34. AL ‘ADZIM (Dzat Yang Maha Agung) Dari keempat Asma’ Allah diatas, yaitu Al ‘Adlu (Dzat Yang Maha Adil), Al Lathif (Dzat Yang Maha Lembut), Al Khobir (Dzat Yang Maha Mengetahui) dan Al Halim (Dzat Yang Maha Penyantun), maka Allah Ta’ala berhak untuk diagungkan. Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Adil didalam memberikan segala sesuatu kepada hamba-hambaNya, disesuaikan dengan kebutuhan dan kesanggupan hambaNya didalam menerimanya. Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Lembut yang telah menyiapkan segala kebutuhan hamba-hambaNya sebelum hambaNya sendiri tercipta. Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Mengetahui segala perbuatan hamba-hammbaNya, dan Dia telah menugaskan para MalaikatNya untuk mencatat semua perbuatan hambaNya. Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Penyantun, Dia tidak langsung menghukum hambaNya yang berdosa, akan tetapi Dia memberikan kesempatan dan peringatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Oleh sebab itu dari keempat sifat inilah Allah Ta'ala sangat patut untuk diagungkan. Apabila kita bisa meneladani keempat Asma’ Allah ini atau salah satunya, yang harus kita tanamkan didalam hati hanyalah sebagai perantara Allah. Akan tetapi karena existensi manusia yang selalu ingin diakui membuat ia ingin dihargai, disanjung, dan diagungkan. Padahal barang siapa yang ingin diagungkan akan dimasukkan oleh Allah kedalam neraka. Karena ia telah merampas hak Allah. Pada saat tahiyyat kita mengucapkan : “AT TAHIYYATUL, MUBAAROKAATUS, SHOLAWAATUT, THOYYIBAATU, LILLAAH” (segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan semata-mata hanyalah milik Allah). Akan tetapi kenapa kita masih ingin diagungkan oleh manusia? Memang godaan dunia lebih ringan dibanding dengan perhiasannya. Oleh sebab itu ujian yang terberat adalah menginginkan perhiasan dunia. Berupa sanjungan-sanjungan, pujian-pujian, pengagungan dan lain sebagainya. Dalam hidup ini banyak sekali orang yang ingin terkenal. karena kemana-mana dan dimana-mana diagung-agungkan oleh orang lain. Padahal didalam Hadits Qudsi Allah berfirman : “Kebesaran adalah selendangku dan keagungan adalah sarungku. Barang siapa memakai salah satu dari keduanya akan aku benamkan kedalam neraka”. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita mencari pengagungan dan penghhormatan dimata manusia, karena penghargaan dari manusia sedikitpun tidak bisa menyelamatkan diakhirat. Yang bisa menyelamatkan nanti diakhirat adalah penghargaan dari Allah. Akan tetapi banyak sekali manusia yang ingin diagungkan sehingga apapun upayanya ia lakukan agar orang lain mengagungkannya. Bahkan dalam lingkup rumah tangga juga demikian. Orang tua yang telah menyiapkan untuk kebutuhan anak-anaknya apabila tidak dihargai akan marah dan sakit hati”. Apabila kita menolong orang lain tetapi ia tidak berterima kasih juga membuat kita sakit hati. Apabila ada orang yang salah lalu kita bimbing tetapi ia tidak mau juga akan membuat hati kita sakit. Padahal kita hanya sebatas perantara saja dan yang berhak diagungkan hanyalah Allah. Kalau Asma’ Al Mutakabbir dipakai oleh manusia akan menjadikan ia sombong, sedangkan Asma’ Al ‘Adzim menjadikan seseorang ujub. Dan sifat takabbur dan ujub ini adalah penyakit iblis yang membuat ia menjadi makhluq yang terkutuk. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak dalam hati kita tumbuh perasaan tawadhu’ dan rendah diri kepada Allah Ta'ala? Dikarenakan Allah Ta'ala telah berlaku adil didalam pemberianNya, telah menyiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan selama hidup didunia, mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan, dan tidak langsung menghukum apabila kita berdosa atau bersalah. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang selalu mengagungkan Engkau dan selalu menomer satukan Engkau. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa hanya Allah Ta'ala yang berhak untuk diagungkan. Tidak ada satupun yang ada dilangit dan dibumi ini yang berhak diagungkan kecuali hanya Allah Ta'ala. Oleh sebab itu didalam hidup ini tidak ada yang lebih dia hormati atau lebih dia agungkan kecuali hanya Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa sangat mengagungkan Allah Ta’ala dan menomer satukan Allah Ta’ala melebihi apapun yang ada dimuka bumi ini. Sehingga dia akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan segala perintah-perintah Allah Ta’ala. Orang-orang yang bertaqwa didalam hidupnya tidak pernah menomer duakan Allah Ta'ala. Apabila ada dua pilihan antara memilih Allah Ta'ala atau memilih selain Allah Ta'ala, maka dia akan selalu memutuskan untuk memilih Allah Ta'ala, walau apapun resikonya. Disurat At Taubah (9) : 24 Allah Ta'ala telah memberikan pilihan-pilihan. Akan tetapi orang-orang yang bertaqwa selalu memilih dan menomer satukan Allah Ta'ala dari pada apapun. Dan hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Walaupun mereka disiksa, dihina, dikucilkan dan lain sebagainya, mereka tetap memilih Allah Ta'ala. Mengagungkan Allah Ta'ala tidak cukup dilisan saja, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan. Bentuk mengagungkan Allah Ta'ala dengan perbuatan adalah selalu menomer satukan Allah Ta'ala. Oleh sebab itu apabila didalam hidup ini kita masih menomer satukan selain Allah Ta'ala, berarti kita belum beriman. Sehingga kita akan selalu mengikuti apa yang kita nomersatukan itu dan mengabaikan hukum-hukum Allah Ta'ala. Terhadap sesama manusia yang telah berbuat baik kepada kita, maka kita akan merasa segan untuk menyakitinya. Seharusnya terhadap Allah Ta'ala kita harus lebih merasa segan dari pada kepada manusia itu. Karena pada hakikatnya yang memberikan kebaikan kepada kita adalah Allah Ta'ala, sedangkan manusia itu hanyalah perantara-Nya saja. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami senantiasa menomor satukan Engkau dari segala apapun yang ada dilangit dan dibumi ini. F. Sikap Orang Bertawakkal Didalam menomer satukan Allah Ta'ala, pasti akan ada hambatan dan rintangan. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang bertawakkal, semua itu dia serahkan kepada Allah Ta'ala. Dengan kata lain apapun yang akan terjadi dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Akan tetapi orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, dia selalu memilih dan menomer satukan selain Allah Ta'ala. Dia lebih menomer satukan orang tua dari pada Allah Ta'ala. Menomer satukan anak-anak dari pada Allah Ta'ala. Menomer satukan saudara-saudara dari pada Allah Ta'ala. Menomer satukan isteri (wanita) dari pada Allah Ta'ala. Menomer satukan harta dari pada Allah Ta'ala. Menomer satukan pekerjaan dari pada Allah Ta'ala, dan lain sebagainya. Sebagai contohnya orang-orang yang berkata : “Apabila saya menjadi orang kaya, maka saya akan beribadah kepada Allah Ta'ala”. Ini adalah contoh orang-orang yang menomer satukan harta dari pada Allah Ta'ala. Sedangkan yang benar adalah : “Terserah Engkau ya Allah, apakah Engkau akan memberi miskin atau kaya, saya akan tetap patuh dan beribadah kepada Engkau”. Memang setiap manusia mempunyai kelemahan, dan kelemahan inilah yang dimanfaatkan oleh nafsu dan syetan untuk menyesatkannya. Jika kelemahannya kepada anak, maka nafsu dan syetan menggiringnya untuk menomer satukan anak dan menduakan Allah Ta'ala. Jika kelemahannya terhadap istri (wanita), maka nafsu dan syetan menggiringnya untuk menomer satukan istri dan menduakan Allah Ta'ala. Begitu juga dengan yang lainnya. Oleh sebab itu didalam memilih dan menomer satukan Allah Ta'ala dibutuhkan kesungguhan. Jika tidak sungguh-sungguh, maka kita akan celaka didunia dan diakhirat. G. Sikap Orang Mukhlis Apabila dia telah menomer satukan Allah Ta'ala, maka apapun hasilnya dia terima dengan ikhlas. Apakah hasil yang dia peroleh sesuatu yang meng-enakkan atau sesuatu yang tidak meng-enakkan. Apakah dia akan dikucilkan, akan dimusuhi, atau akan ditinggalkan oleh manusia, semuanya itu dia terima dengan ikhlas. Yang penting dia telah menomer satukan Allah Ta'ala, dan dia sangat berharap Allah Ta'ala ridho kepadanya. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al ‘Adzim Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan mengagungkan dan menghormati orang-orang yang bisa meneladani Asma’ Al Latif, Al ‘Adlu, Al Khobir dan Al Halim. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al ‘Adzim Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk memperingatkan manusia agar mereka selalu menomer satukan Engkau. Agar manusia dapat mengetahui bahwa tidak ada satupun yang dapat berlaku adil didalam pemberian-Nya, mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan hamba-hambaNya, menugaskan para Malaikat-Nya untuk mencatat amal ibadah dan amal sholeh manusia, dan tidak langsung menghukum manusia yang bersalah, selain hanya Engkau semata.