46. AL WASI’U (Dzat Yang Maha Luas PemberianNya) Allah Ta’ala telah mempersiapkan diriNya untuk memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh hamba-hambaNya, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Luas Pemberian-Nya dan kepunyaan-Nyalah segala yang ada dilangit dan dibumi. Sebenarnya tidak ada satupun dari aktivitas manusia yang tidak butuh kepada Allah Ta’ala. Karena didalam salah satu Hadist Qudsi Allah Ta’ala berfirman : “Tidak bergerak sebutir zarrahpun dilangit dan dibumi kecuali atas izin Allah Ta’ala”. Ini berarti ketergantungan kita kepada Allah Ta’ala haruslah secara penuh karena tidak satu zarahpun dari tubuh kita bisa bergerak kecuali atas izinNya. Seperti contoh do’a Rasulullah SAW : “Ya Allah, janganlah Engkau serahkan segala urusanku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap”. Do’a ini mengisyaratkan tidak ada satupun pekerjaan yang mampu beliau lakukan tanpa pertolongan Allah Ta’ala. Dengan kata lain tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Ta’ala. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita bergantung kepada selain Allah Ta'ala (makhluq). Karena semua makhluq termasuk manusia tidak bisa mengabulkan apa yang kita inginkan. Allah hanya butuh pengakuan hamba-hambaNya. Semakin butuh kepada Allah semakin banyak kita memohon pertolongan kepadaNya. Akan tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari kita tidak bisa merasakan hal ini, kita merasa memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu, sedikit saja bisa membantu orang lain kita sudah merasa bangga. Kita merasa seolah-olah tidak ada campur tangan Allah. Oleh karena itu Al Wasi’u ini hanya akan berlaku bagi orang-orang yang butuh kepada Allah yang berdo’a untuk keselamatan akhiratnya dan tidak akan berlaku bagi orang-orang yang merasa memiliki kemampuan yang berdo’a untuk kebutuhan nafsunya. Dalam satu keterangan dijelaskan : “Kepada sesama makhluk (manusia) kita harus bijaksana, tetapi kepada Allah kita harus seperti bayi yang hanya bisa merintih, menangis, bergantung dan tidak merasa memiliki kekuatan atau daya upaya sedikitpun”. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa besar kesungguhan kita didalam mempersiapkan diri untuk menerima pemberian-pemberian Allah Ta'ala? Karena seseorang akan diberikan amanah oleh Allah Ta'ala sesuai dengan kesanggupan mereka didalam menerimanya. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang bermohon kepada-Mu bagi kemanfaatan kami didunia dan diakhirat. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Luas pemberian-Nya, sehingga apabila hambaNya memohon berdasarkan ketaqwaan pasti akan diberi. Oleh sebab itu dimanapun dan kapanpun, orang-orang yang beriman selalu bergantung dan memohon kepada Allah Ta'ala. Dan yang dimohonkan oleh orang-orang beriman adalah segala sesuatu untuk ketaqwaan bukan untuk kefasikan. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa tidak mau meminta sesuatu yang rendah yaitu dunia (untuk kebutuhan hawa nafsu). Karena kehidupan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat adalah sesuatu yang sangat sedikit dan rendah. Oleh sebab itu yang dia mohonkan adalah segala sesuatu yang bisa menyelamatkannya diakhirat kelak (untuk ketaqwaan). Dengan kata lain orang-orang yang bertaqwa apabila menemui hambatan didalam melakukan amal-amal sholeh, maka dia hanya meminta kepada Allah Ta'ala. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar tidak bermohon kepada-Mu hanya untuk kepentingan dunia kami saja. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal apabila dia telah berdo’a, maka masalah hasilnya dia serahkan kepada Allah Ta'ala. Karena dia yakin bahwa apa-apa yang bermanfaat pasti akan diberi oleh Allah Ta'ala dan apa-apa yang tidak bermanfaat pasti tidak akan diberi oleh Allah Ta'ala. Orang-orang yang bertawakkal tidak pernah takut untuk melakukan ketaqwaan (amal Sholeh). Karena dia yakin apabila dia butuh sesuatu, maka dia akan minta kepada Allah Ta'ala. Akan tetapi dalam kenyataannya, selama ini kita takut untuk melakukan ketaqwaan (amal sholeh), tetapi tidak pernah takut untuk melakukan kefasikan. Padahal ketaqwaan adalah untuk kebutuhan diri kita sendiri dan Allah Ta'ala akan menggantinya dengan berlipat ganda baik didunia maupun diakhirat. G. Sikap Orang Mukhlis Berapapun yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya, dia terima dengan ikhlas dan senang. Apakah pemberian Allah Ta'ala itu sedikit atau banyak. Karena dia yakin bahwa Allah Ta'ala memberikan sesuatu disesuaikan dengan kesanggupan hamba-hambaNya. Kemudian pemberian Allah Ta'ala tersebut dia gunakan untuk beramal sholeh. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Wasi’u Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia merasa yakin kepada Allah bahwa apapun yang ia minta yang sesuai dengan syareat pasti akan dia peroleh, dan dia banyak sekali menerima pemberian-pemberian Allah dari apa yang ia mohonkan. Kemudian terhadap sesama manusia, ia tidak pernah menolak apa-apa yang diminta oleh manusia kepadanya, kecuali yang diminta itu sesuatu yang bersifat kefasikan. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Wasi’u Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam memberikan sesuatu kepada manusia, hanya untuk ketaqwaan mereka kepada-Mu, dan tahanlah tangan kami untuk membantu orang-orang yang berbuat kefasikan. Sehingga mereka dapat melihat bahwasannya apabila mereka melakukan sebuah ketaqwaan, maka semua keperluan mereka akan Engkau penuhi.