37. AL ‘ALIY (Dzat Yang Maha Tinggi) Allah Ta’ala sangat patut untuk ditinggikan karena kemuliaan akhlaqNya. Hal ini karena Allah Ta'ala mengampuni dosa yang dilakukan hamba-hambaNya secara berulang-ulang dan membalas kebaikan hamba-hambaNya dengan berlipat ganda baik didunia maupun diakhirat, walaupun perbuatan baik itu hanya sedikit. Begitu tinggi dan mulianya akhlaq Allah Ta'ala sehingga Dia sangat patut untuk kita puji dengan ketinggian-Nya. Oleh sebab itu kita diperintahkan untuk meninggikan Allah Ta’ala. Sedangkan bagaimana cara meninggikan Allah Ta’ala? Yaitu dengan cara menjauhi segala larangan-laranganNya dan merasa malu apabila melanggarnya. Akan tetapi sedikit sekali manusia yang bisa merasakan ketinggian Allah dan tidak mau meninggikannya, tetapi justru sering kali meninggikan manusia. Sehingga kita tidak pernah menjadikan Allah sebagai pemimpin dan tidak mau mematuhi peraturanNya. Padahal kita diperintahkan untuk sujud kepada Dzat Yang Maha Tinggi. Bisa kita bayangkan andaikata Allah itu mempunyai sifat dendam, niscaya akan hancurlah manusia. Maka dari itu sangat patut Allah kita tinggikan dan kita patuhi segala aturan-aturanNya. Akan tetapi banyak sekali manusia yang ingin memakai ketinggian Allah ini. Sehingga apabila ia sedikit saja meneladani kedua Asma’ ini, yaitu mudah memaafkan kesalahan orang lain dan mudah berterima kasih, maka cenderung minta ditinggikan. Padahal ketinggian ini hanyalah milik Allah. Tidak ada satupun manusia yang berhak dipuji karena dia hanya sebagai perantara Allah saja. Oleh sebab itu Rasulullah bersabda : “INNAMAL A’MALU BIN NIYAAT” Maksudnya segala sesuatu perbuatan ditentukan oleh niatnya. Apakah beramal ingin mendapat pujian dari manusia, apakah ingin memperoleh wanita, atau ikhlas karena Allah. Semua akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Apabila seseorang yakin dengan Asma’ Al Aliy ini, apabila melakukan kebaikan lalu dipuji orang lain akan merasa malu, karena ia yakin hanya Allah yang berhak untuk dipuji. Oleh sebab itu hendaknya kita lihat diri sendiri. Apakah hati kita merasa senang pada saat dipuji orang lain? Apakah hati kita sakit pada saat dicemooh (diremehkan) orang lain? Kalau demikian berarti niat kita masih salah. Berarti kita mengharapkan perhiasan dunia. Segala puji hanya milik Allah. Oleh sebab itu kita tidak boleh memuji selain Dia dan tidak boleh minta dipuji dari selain Dia. Maka dari itu bagi orang-orang yang memuji adalah salah, sedangkan yang dipuji apabila merasa senang juga salah. Bahkan Rasulullah bersabda : “Lemparlah dengan tanah muka orang-orang yang suka memuji”. Oleh sebab itu teman yang baik adalah yang mau mengingatkan kita pada saat salah bukan teman yang selalu mamuji, karena akan menjerumuskan kita kedalam neraka. Sedangkan pujian yang diperbolehkan hanyalah ucapan terima kasih, karena ini adalah perintah Allah. Sesuai dengan salah satu hadits : “belumlah bersyukur seseorang sebelum berterima kasih kepada sesama manusia”. Ingat..!? kita ini hanya sebagai perantara-perantara Allah saja. Kita bisa melakukan suatu kebaikan hanyalah karena izin dan pertolonganNya. Tanpa pertolonganNya tidak mungkin bisa kita lakukan. Oleh sebab itu kenapa kita mengharapkan pujian dari manusia? A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak dari perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan yang mengharapkan ditinggikan orang lain? Atau merasa sombong terhadap perbuatan-p-erbuatan kecil yang kita lakukan, padahal segala sesuatu dapat kita lakukan adalah karena pertolongan Allah Ta'ala semata. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang selalu meninggikan Engkau didalam hidup kami. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa hanya Allah Ta'ala yang berhak untuk ditinggikan, sehingga dia tidak pernah meninggikan selain Allah Ta'ala dan tidak pernah berharap untuk ditinggikan orang lain. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa selalu merendahkan diri kepada Allah Ta'ala. Sedikitpun dia tidak pernah merasa tinggi dan meninggikan orang lain. Dia selalu merasa rendah dan hina dihadapan Allah Ta'ala, karena begitu banyak dosa dan kesalahan yang dia lakukan, sedangkan amal-amalnya sangat sedikit. Oleh sebab itu apabila ada orang lain yang memujinya karena perbuatan baik yang dia lakukan, maka dia sangat malu kepada Allah Ta'ala. Karena dia menyadari bahwa dirinya hanya sebatas perantara Allah Ta'ala dan apapun yang dapat dia lakukan semata-mata karena izin dan pertolonganNya, sehingga yang berhak dipuji dan ditinggikan hanya Allah Ta'ala. Maka dari itu apabila didalam hidup ini kita masih senang dipuji, disanjung, dimuliakan dan dihormati orang lain, berarti kita belum beriman dan bertaqwa serta masih tergolong orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu. Karena apa yang pantas dipuji pada diri kita? Apapun yang kita punya adalah pemberian (titipan) Allah Ta'ala, baik berupa harta, ilmu, tenaga dan kekuasaan. Dan apapun yang dapat kita lakukan semata-mata adalah karena izin dan pertolongan Allah Ta'ala. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang bertaqwa apabila terlakukan dosa dia sangat malu dan menyesal sehingga segera bertaubat dan memperbaiki diri. Begitupun juga apabila diberi rahmat atau karunia juga merasa malu kepada Allah Ta'ala, karena kebaikan yang dia lakukan hanyalah sedikit tetapi Allah Ta'ala memberi banyak. Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak beriman, dia selalu merasa tinggi dan meninggikan orang lain. Sehingga dia rela merendahkan diri kepada manusia, karena mengharapkan kehidupan dunia. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bantulah kami agar kami tidak meninggikan manusia dan tidak meninggikan diri kami sendiri untuk minta dihormati dengan apa yang sebenarnya tidak kami lakukan. Karena kami hanyalah hamba-hambaMu yang menjadi perantara-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal apabila dia telah berendah diri kepada Allah Ta'ala, maka diapun akan berserah diri kepada-Nya. Dia tidak ingin meminta apapun dari Allah Ta'ala kecuali pengampunan. Karena dia menyadari telah begitu banyak dosa yang dia lakukan dan begitu banyak nikmat yang tidak dia syukuri. Sehingga apabila Allah Ta'ala mengampuninya, dia sungguh sangat bersyukur. G. Sikap Orang Mukhlis Apabila didalam hidup ini dia menerima caci makian atau hinaan dari manusia, semua itu dia terima dengan ikhlas. Yang penting dia selalu meninggikan Allah Ta'ala dan merendahkan diri kepada-Nya. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al ‘Aliy Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia selalu meninggikan orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Ghafuur dan Asy Syakur yang sudah bisa menjadi kholifah Allah Ta'ala. Sehingga manusia bisa merasakan ketinggian Allah Ta’ala. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al ‘Aliy Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk mengajak manusia meninggikan Engkau, karena Engkau mengampuni hamba-hambaMu yang melakukan dosa yang berulang-ulang dan membalas setiap amal dengan berlipat ganda. Agar manusia dapat melihat ketinggian-Mu.