69. AL QODIR (Dzat Yang Maha Kuasa) 70. AL MUQTADIR (Dzat Yang Maha Menguasai) Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan kekuasaan Allah Ta’ala Ta’ala tidak terbatas. Sehingga Allah Ta'ala berkuasa untuk berbuat apapun yang dikehendaki-Nya. Apakah seseorang itu diberi rahmat, diampuni atau diazabNya. Dan tidak ada satupun yang bergerak dilangit dan dibumi kecuali atas izin dan kekuasaan Allah Ta’ala. Akan tetapi sering kali apabila kita bisa berbuat sesuatu, kita merasa bahwa itu adalah karena hasil kekuasaan atau kemampuan diri sendiri sehingga melupakan kekuasaan Allah Ta’ala. Dengan kata lain apabila kita bisa melakukan sesuatu kita tidak pernah merasa bahwa itu semua adalah karena pertolongan Allah Ta’ala. Seperti halnya kisah Qarun yang dijelaskan disurat Al Qashash (28) : 78 78. Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Banyak sekali manusia yang bersifat seperti Qarun, yaitu tidak nampak baginya kekuasaan Allah. Dan apabila ditimpa suatu musibah, juga tidak bisa melihat kekuasaan Allah, akan tetapi selalu mencari-cari alasan untuk menyalahkan orang lain. Seperti berjualan rugi menyalahkan orang lain, hidup miskin menyalahkan orang lain, jabatan tidak naik menyalahkan orang lain, bahkan terkadang juga menyalahkan Allah. Padahal apabila kita bisa melakukan sesuatu merasa atas kepintaran dan kemampuan sendiri, tapi kenapa pada saat menerima suatu kemudhoratan tidak mau menyalahkan diri sendiri? Oleh sebab itu renungkanlah kenapa kekuasaan Allah tidak masuk kedalam jiwa kita? Padahal orang yang beriman dalam menerima apapun selalu dikembalikan kepada Allah, karena dia faham dan yakin bahwa Allah adalah dzat yang maha kuasa. Banyak sekali manusia yang tidak bisa merasakan dan meyakini kekuasaan Allah, sehingga apabila seseorang itu ditimpa musibah, tidak mau meminta pertolongan kepada Allah, tetapi meminta pertolongan kepada selain Allah. Seperti kepada para normal, kepada keris-keris, dukun dan lain-lain. Dalam hidup ini banyak sekali manusia yang tidak bisa merasakan dan meyakini kekuasaan Allah. Hal ini terbukti banyak sekali yang masih terpancing dengan dosa-dosa orang lain. Artinya apabila ada orang yang berdosa, baik terhadap dirinya atau terhadap orang lain, membuat ia terpancing sehingga ikut melakukan dosa. Sebagai contohnya kita dihina, kitapun juga membalas penghinaannya. Bahkan terkadang lebih kejam. Padahal salah satu penghambat taubat seseorang yang berdosa adalah terpancing dengan dosa orang lain dikarenakan apabila dia berdosa tidak mau mengakui kesalahannya justru menyalahkan orang lain tersebut. Dan syetan selalu membisik-bisikkkan bahwa perbuatan kita adalah benar, padahal sebetulnya salah. Didalam satu keterangan kita diingatkan : 1. Katakanlah Allah, setelah itu istiqomahlah engkau dan biarkan dunia ini dengan permainannya. Artinya apabila kita bisa meninggalkan permainan dunia, berarti kita sudah tidak termasuk dalam permainan dunia. Makanya Allah mengatakan bahwa dunia adalah permainan dan sendau gurau. 2. Jangan takut terbuka aib, karena dengan ketakutan itulah seseorang akan cenderung melakukan kebohongan-kebohongan. Tetapi juga jangan membuka aib. Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Berkuasa dan Maha Menguasai seluruh makhluqNya yang telah Dia ciptakan. Dengan Al Qodir-Nya Allah Ta'ala membuat ketentuan-ketentuan (hukum-hukum) dan dengan Al Muqtadir-Nya Allah Ta'ala memaksa hamba-hambaNya untuk menjalani ketentuan-ketentuan tersebut. Sehingga apapun yang dikehendaki Allah Ta'ala pasti akan terjadi dan tidak ada satupun yang bisa menolaknya. Oleh sebab itu sebagai seorang hamba hendaknya kita terima dengan ikhlas segala ketentuan-Nya dan hukum-hukumNya. Karena apabila Allah Ta’ala menghendaki sesuatu, tidak ada satupun daya upaya dan kekuatan yang bisa menolak atau melawannya. Sebagai contohnya Allah Ta'ala menentukan seseorang sakit selama lima hari. Apapun daya upaya manusia tidak bisa merubah ketentuan tersebut menjadi dua hari. Terima atau tidak terima, sabar atau tidak sabar, maka ketentuan Allah Ta'ala itu pasti akan terjadi dan tidak ada satupun yang bisa merubahnya. Akan tetapi bagi orang-orang yang mau bersabar, maka dia akan mendapatkan pahala disisi Allah Ta'ala. Memang didalam kehidupan ini banyak sekali orang yang berkuasa, seperti orang tua terhadap anaknya, presiden terhadap rakyat-rakyatnya, atasan terhadap bawahannya, dan lain sebagainya. Akan tetapi mereka tidak bisa menguasai orang-orang yang dipimpinnya. Orang tua tidak bisa memaksa anaknya harus menjadi orang pintar, harus menjadi orang kaya dan lain sebagainya. Presiden juga tidak bisa memaksa rakyat-rakyatnya agar bekerja semua dan tidak ada yang menjadi pengangguran. Begitupun juga dengan yang lain. Karena hanya Allah Ta’ala Dzat Yang Maha Berkuasa dan Maha Menguasai. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita merampas hak Allah Ta’ala yaitu berkeinginan untuk menguasai orang lain. Karena hal itu tidak akan mungkin terjadi dan kita akan menjadi orang celaka yang sangat dibenci oleh Allah Ta'ala, sehingga akan menjerumuskan kita masuk kedalam neraka. Seharusnya sebagai seorang hamba yang lemah dan bodoh ini, kita harus bergantung dan berharap hanya kepada Allah Ta’ala saja. Karena hanya Dia yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat dan hanya Dia yang Maha Berkuasa lagi Maha Menguasai. Jangan sampai kita berharap, bergantung dan meminta sesuatu kepada selain Allah Ta’ala. Maka dari itu sangat bodoh sekali apabila kita masih mencari tuhan-tuhan lain dan bergantung serta berharap kepada selain Allah Ta’ala. A. Sisi Tafakkurnya Masih adakah perasaan dalam hati kita apabila berhasil kita sombong, apabila gagal menyalahkan orang lain, sehingga kita merasa seolah-olah kekuasaan Allah tidak berlaku? Apabila kita ingin selamat, sebetulnya kita harus menyadari bahwa yang bisa menguasai adalah Allah. Untuk itu, “seberapa banyak kita kecewa apabila tidak bisa menguasai orang lain, dan seberapa banyak yang kita terima bahwa ini adalah kekuasaan Allah yang berlaku? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan hamba-hambaMu yang berkeinginan sesuai dengan dengan apa yang Engkau inginkan. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa Allah Ta'ala Maha Berkuasa dan Maha Menguasai semua makhluq-makhluqNya termasuk dirinya sendiri, sehingga apapun yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala pasti akan terjadi dan tidak ada satupun yang bisa menolak kehendak-Nya. Sebetulnya yang menjadi tugas manusia adalah memilih antara kefasikan dan ketaqwaan. Karena Allah Ta'ala telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Akan tetapi mereka semua tidak sanggup menerimanya karena khawatir akan menghianatinya. Sedangkan manusia karena kebodohannya sanggup menerima amanah tersebut. Dan amanah itu adalah pilihan antara kefasikan dan ketaqwaan, bahwa barang siapa yang memilih kefasikan akan masuk neraka dan barang siapa yang memilih ketaqwaan akan masuk syurga. Apapun pilihan manusia didalam menjalani kehidupan ini, apakah memilih kefasikan atau ketaqwaan, semuanya berjalan sesuai dengan ketentuan Allah Ta'ala. Oleh sebab itu walaupun seseorang memilih kefasikan dan menginginkan kekayaan, jika Allah Ta'ala tidak menghendaki, maka keinginannya tersebut tidak akan terjadi. Akan tetapi dia telah memilih kefasikan sehingga akan dimasukkan kedalam neraka. Didalam hidup ini banyak sekali orang-orang yang menggebu-gebu mengejar harta dunia, tetapi tetap saja tidak mendapatkannya. Hal ini dikarenakan Allah Ta'ala tidak menghendaki dia menjadi orang kaya. Akan tetapi dia telah memilih kefasikan, sehingga diakhirat nanti dia akan menjadi orang yang celaka. Oleh sebab itu hendaknya kita selalu memilih jalan ketaqwaan. Karena apapun yang terjadi adalah atas kehendak Allah Ta'ala, yang penting di akhirat nanti kita bisa selamat. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia tidak pernah meragukan kekuasaan Allah Ta'ala, sehingga dia selalu berjalan sesuai dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Allah Ta'ala. Dan dia selalu ridho atas apapun yang dia terima didalam kehidupan ini. Akan tetapi Allah Ta'ala mewajibkan manusia untuk berikhtiyar (berusaha). Karena dengan berikhtiyar itulah manusia akan mendapatkan amal. Oleh sebab itu bagi Dia didalam berikhtiyar (berusaha) niatnya adalah untuk mencari amal, bukan untuk mencari hasil. Karena masalah hasil adalah ketentuan Allah Ta'ala. Sebagai contohnya adalah berdagang. Didalam berdagang ada hukum-hukum Allah Ta'ala, seperti tidak boleh mengurangi timbangan dan tidak boleh bersumpah palsu. Apabila hal itu kita patuhi, maka kita akan mendapatkan amal. Sedangkan masalah hasilnya (untung atau rugi) adalah kehendak Allah Ta'ala (Dia yang menentukan). Dia didalam berikhtiyar tidak pernah memaksakan diri. Dia akan berikhtiyar sesuai dengan kesanggupan dan sesuai dengan syareat yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala dan RasulNya. Dan dia-pun tidak pernah bergantung dengan ikhtiyar tersebut, karena masalah hasil adalah urusan Allah Ta'ala. Kenapa bekerja mendapatkan amal? Karena dengan bekerja akan mendapatkan gaji, kemudian dengan gaji tersebut bisa kita pakai untuk menafkahi keluarga dan apabila ada kelebihan bisa kita gunakan untuk nafkah dijalan Allah Ta'ala. Inilah yang dihitung amal jihad disisi Allah Ta'ala. Akan tetapi apabila kita bekerja dan setelah mendapat gaji kita gunakan untuk kepuasan hawa nafsu, maka kerja kita tersebut tidak dihitung sebagai amal jihad disisi Allah Ta'ala. Karena bukan bekerjanya itu yang dihitung sebagai amal jihad, tetapi hasil dari kerja itu kita gunakan untuk apa? Jika hasilnya kita gunakan untuk menafkahi keluarga dan apabila ada kelebihan kita gunakan untuk beramal sholeh (nafkah dijalan Allah Ta'ala), maka inilah yang dinamakan jihad. Didalam salah satu Hadits Qudsi dijelaskan bahwa Allah Ta'ala sangat senang melihat seseorang yang tidur pulas pada malam hari karena kecapean bekerja disiang hari. Sama senangnya melihat seseorang yang bangun malam melakukan sholat, berdzikir dan melakukan ibadah-ibadah. Siapa orangnya yang tidur pulas tetapi dicintai Allah Ta'ala? Yaitu orang-orang yang kecapean bekerja disiang hari dengan niat dan syareat yang benar. Yaitu bekerja dengan niat mencari amal sesuai dengan syareat yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala dan RasulNya, dan apabila mendapatkan hasil akan dia gunakan untuk mencukupi keluarga dan untuk beramal sholeh (nafkah dijalan Allah Ta'ala). E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bantulah kami agar kami tidak mengikuti hawa nafsu kami, karena segala sesuatu adalah sesuai dengan kehendak-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Dia tidak pernah mempermasalahkan hasil. Yang penting dia telah berikhtiyar (berusaha) dengan syareat yang benar dan telah berdo’a, maka masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Karena apapun yang dikehendaki Allah Ta'ala pasti akan terjadi dan apapun yang tidak dikehendaki Allah Ta'ala pasti tidak akan terjadi. Allah Ta'ala memang Maha Kuasa dan Maha Menguasai, sehingga apapun yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi. Akan tetapi jangan sekali-kali kita berpangku tangan saja tanpa berusaha. Sebagai seorang hamba kita harus punya niat, usaha dan do’a, sedangkan masalah hasilnya baru kita serahkan kepada Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Apapun hasil yang Allah Ta'ala berikan, dia terima dengan ikhlas. Sebagai contohnya Allah Ta'ala memberikan penyakit kepadanya. Dia telah berikhtiyar, berdo’a dan bertawakkal. Akan tetapi hasilnya Allah Ta'ala belum memberikan kesembuhan. Maka hal itu dia terima dengan ikhlas. Bahkan dia sangat bersyukur, karena semakin lama dia sakit, maka semakin banyak dosa-dosanya yang diampuni oleh Allah Ta'ala. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Qodir Apabila sudah menjadi kholifah, ia sudah tidak punya lagi kehendak (keinginan) kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Qodir Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam memperlihatkan kekuasaan-Mu kepada manusia, agar mereka dapat melihat bahwa tidak ada satupun yang dapat menentang apa yang Engkau kehendaki. J. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Muqtadir Apabila telah menjadi kholifah, maka ia tidak pernah merasa khawatir terhadap ancaman-ancaman atau halangan-halangan dalam tujuannya untuk menegakkan agama Allah atau untuk mentauhidkan Allah. Karena ia yakin semua yang ada dilangit dan dibumi berada dibawah kekuasaan Allah, dan ia ingat janji Allah bahwa Dia pelindung para Rasul dan orang-orang yang beriman. K. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Muqtadir Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam memberikan pemahaman kepada manusia, bahwa sesungguhnya tidak ada satupun yang dapat mengelak dari apa yang telah Engkau kehendaki. Agar manusia dapat mengetahui bahwa sesungguhnya tidak ada satupun dari makhluq-makhluqMu yang dapat menolak dari apa yang Engkau kehendaki.