30. AL ‘ADLU (Dzat Yang Maha Adil) Didalam memberikan sesuatu kepada hamba-hambaNya, Allah Ta’ala sesuaikan dengan kemampuan hambaNya dalam menerimanya. Akan tetapi seringkali Asma’ ini diingkari oleh manusia dan menganggap Allah itu tidak adil. Dan banyak sekali yang merasa bahwa orang kafir diberi kelebihan harta tetapi orang yang sudah sholat, puasa, dan lain sebagainya hanya diberi sebatas cukup. Padahal Allah memberikan sesuatu itu sudah tepat sesuai dengan kesanggupan hambaNya. Karena apabila seseorang itu diberi lebih maka akan melampaui batas. Surat Asy Syuura (42) : 27 27. Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat. Jadi kemampuan seseorang itu dalam menerima sesuatu hanya Allah yang mengetahui. Bahkan manusia itu sendiri tidak tahu batas kemampuannya. Apapun yang Allah berikan pada dasarnya sudah sesuai dengan kemampuan kita, akan tetapi karena mengikuti hawa nafsu kita sering kali tidak terima dengan pemberian-pemberian Allah tersebut. Oleh sebab itu apapun yang Allah berikan kepada kita hendaklah kita terima dengan ikhlas. Begitupun juga dengan ujian dan peringatan juga sesuai dengan kemampuan. Dalam hidup ini kita harus berhati-hati jangan sampai dalam hati kita ada perasaan bahwa Allah itu tidak adil, karena hal ini akan merusak keimanan kita. Seperti orang-orang yang tidak terima dengan wajah atau bentuk tubuh yang Allah berikan dan merasa bahwa Allah itu tidak adil sehingga dia merubah ciptaan-ciptaan Allah tersebut. Bagi orang-orang yang tidak yakin dengan keadilan Allah, apabila melihat orang lain diberi kurang akan menjadi sombong dan apabila melihat orang lain diberi lebih akan menjadi iri. Kenapa orang itu cantik aku tidak? Kenapa orang itu pintar aku tidak? Kenapa orang itu kaya aku miskin? Sehingga hawa nafsunya akan mendorongnya untuk memaksa Allah agar memberinya lebih dan membuat ia tidak bisa bertawakkal. Padahal didalam hadits Qudsi Allah berfirman : “Barang siapa yang tidak terima dengan takdirKu, maka minggatlah dari bumiKu dan carilah tuhan selain Aku”. Kalau Allah sudah mengusir kita, kemana lagi kita akan hidup? Kemana lagi kita akan mencari Tuhan? Karena satu-satuNya Tuhan hanyalah Dia. Oleh sebab itu apapun yang telah ditentukan Allah baik terhadap diri kita maupun terhadap orang lain hendaknya kita terima dengan ridho dan ikhlas. Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Adil didalam memberikan segala sesuatu kepada hamba-hambaNya. Akan tetapi yang namanya adil tidak harus sama banyak, melainkan disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan tingkat kemampuan didalam menerimanya. Dengan kata lain apapun yang diberikan Allah Ta'ala kepada hamba-hambaNya pasti sesuai dengan kesanggupan hambaNya didalam menerimanya. Baik itu harta, ilmu dan tenaga. Ibaratnya ada orang tua yang mempunyai dua anak yang satu SMA dan yang satu SD. Sebagai orang tua pasti ingin berlaku adil terhadap anak-anaknya, sehingga anak yang SMA diberi uang 5.000, sedangkan anak yang SD diberi uang hanya 1.000. Anak yang SMA diberi uang 5.000 karena kebutuhannya banyak dan diapun sanggup mengelolanya, sedangkan anak yang SD diberi uang hanya 1.000 karena kebutuhannya masih sedikit dan dia-pun belum mampu mengelola uang banyak. Akan tetapi anak yang masih SD tersebut justru mengatakan orang tuanya tidak adil dan menjadikannya iri kepada kakaknya yang SMA. Begitupun juga dengan Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Adil terhadap hamba-hambaNya. Pada hakikatnya semua manusia adalah hamba-Nya dan makhluq ciptaan-Nya. Dan Allah Ta'ala menciptakan manusia berderajat-derajat, sehingga kebutuhannya dan kesanggupannya berbeda-beda. Oleh sebab itu pemberian Allah-pun berbeda-beda disesuaikan dengan kebutuhan dan kesanggupan hamba-Nya masing-masing. Akan tetapi dikarenakan manusia banyak yang memperturutkan hawa nafsunya, maka dia mengatakan bahwa Allah Ta'ala tidak adil dan dia sangat menginginkan seperti orang-orang yang diberi lebih. Padahal Allah Ta’ala tahu persis seberapa besar kemampuan setiap hamba-hambaNya dalam menerima dan mengelola pemberianNya. Oleh sebab itu sebagai seorang hamba, hendaknya kita terima dengan ikhlas keadilan Allah Ta'ala ini dan jangan sekali-kali meminta sesuatu yang diluar kesanggupan kita didalam menerimanya. Setiap orang yang hidup dibumi ini pasti diberi beban oleh Allah Ta’ala. Akan tetapi Allah Ta’ala tidak membebani hamba-hambaNya melainkan sebatas kemampuannya dan Dia tidak menuntut hambanya untuk melakukan sesuatu yang diluar kesanggupannya pula. Karena yang dituntut oleh Allah Ta’ala adalah sesuai dengan apa yang telah Dia berikan. Sebetulnya semua pemberian Allah Ta’ala yang kita terima (harta, ilmu dan tenaga) adalah beban yang harus kita kelola dengan sebaik-baiknya. Semakin banyak pemberian Allah Ta’ala yang kita terima, maka semakin besar tanggung jawab yang harus kita pertanggung jawabkan kelak diakhirat. Begitupun juga sebaliknya, semakin sedikit pemberian Allah Ta’ala yang kita terima, maka semakin ringan pula tanggung jawab yang harus kita pertanggung jawabkan. Maka dari itu seharusnya kita menerima saja dengan ikhlas atas apapun yang Allah Ta’ala berikan dan tidak perlu memaksakan diri didalam melakukan ibadah atau amal sholeh. Yang paling penting apapun yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, inilah yang harus kita kelola dengan baik sesuai dengan hukum-hukum Allah Ta’ala, sehingga menjadi bekal diakhirat kelak. Oleh sebab itu hendaknya kita terima keadilan Allah Ta’ala ini dengan rasa syukur dan lapang dada. Jangan sekali-kali kita iri apabila melihat orang lain diberi lebih oleh Allah Ta’ala dan jangan menjadi sombong apabila melihat orang lain yang diberi sedikit oleh Allah Ta’ala. Karena tujuan Allah Ta’ala memberikan sesuatu sesuai kesanggupan adalah agar hamba-hambaNya menjadi ringan hisabnya sehingga bisa masuk syurga. Rasulullah SAW berdo’a : “Ya Allah ya Tuhan kami, jadikanlah rizki Muhammad dan keluarganya sebatas cukup”. Beliau berdo’a seperti ini karena beliau sangat yakin dengan keadilan Allah Ta’ala, dan beliau sangat menginginkan hisabnya ringan kelak diakhirat. A. Sisi Tafakkurnya Bagaimana kita menerima keadilan Allah Ta’ala dalam pemberian-Nya? Apakah kita menerima pemberian tersebut dengan ikhlas? atau membuat kita menjadi sombong apabila lebih banyak dari orang lain? ataukah membuat kita menjadi iri hati apabila lebih sedikit dari orang lain? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang ikhlas dalam menerima segala pemberian-Mu, karena sesungguhnya apa yang Engkau berikan kepada kami adalah yang paling tepat dan paling sesuai dengan kesanggupan kami didalam menerimanya. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin dengan keadilan Allah Ta'ala. Dia sangat yakin bahwa seberapapun yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya adalah yang paling tepat dan paling sesuai dengan kesanggupannya. Apabila pemberian Allah Ta'ala dirasakan kurang, maka dia tidak berkeluh kesah dan iri hati. Justru dia bersyukur karena dengan kekurangan itu dia bisa dekat dengan Allah Ta'ala. Dan apabila pemberian Allah Ta'ala dirasakan lebih, maka dia tidak menjadi sombong. Justru dia merasa takut kalau tidak bisa amanah, karena akan menjerumuskannya masuk kedalam neraka. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa akan menggunakan pemberian-pemberian Allah Ta'ala untuk melakukan amal-amal sholeh. Tidak memandang apakah pemberian Allah Ta'ala itu banyak atau sedikit, semuanya akan digunakan untuk beramal sholeh. Karena yang dilihat (dinilai) oleh Allah Ta'ala bukan besar atau kecilnya amal, akan tetapi yang dilihat adalah presentasenya. Seseorang yang diberi uang sepuluh juta lalu bersedekah lima juta, dengan seseorang yang diberi uang sepuluh ribu lalu sedekah lima ribu, maka nilainya dimata Allah Ta'ala adalah sama. Akan tetapi jika seseorang yang diberi uang sepuluh juta hanya bersedekah dua juta, maka dimata Allah Ta'ala nilainya adalah lebih besar seseorang yang diberi uang sepuluh ribu lalu disedekahkah lima ribu. Bagi orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya, dia selalu merasa kurang atas apa-apa yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya. Sehingga dia berburuk sangka kepada Allah Ta'ala serta iri dengki kepada orang-orang yang diberi lebih. Sedangkan apabila dia yang diberi lebih, maka dia akan menjadi sombong dan merendahkan orang lain. E. Contoh Do’a dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami dapat mempergunakan apa-apa yang Engkau berikan kepada kami untuk melaksanakan ketaqwaan kepada-Mu. Dan jagalah hati kami ya Allah, agar hati kami tidak menjadi iri terhadap pemberian-Mu kepada orang lain yang lebih banyak dari pada kami. Dan tidak menjadi sombong terhadap pemberian-Mu kepada orang lain yang lebih sedikit dari pada kami. F. Sikap Orang Bertawakkal Dia betul-betul berserah diri kepada Allah Ta'ala tentang pemberian yang Allah Ta'ala tentukan bagi dirinya. Dia tidak mempermasalahkan banyak atau sedikitnya pemberian Allah Ta'ala bagi dirinya. Akan tetapi didalam kehidupan ini banyak sekali orang-orang yang menentang keadilan Allah Ta'ala. Salah satunya adalah emansipasi wanita. Banyak sekali para wanita yang menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Padahal Allah Ta'ala menciptakan laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda. Karena kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. G. Sikap Orang Mukhlis Dia sangat ikhlas dan bersyukur menerima seberapapun pemberian-pemberian Allah Ta'ala kepadanya. Apakah Allah Ta'ala akan memberikan banyak atau memberikan sedikit. Seberapapun pemberian Allah Ta'ala dia syukuri dan dia rasakan lebih, walaupun menurut pandangan kebanyakan manusia adalah kurang. Setelah itu dia akan mengelola pemberian-pemberian Allah Ta'ala tersebut dengan sebaik-baiknya, yaitu untuk beramal sholeh. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Adlu Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia selalu menerima dengan ridho akan pemberian Allah Ta’ala kepadamua, dan di dalam dirinya tidak ada keinginan-keinginan yang lain kecuali keridhoan Allah. Ia akan menerima apa adanya dan dia tidak pernah merasa iri kepada orang lain, karena yang ia terima didasari pemahaman bahwa inilah yang terbaik bagi dirinya sesuai dengan kemampuannya dalam menerimanya. Ia akan merasa senang dan tawakkal atas apapun yang diberikan Allah kepadanya. Bahkan ketika pemberian Allah itu lebih ia akan merasa takut jikalau tidak bisa amanah. Dan terhadap sesama manusia, ia selalu memberikan sesuatu kepada manusia secara adil, disesuaikan dengan kemampuan orang-orang yang menerimanya. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al ‘Adlu Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu yang dapat memberikan dengan adil kepada manusia sesuai dengan kesanggupan mereka didalam menerimanya. Agar supaya mereka dapat menerima dengan hati yang ikhlas segala pemberian yang Engkau berikan kepada mereka.