27. AS SAMI’ (Dzat Yang Maha Mendengar) 28. AL BASHIIR (Dzat Yang Maha Melihat) 29. AL HAKAM (Dzat Yang Maha Bijaksana) Allah Ta’ala Maha Mendengar segala sesuatu apapun walaupun hanya bisikan didalam hati seseorang. Setiap orang pasti punya bisikan-bisikan dalam hatinya, akan tetapi kita tidak merasakan dan menyadari bahwa Allah Ta’ala mendengar bisikan-bisikan tersebut. Bahkan sering kali kita mempunyai niat-niat yang tidak baik, tetapi sedikitpun kita tidak merasa bahwa Allah maha mendengar niat kita tersebut, sehingga kita tidak pernah merasa malu. Kita justru selalu menjaga sesuatu yang bisa dilihat manusia dan merasa bahwa apa yang ada dalam hati kita tidak ada yang tahu. Inilah bukti bahwa keberadaan Allah tidak pernah kita rasakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apabila seseorang berniat baik saja dalam hatinya, akan dibalas dengan satu pahala. Dan apabila niat baik tersebut dilakukan akan mendapat balasan 10 sampai 700 pahala. Akan tetapi apabila berniat yang buruk saja tidak dibalas sebelum dikerjakan. Dan apabila niat buruk itu dikerjakan akan dibalas dengan setimpal. Memang masalah yang ada dalam hati ini dirahasiakan oleh Allah, karena apabila dibuka maka tidak ada lagi persaudaraan dalam kehidupan ini. Sama halnya dengan keburukan manusia juga Allah sembunyikan Akan tetapi saking bodohnya manusia seringkali menceritakan keburukan-keburukan kepada orang lain, bahkan kadang-kadang dengan merasa bangga. Allah berfirman dalam hadits Qudsi bahwa sebelum jasad seseorang itu dibawa kekuburan, ada 40 pertanyaan yang harus ia jawab. Yang pertama adalah, “Wahai hambaku, bertahun-tahun kamu hidup tetapi kamu selalu membagusi letak pandangan manusia kepadamu, tetapi kamu tidak pernah sekejap pun membagusi letak pandanganKu kepadamu”. Oleh sebab itu seharusnya kita harus malu, apabila dalam hati kita ada kebusukan-kebusukan seperti sombong, ujub, iri, dengki, dan hasud. Bisa kita bayangkan andaikata dalam kehidupan kita sehari-hari selalu merasa didengar oleh Allah, maka kita tidak akan berani berniat yang buruk apalagi berkata-kata yang tidak benar, sehingga kita tidak berani menggibah, menfitnah, berkata-kata yang menyakitkan orang dan lain sebagainya. Akan tetapi bagi orang yang tidak merasakannya, hanya akan bersembunyi dari pendengaran manusia. Apabila seseorang itu bangun pagi-pagi dan berniat akan melakukan kebaikan-kebaikan, maka orang tersebut dalam sehari semalam akan dijaga dari perbuatan dosa. Begitu juga sebaliknya apabila seseorang itu berniat akan melakukan kejahatan, maka semua pintu kebaikan akan ditutup sehingga ia tidak bisa berbuat baik. Apabila seseorang itu bangun pagi-pagi hanya berencana untuk kesenangan dunia, maka seluruh pintu kebaikan akhirat akan ditutup baginya, sebaliknya apabila seseorang berniat untuk kebaikan akhiratnya, maka akan dibuka pintu seluruh kebaikan akhiratnya dan ditambah kecukupan dalam urusan dunianya. Dan dengan Al Bashir-Nya, Allah Ta'ala melihat apapun yang dikerjakan oleh semua makhlus-makhluq-Nya termasuk manusia. Walaupun manusia melakukan sesuatu ditempat yang sangat sepi dan ditengah kegelapan malam, niscaya Allah Ta'ala pasti melihatnya. Semua manusia akan diperhitungkan seluruh amal perbuatannya oleh Allah Ta'ala diakhirat kelak. Apakah akan diterima atau ditolak. Didalam hal ini Allah Ta'ala mempunyai persyaratan, supaya amal berhak untuk diterima. Yaitu dilakukan dengan niat yang benar karena Allah Ta'ala dan dilaksanakan dengan cara yang benar pula, yaitu sesuai dengan hukum-hukum yang telah disyareatkan oleh Allah Ta'ala dan RasulNya. Dan didalam menerima amal hamba-hambaNya ini Allah Ta'ala juga melihat keikhlasan hambaNya didalam melakukannya. Semakin tinggi keikhlasan hambaNya, maka semakin besar pahala yang Dia berikan, yaitu 10 sampai 700 kali lipat. Yang pertama Allah Ta’ala Maha Mendengar sehalus apapun niat didalam hati setiap hamba-hambaNya. Makanya Rasulullah SAW bersabda : “Innamal A'malu Bin-niat (segala sesuatu perbuatan tergantung dari niatnya)”. Yang kedua Allah Ta’ala Maha Melihat sekecil atau segelap apapun perbuatan yang dilakukan hamba-hambaNya. Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang sesuai dengan syareat yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala dan RasulNya didalam Al Qur’an dan Al Hadits. Yang ketiga barulah Allah Ta’ala akan memutuskan dengan kebijaksanaanNya (Al Hakam) apakah amal hamba-hambaNya berhak diterima atau ditolak. Amal yang diterima adalah yang dilakukan dengan niat yang benar dan dikerjakan dengan syareat yang benar. Apabila amal dilakukan dengan niat yang benar tetapi dikerjakan dengan syareat yang salah, maka tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Begitupun juga apabila amal dilakukan dengan niat yang salah walaupun dikerjakan dengan syareat yang benar, juga tidak akan diterima. Disini menunjukkan antara tasawwuf dengan fiqih ini bergandengan. Akan tetapi kebanyakan orang memisahkan antara fiqih dan tasawwuf. Sehingga orang fiqih hanya berfikir tentang syahnya saja tanpa berfikir apakah amalnya diterima atau ditolak oleh Allah Ta’ala. Sedangkan orang-orang tasawwuf tidak memikirkan tentang hukum-hukum fiqihnya. Padahal segala amal yang dilakukan jika tidak sesuai dengan syareat yang telah diajarkan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya, maka itu namanya bid’ah. Ilmu Fiqih menerangkan tentang syahnya ibadah sesuai dengan tata cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Apabila seseorang melakukan amal ibadah tidak sesuai dengan tata cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, maka ibadahnya adalah salah. Sebagai contohnya melakukan sholat dengan bahasa Indonesia. Ilmu Tasawwuf menerangkan tentang diterimanya atau tidaknya amal seseorang yaitu menerangkan tentang niat. Apakah niatnya karena Allah Ta’ala atau karena hawa nafsu (dunia). Jika seseorang melakukan ibadah dengan niat yang tidak benar, maka ibadahnya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Jadi kedua ilmu ini tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Dengan As Sami’Nya Allah Ta’ala akan memberikan satu pahala bagi hamba-hambaNya yang berniat untuk melakukan kebaikan, walaupun sang hamba belum bisa melakukannya. Dan Allah Ta’ala juga akan memberikan satu pahala apabila sang hamba berniat jahat tetapi tidak dilakukannya karena takut kepadaNya. Sedangkan dengan Al BashirNya Allah Ta’ala akan memberikan pahala sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, bagi hamba-hambaNya yang melakukan kebaikan (amal) dengan niat dan syareat yang benar, tergantung dari tingkat keikhlasannya. Niat yang benar harus dilakukan karena Allah. Oleh sebab itu setiap niat yang kita ucapkan selalu diakhiri dengan LILLAHI TA’ALA. Karena tidak diciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaNya dan Allah tidak akan menerima segala perbuatan yang dilakukan bukan karenaNya. Akan tetapi tidaklah mungkin bisa berniat dengan benar jika keimanan belum masuk kedalam hati kita. Sehingga bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah semua amalnya (amal ibadah atau amal sholah) tidak akan diterima (sia-sia). Sering kali kita melakukan amal ibadah atau amal sholeh tidak karena Allah tetapi untuk kebutuhan diri sendiri. Seperti melakukan sholat agar segala keinginannya terkabul, memberikan shadaqah supaya Allah segera membalasnya dengan melancarkan rizkinya, melakukan kebaikan kepada manusia agar manusia menjadi baik kepada dirinya, memberikan bantuan kepada orang fakir agar disanjung dan dihormati, mengorbankan tenaga agar orang lain kasihan kepadanya, banyak mengeluh agar orang lain simpati kepadanya, dan lain sebagainya. Semua itu tidak bisa menyelamatkannya didunia maupun diakhirat, karena niatnya mengikuti kefasikan. Padahal setiap sholat kita selalu membaca do’a Iftitah : INNA SHOLAATI, WANUSUKII, WAMAHYAAYAA, WAMAMAATI LILLAAHI ROBBIL AALAMIIN (sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanya untuk Allah). Semua amal ibadah atau amal sholeh kalau tidak dilakukan karena Allah akan sia-sia. Walauapun dilakukan dengan syareat yang benar dan atas dasar perintah Allah. Ingat....! Allah itu As Sami’. Dia Maha Mendengar sehalus apapun bisikan hati kita. Manusia bisa kita tipu tetapi Allah tidak bisa. Walaupun kita bungkus dengan kata-kata atau tingkah laku yang manis sekalipun. Oleh sebab itu hendaknya kita sadari bahwa diri ini hanyalah seorang hamba yang tidak berhak memaksa atau menuntut Allah. Apalah gunanya kita diciptakan kalau tidak beribadah kepadaNya. Apalah artinya diciptakan kalau justru menyakiti perasaanNya. Tidak pernah bersyukur dan selalu berburuk sangka kepadaNya. Jika demikian berarti kita seperti sampah dan diakhirat juga akan menjadi sampah yang akan dilemparkan kedalam neraka. Oleh sebab itu hati ini harus selalu kita jaga dan kita bersihkan. Apabila tumbuh perasaan sombong, iri, dengki dan lain sebagainya langsung ingat Allah sehingga tumbuh rasa malu. Apabila tumbuh niat mengejar dunia kita ingat Allah sehingga tumbuh rasa malu. Sebetulnya untuk masalah dunia kita harus merasa cukup, sedangkan masalah kehidupan akhirat harus selalu merasa kurang. Jangan sekali-kali kita merasa kurang dengan kehidupan dunia sehinga melakukan ketaqwaan dengan niat agar Allah memenuhi segala keinginan nafsu duniawi. Padahal Allah berfirman bahwa kehidupan dunia ini adalah permainan senda gurau. Sedangkan kehidupan yang sebenarnya adalah akhirat. Oleh sebab itu hendaknya kita murnikan keta’atan hanya kepada Allah. Lakukanlah perintahNya dan jauhilah laranganNya karena Allah. Surat Az Zumar (39) : 2 2. Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Setiap saat kita selalu mendekati kematian. Apa yang sudah kita persiapkan untuk bekal mati? Untuk menggapai kebahagiaan akhirat memang susah. Tetapi bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan melakukan keta’atan dengan niat dan syareat yang benar, kesusahan itu membuatnya senang atau bahagia. Karena ia bisa melakukan sesuatu untuk Allah. Sama halnya kita bisa melakukan sesuatu kepada orang yang kita cintai walaupun sangat berat akan terasa ringan dan senang. Orang-orang yang melakukan keta’atan dengan niat dan syareat yang benar (karena Allah), selama hidupnya tidak pernah mengeluh (tidak ada kata berat, susah, capek dan sedih). Bahkan apabila diberi kesusahan ia justru bahagia dengan mengatakan : “karena cintaku padaMu ya Allah aku ikhlas”. Jadi sebagai bukti cinta kepada Allah adalah keikhlasan dalam melakukan amal ibadah atau amal sholeh. Apabila seseorang melakukan amal ibadah atau amal sholeh dengan niat dan syareat yang benar maka Allah akan memutuskan dengan Asma’ Al HakamNya bahwa amal orang tersebut berhak diterima. Akan tetapi apabila melakukan keta’atan dengan cara yang tidak benar masuk kategori bid’ah. Dan barang siapa yang melakukan bid’ah akan masuk neraka. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak pekerjaan yang kita lakukan yang dimulai dari niat yang benar, dilaksanakan dengan cara yang benar dan berdo’a untuk dapat diterima oleh Allah Ta'ala? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hambaMu yang dapat melaksanakan ketaqwaan kepada-Mu dengan niat yang benar untuk memperoleh keridhoan-Mu dan mengikuti sunnah Rasul-Mu. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa amal bisa diterima oleh Allah Ta'ala apabila dilakukan dengan niat yang benar dan dikerjakan dengan syareat yang benar. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa sangat menginginkan agar amal-amalnya dapat diterima oleh Allah Ta'ala, dan kalau bisa dengan kelipatan yang besar. Oleh sebab itu dia akan berusaha mencari ilmu agar dapat memenuhi persyaratan sebuah amal bisa diterima. Kemudian setelah mendapatkan ilmunya, dia akan mengamalkannya. Yaitu melakukan amal dengan niat yang benar, yaitu karena Allah Ta'ala dan mengharapkan balasan dihari akhir. Dan dia lakukan dengan cara yang benar pula yaitu sesuai dengan ketentuan yang telah disyareatkan oleh Allah Ta'ala dan RasulNya. Didalam melakukan sesuatu harus ada tuntunannya agar tidak menjadi sia-sia, yaitu harus sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Karena jika kita melakukan amal niatnya bukan karena Allah Ta'ala atau tata caranya tidak ada tuntunannya didalam Al Qur’an dan Al Hadits, maka tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala (sia-sia). Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita melakukan sesuatu karena pendapat kebanyakan manusia yang tidak ada tuntunannya didalam Al Qur’an dan Al Hadits. Orang-orang yang bertaqwa didalam melakukan amal apapun keinginannya hanya satu, yaitu ingin diterima oleh Allah Ta'ala. Sehingga dia melakukan amal apapun niatnya semata-mata karena Allah Ta'ala. Niat karena Allah Ta'ala ada dua makna : 1. Karena rasa syukur kepada Allah Ta'ala yang telah begitu banyak melimpahkan nikmat dan karunia-Nya, sehingga kita ingin membalas-Nya dengan melakukan amal. 2. Karena pertolongan Allah Ta'ala kita bisa melakukan amal. Tanpa pertolongan Allah Ta'ala tidaklah mungkin kita bisa melakukan amal. Oleh sebab itu jika niat kita seperti ini, maka kita tidak akan pernah sombong dengan amal-amal yang telah kita lakukan. Orang-orang yang bisa melakukan amal dengan niat karena Allah Ta'ala, dengan syareat yang benar dan semata-mata mengharapkan balasan diakhirat, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah Ta'ala dan kepada hari akhir. Jika orang-orang fasik tidak mungkin berniat karena Allah Ta'ala dan mengharapkan balasan diakhirat. Orang-orang yang bertaqwa didalam beramal sedikitpun tidak mengharapkan balasan dunia. Yang ia harapkan adalah amalnya diterima oleh Allah Ta'ala dan dibalas dihari akhir kelak. Akan tetapi bagi orang-orang yang mengikuti hawa nafsu, amal apapun yang dia lakukan semata-mata mengharapkan balasan didunia. Dia rela diakhirat menjadi orang merugi yang penting didunia hidupnya senang. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, amal yang dapat kami lakukan tidaklah mungkin bisa sempurna seperti apa yang Engkau syareatkan. Akan tetapi itulah kemampuan ya Allah, oleh sebab itu terimalah amal ibadah dan amal sholeh. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal apabila dia telah melakukan amal dengan niat yang benar dan dengan syareat yang benar, maka masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Apakah Allah Ta'ala akan memberikan pahala yang banyak atau sedikit. Orang-orang yang melakukan amal niatnya bukan karena Allah Ta'ala, maka dia tidak akan berani menyerahkan amalnya tersebut (bertawakkal) kepada Allah Ta'ala. Karena Allah Ta'ala tidak akan pernah menerima amal yang dilakukan bukan karena-Nya. Dengan kata lain apabila kita beramal dengan mengharapkan balasan didunia, maka Allah Ta'ala tidak akan pernah mau menerimanya, melainkan Dia akan melemparkannya kembali seperti kain pel. Akan tetapi bagi orang-orang yang melakukan amal niatnya murni semata-mata karena Allah Ta'ala, maka dia akan menyerahkan sepenuhnya (bertawakkal) kepada Allah Ta'ala mohon untuk diterima, walaupun amal yang dia lakukan belum bisa sempurna. Memang, andaikata Allah Ta'ala berdiri dengan keadilanNya, tidak ada satupun dari amal-amal yang kita lakukan bisa diterima. Karena kita belum bisa melakukan amal dengan sempurna sesuai dengan yang diharapkan oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi apabila niat kita murni semata-mata karena Allah Ta'ala, maka Allah Ta'ala akan menutupi kekurangannya serta menerimanya walaupun tidak penuh. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apapun hasil dari ketaqwaan yang telah dia lakukan. Dengan kata lain apapun yang ditentukan oleh Allah Ta'ala akan dia terima dengan ikhlas dan dengan perasaan senang, sehingga didalam hatinya tumbuh ketentraman. Orang-orang mukhlis tidak mempermasalahkan balasan dari Allah Ta'ala atas amal-amal yang telah dia lakukan. Apalagi mengharapkan balasan dunia, betul-betul tidak dia inginkan. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ As Samii’ Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan merasa gembira apabila ada orang-orang yang berniat baik dan akan ia dukung agar niatnya tersebut terlaksana. Tetapi andaikata ada orang yang berniat tidak baik, ia akan berusaha untuk mencegah atau menghalangi agar niat buruk tersebut tidak sampai terlaksana. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ As Sami’ Ya Allah, jadikanlah kami perantara-peantaraMu untuk membantu niat orang-orang yang ingin berbuat baik, agar niatnya itu dapat terlaksana. Sehingga mereka dapat mengetahui bahwasannya niat yang baik itu pasti akan Engkau tolong didalam melaksanakannya. J. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Bashiir Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan membantu dan mendukung orang-orang yang akan melaksanakan kebaikan. Tetapi andaikata ada orang yang akan melaksanakan kejahatan, maka ia akan berusaha untuk mencegah atau menghalangi agar tidak sampai terlaksana. K. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Bashir Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu didalam mengingatkan hamba-hambaMu yang melaksanakan kebaikan, agar sesuai dengan apa yang Engkau syareatkan. Sehingga mereka dapat mengetahui bahwasannya apabila mereka tidak melaksanakan sesuai dengan apa yang Engkau syareatkan, sesungguhnya amal itu akan tertolak. L. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Hakam Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan memberikan satu penilaian kepada orang-orang yang berniat baik karena Allah Ta'ala dan melaksanakan sesuatu sesuai dengan hukum Allah Ta’ala. Karena amal yang diterima adalah dimulai dengan niat yang baik dan dilaksanakan dengan syareat yang benar. M. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Hakam Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu didalam memberikan balasan kepada orang-orang yang telah melakukan sesuatu perbuatan dengan niat yang benar dan menurut syareat yang telah Engkau tentukan, walaupun sekecil apapun perbuatan mereka. Agar mereka mengetahui bahwasannya suatu amal yang dilakukan dengan niat yang benar dan dengan syareat yang benar, Engkau pasti akan menerimanya.