalam hidup ini apabila kita ingin berbuat baik kepada orang lain, maka kita akan melihat terlebih dahulu apakah orang lain tersebut pernah berbuat baik kepada kita atau tidak. Akan tetapi Allah Ta’ala tidak seperti itu. Dia akan memberikan yang terbaik untuk hamba-hambaNya tidak memandang apakah hambaNya berbuat baik atau tidak. Dan sedikitpun Allah Ta’ala tidak mengharapkan balasan apapun dari hamba-hambaNya. Ibaratnya kita mempunyai seorang karyawan. Kita telah memberinya gaji (mencukupi hak-haknya), tetapi dia tidak mau bekerja kepada kita. Bahkan dia bekerja kepada orang lain, padahal yang memberi gaji kepadanya adalah kita. Tentunya kita akan marah kepadanya. Begitupun juga antara kita dengan Allah Ta’ala. Allah Ta'ala telah mencukupi segala kebutuhan kita selama hidup didunia, akan tetapi kita tidak mau bekerja kepadaNya, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bahkan kita justru bekerja kepada selain Allah Ta'ala yaitu memperturutkan hawa nafsu. Dan kalaupun kita mau bekerja, maka kita akan meminta supaya diberi gaji lagi. Padahal seharusnya kita memurnikan keta’atan hanya kepada Allah Ta'ala dan mengharapkan balasan diakhirat kelak. Terlebih dahulu Allah Ta’ala memberi kita fisik, tenaga, pakaian, makan dan lain sebagainya, barulah kita dituntut untuk melakukan ibadah kepadaNya. Terlebih dahulu Allah Ta’ala memberikan petunjuk-petunjukNya, memberikan contoh orang-orang yang melakukan petunjuk tersebut yaitu para Nabi dan RasulNya, baru Dia memberikan peringatan-peringatanNya. Dan apabila peringatan-peringatan tersebut diabaikan oleh hamba-hambaNya sampai berulang-ulang kali, barulah Allah Ta’ala akan menurunkan azabNya. Semua kebutuhan kita telah dicukupi oleh Allah Ta'ala, sehingga tidak ada alasan untuk tidak melakukan keta’atan kepada-Nya. Oleh sebab itu Allah Ta'ala sering mengingatkan didalam Al Qur’an agar kita selalu mengingat nikmat-nikmat yang telah Dia berikan. Setelah itu hendaknya kita bersyukur dan bertaqwa kepada-Nya. Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita fisik yang kuat, waktu yang luang serta kesempatan. Apabila tidak kita manfaatkan untuk melakukan keta’atan berarti diri kitalah yang salah. Padahal Allah memberi fisik yang sehat merupakan nikmat yang sangat besar. Walaupun harta banyak tetapi fisik sakit lebih baik harta sedikit yang penting fisik sehat. Andaikata kita diberi uang satu milyar tetapi mata buta dengan diberi uang secukupnya tetapi mata bisa melihat milih yang mana? Akan tetapi kita tidak pernah bersyukur. Jadi nikmat sehat merupakan pendahuluan yang Allah berikan sehingga bisa kita pakai untuk melakukan keta’atan. Allah tidak menuntut apa-apa yang tidak Dia berikan. Akan tetapi apabila sudah diberi pasti akan dituntut. Karena apapun yang telah Dia berikan akan ada pertanggung jawabannya. “kita pakai untuk apa”? Kalau kita memahami Al Muqoddim juga harus memahami Al Mu’akhir. Maksudnya Allah telah memberikan apapun yang kita butuhkan. Akan tetapi apabila tidak kita gunakan dengan benar sesuai syareat yang telah Dia tentukan maka Al Mu’akhirNya Allah akan berlaku. Ibaratnya kita bekerja disuatu perusahaan. Kita selalu menuntut agar diberi gaji tepat waktu, segala fasilitas harus dipenuhi tetapi kita tidak mau bekerja dengan baik. Tentunya pihak perusahaan akan memberikan peringatan kepada kita. Dan apabila dengan peringatan tersebut tidak membuat kita berubah, maka pihak perusahaan akan memecat kita. Begitupun juga kepada Allah. Selama ini kita selalu menuntut Allah agar diberi rizki yang banyak dan apabila tidak diberi berburuk sangka. Akan tetapi peraturan-peraturan Allah tidak pernah kita patuhi. Tentunya Allah akan memberikan peringatan kepada kita. Dan apabila dengan peringatan tersebut kita tidak mau berubah maka Allah akan memecat kita. Sehingga kita menjadi orang kafir Kalau dipecat perusahaan paling menjadi pengangguran, tetapi kalau dipecat oleh Allah kita akan hidup sengsara dunia dan akhirat. Oleh sebab itu hendaknya kita syukuri besar kecilnya pemberian Allah. Dan hendaknya kita gunakan untuk melakukan keta’atan kepadaNya. Karena orang-orang yang tidak mau menggunakan pemberian-pemberian Allah untuk melakukan keta’atan berarti mereka adalah penyembah hawa nafsu. Sedangkan tanda-tanda orang yang menyembah hawa nafsunya adalah malas. Karena nafsu selalu ingin enak. Apabila kita tidak mau menerima dan menjalankan petunjuk-petunjuk yang Allah berikan, maka kita akan dibiarkan sesat. Sehingga apabila kita sudah termasuk orang-orang yang sesat dan tidak mau bertaubat serta memperbaiki diri maka kita akan mati dalam keadaan su’ul khotimah (akhir yang buruk). Oleh sebab itu apakah seseorang matinya dalam keadaan khusnul khotimah atau su’ul khotimah bergantung dari perbuatannya selama hidup. Dengan kata lain apabila segala pemberian Allah kita pakai untuk keta’atan sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah maka kita akan mati dalam keadaan khusnul khotimah (akhir yang baik). Jadi disini kita dituntut agar bersungguh-sungguh dalam mengelola apapun yang Allah berikan sesuai dengan syareat yang telah Dia tentukan. Sebetulnya Al Qur’an Allah turunkan sebagai petunjuk pasti bisa dilakukan (diamalkan) oleh semua manusia. Akan tetapi karena mengikuti hawa nafsunya banyak sekali manusia yang tidak mau mematuhi dan menjalankan isi-isi Al Qur’an. Sehingga mereka nantinya akan dibenamkan kedalam neraka. Padahal diantara Al Muqoddim dan Al Muakhir terdapat As ShoburNya Allah. Akan tetapi kesabaran Allah inilah yang selalu kita sia-siakan. Selama ini kita menganggap Al MuqoddimNya Allah sebagai pemberian yang mutlak harus kita terima, sehingga terserah kita didalam mengelolanya. Kita menerima apapun dari Allah tidak merasa sebagai amanah, tetapi merasa sebagai pemberian yang harus kita terima. Oleh sebab itu salah satu tanda orang-orang yang beriman adalah menjaga amanah dan janjinya. Surat Al Mu'minuun (23) : 1 – 11 1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, 2. (Yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, 3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, 4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat, 5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, 6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. 7. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. 8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. 9. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. 10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, 11. (Yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. Yang dinamakan amanah adalah segala apapun yang Allah berikan kepada kita termasuk tubuh (fisik) ini. Sedangkan yang dinamakan janji adalah ikrar kita pada saat sholat : “INNA SHOLATI, WANUSUKI, WAMAHYAYA, WAMAMATI, LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN” Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Alangkah kecewanya Allah. Karena semua sarana dan prasarana telah Dia siapkan tetapi justru kita pakai untuk mendurhakaiNya. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak petunjuk dan peringatan Allah yang kita ikuti dan seberapa banyak yang kita lalaikan? Seberapa banyak peringatan-peringatan Allah yang membuat kita bertaubat, dan seberapa banyak peringatan tersebut yang kita abaikan? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur atas segala petunjuk yang Engkau berikan kepada kami. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa Allah Ta'ala telah memberikan semua kebutuhannya, barulah Allah Ta'ala memerintahkannya untuk melakukan ketaqwaan. Oleh sebab itu dia akan merasa malu apabila tidak bertaqwa kepada Allah Ta'ala. Dia sangat takut apabila tidak bertaqwa akan dimasukkan oleh Allah Ta'ala kedalam golongan orang-orang fasik, kafir, musyrik dan munafiq yang akan menjadi penghuni neraka dan kekal didalamnya. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendahulun kebaikan-kebaikan dan menjauhi keburukan-keburukan. Karena dia sangat malu kepada Allah Ta'ala yang telah mencukupi segala kebutuhannya. Dia juga sangat takut kepada Allah Ta'ala, andaikata nikmat-nikmat yang telah dia terima dia gunakan untuk mengikuti hawa nafsu, sehingga Allah Ta'ala akan menurunkan azab kepadanya baik didunia maupun diakhirat. Oleh sebab itu alangkah bodohnya orang-orang yang tidak mau bertaqwa kepada Allah Ta'ala. Karena segala kebutuhannya telah dicukupi oleh Allah Ta'ala dan apabila dia mau bekerja dengan baik akan diberi bonus oleh Allah Ta'ala yang lebih baik lagi, yaitu syurga yang penuh kenikmatan. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami dapat menggunakan pemberian-pemberian-Mu untuk melakukan ketaqwaan kepada-Mu. Dan tolonglah kami ya Allah, agar kami dapat melihat bahwa sesunggunya apa-apa yang kami terima adalah datangnya dari Engkau bukan atas kemampuan diri kami sendiri. F. Sikap Orang Bertawakkal Dia sangat menginginkan bahwa apapun yang dia lakukan tercatat sebagai amal diakhirat kelak, dan dosa-dosanya diampuni. Setelah itu dia berserah diri kepada Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Dia tidak perduli atas apapun yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya, apakah pemberian Allah Ta'ala itu banyak atau sedikit. Semuanya dia terima dengan ikhlas. Pemberian itu bisa berupa harta, ilmu atau tenaga. Yang penting dia dapat mempergunakan pemberian-pemberian Allah Ta'ala tersebut untuk melakukan amal-amal sholeh, sehingga dia tidak akan menerima azab Allah Ta'ala diakhirat kelak. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Muqoddim Apabila telah menjadi kholifah, maka ia akan menjadi contoh orang-orang yang mau mengambil apa-apa yang didahulukan oleh Allah Ta’ala. Setelah itu ia berfikir apa yang harus ia lakukan untuk Allah Ta’ala? dan ia selalu menyikapi bahwa apapun yang Allah berikan adalah amanah yang harus ia pertanggung jawabkan diakhirat kelak. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Muqoddim Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam mengingatkan manusia bahwa apa yang mereka terima bukanlah dari kemampuan mereka sendiri, akan tetapi segala sesuatu yang mereka terima itu sesungguhnya datang dari-Mu. Agar manusia dapat melihat bahwa pemberian-pemberian yang mereka terima itu datang-Nya dari Engkau sehingga mereka dapat bersyukur. J. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Mu’akhir Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia selalu melakukan sesuatu dengan bantuan-bantuannya agar manusia tidak berakhir dengan akhir yang buruk. Ia selalu membantu orang lain dengan memberikan kebaikan-kebaikan, nasehat-nasehat, dengan harapan agar jangan sampai akhir dari kehidupannya tidak baik. K. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Mu’akhir Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam mengingatkan manusia untuk mempergunakan apa-apa yang mereka terima untuk ketaqwaan kepada-Mu. Sehingga manusia dapat melihat bahwa tidak ada satupun kebaikan apabila mempergunakan pemberian-pemberianMu untuk sebuah kefasikan.