25. AL MU’IZZU (Dzat Yang Maha Memuliakan) 26. AL MUDZILLU (Dzat Yang Maha Menghinakan) Apabila dengan kekuasaan yang Allah berikan membuat seseorang berakhlak buruk karena tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka Allah akan menghinakannya. Sebagai contohnya seorang pimpinan yang terlalu rakus dengan uang yang selalu ingin mementingkan dirinya sendiri, bertindak sewenang-wenang dan tidak perduli dengan bawahannya. Maka akan dimasukkan kedalam hati setiap bawahannya rasa tidak suka dan memandang hina kepada pimpinan tersebut. Begitu juga sebaliknya apabila seseorang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan membuatnya berakhlak mulia, maka Allah akan memuliakannya. Sebagai contohnya tukang becak yang mengantarkan penumpangnya dengan ikhlas karena Allah dan tidak menentukan bayaran, maka pada saat membayarnya ada rasa senang dalam hati penumpang tersebut. Bahkan mungkin akan membayar lebih dari ongkos yang biasanya serta akan memandang mulia tukang becak tersebut. Dengan kata lain apabila seseorang bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka Allah akan memuliakanya. Begitupun sebaliknya apabila seseorang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya, sehingga hawa nafsunya yang selalu ia ikuti, maka Allah akan menghinakannya. Dan hal ini hanya berlaku bagi orang-orang yang diinginkan Allah untuk diselamatkan. Apabila Allah ingin memuliakan seseorang Dia tidak memandang status sosial. Oleh karena itu carilah kemuliaan dimata Allah, pasti kita akan mulia dimata manusia. Janganlah mencari kemuliaan dimata manusia, karena kita akan hina dimata Allah juga dimata manusia. Kedua Asma’ Allah ini hanyalah instrumen untuk menyelamatkan akidah bagi hambanya yang diberi karunia kekuasaan, minimal kekuasaan didalam hatinya. Pada dasarnya setiap manusia telah diilhamkan fasik dan taqwa kedalam hatinya. Oleh karena itu apabila seseorang memilih jalan ketaqwaan akan dimuliakan oleh Allah, begitupun sebaliknya apabila memilih jalan kefasikan akan dihinakan oleh Allah. Masalah hawa nafsu harus benar-benar kita perhatikan, karena hawa nafsu inilah yang bisa menjerumuskan manusia. Apabila seseorang sudah menjadi fasik (selalu mengikuti hawa nafsu), maka syetan akan menggiringnya menjadi kafir, musyrik dan munafiq. Apabila dalam hidup ini kita selalu memperturutkan hawa nafsu, seperti mengejar kekuasaan, ilmu dan harta sebanyak-banyaknya untuk kehidupan dunia (kepuasan nafsu), akan tetapi kita justru dimuliakan dan disanjung oleh orang banyak, maka seharusnya kita menjadi takut. Jangan-jangan kita termasuk orang-orang yang dibiarkan Allah dalam kesesatan. Karena hukum Allah apabila seseorang mengikuti hawa nafsu akan direndahkan, tetapi kenapa kita justru dimuliakan dan disanjung orang banyak? Seharusnya kita bertanya pada diri sendiri kenapa hukum Allah tidak berlaku pada diri kita? Maka dari itu apabila kita mengikuti hawa nafsu Allah masih merendahkan kita, seharusnya kita bersyukur. Berarti Allah masih ingin menyelamatkan kita. Memang dalam pandangan dunia orang-orang yang mulia dilihat dari banyaknya harta, ilmu dan tingginya jabatan (kekuasaan). Hal ini terbukti pada saat ada suatu acara yang duduk didepan selalu orang kaya, pintar dan berkuasa. Akan tetapi dalam pandangan akhirat kemuliaan tidak terletak diharta, ilmu dan kekuasaan. Karena Allah SWT berfirman bahwa orang yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. Sesuai surat Al Hujuraat (49) : 13 13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Didalam agama Islam telah diajarkan, apabila pergi kemasjid siapa yang paling dahulu dialah yang paling didepan dan yang terlambat harus dibelakang, tidak perduli orang kaya, pintar, berkuasa, bodoh atau miskin. Diri kita selalu berfikir dan berupaya untuk mencari kemuliaan didunia (dimata manusia). Padahal kemuliaan yang haqiqi adalam kemuliaan dimata Allah yaitu orang-orang yang paling banyak bertakwa. Dan orang-orang yang akan menjadi raja disyurga nanti adalah orang-orang yang apabila datang tidak dihiraukan dan apabila tidak datang tidak ditanyakan. Oleh sebab itu kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu, termasuk juga didalam mencari Allah. Karena barang siapa mencari Allah karena hawa nafsunya maka selamanya tidak akan bertemu dengan Allah. Hal ini disebabkan Allah tidak ingin menjadi khodam (pelayan)nya yang harus selalu menuruti keinginan nafsunya. Sehingga Allah menjadi hamba dan nafsunya yang menjadi tuhan. Ini adalah contoh orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Surat Al Jaatsiyah (45) : 23 23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Ingatlah…., Allah adalah Tuhan kita bukan khodam (pelayan) kita yang harus selalu menuruti segala keinginan hawa nafsu kita. Diri kita harus benar-benar menyadari sebagai seorang hamba, dan sangat wajar sekali kalau Allah kita sembah. Karena Allah tidak menjadikan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah (beribadah) kepadaNya. Surat Adz Dzariyaat (51) : 56 56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku. Sebagai penyeimbang nafsu adalah akal yang telah diisi dengan tiga ilmu. Yaitu ilmu mengenal Allah, Al Qur’an dan Al Hadits. Akan tetapi ketiga ilmu ini jangan hanya sebatas dibaca (fahami). Tetapi harus diamalkan dalam kehidupan. Kalau hanya sekedar menumpuk-numpuk ilmu akan menjadi sombong dan seperti keledai yang memanggul kitab-kitab. Surat Al Jumu'ah (62) : 5 5. Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa Kitab-Kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Barang siapa yang mencari Allah untuk memenuhi kebutuhan nafsunya maka akan direndahkan. Oleh sebab itu hendaknya kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Karena apa kita mencari Allah? Apakah ingin mengejar peringkat (maqom) yang ada didalam agama? Seperti ulama’, wali dan lain sebagainya. Apakah ingin dipuji orang banyak? Kalau demikian berarti kita mencari Allah berdasarkan nafsu, apalagi mencari Allah agar rizki lancar, segala urusan mudah, jabatan tinggi dan lain sebagainya. Kenapa Allah Ta’ala menghinakan dan memuliakan hamba-hambaNya? Agar manusia bisa memperhatikan hawa nafsunya sehingga dia akan bersungguh-sungguh untuk mengendalikannya. Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala sangat menginginkan semua hamba-hambaNya selamat didunia dan diakhirat, yaitu masuk kedalam syurga-Nya. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kita bisa mengendalikan hawa nafsu sehingga Allah memuliakan kita? dan seberapa banyak kita tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, sehingga Allah menghinakan kita?. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, muliakanlah kami disis-Mu apabila kami dapat mengendalikan hawa nafsu kami, agar kami dapat mengetahui bahwasannya apa yang kami lakukan adalah benar disisi-Mu. Dan hinakanlah kami ya Allah, apabila kami tidak dapat mengendalikan hawa nafsu kami, agar kami menyadari bahwasannya apa yang kami lakukan adalah salah disisi-Mu. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa pemuliaan dan penghinaan semata-mata datangnya dari Allah Ta'ala. Sehingga apabila ada orang lain yang menghinanya dia tidak marah, karena dia yakin pada hakikatnya yang menghinakan dirinya adalah Allah Ta'ala sedangkan orang itu hanyalah perantara Allah Ta'ala saja. Dan apabila dimuliakan oleh orang lain, dia-pun tidak menjadi sombong, karena pemuliaan itu juga datangnya dari Allah Ta'ala, agar dia bisa lebih baik lagi didalam mengendalikan hawa nafsu. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa selalu berusaha bagaimana bisa mengendalikan hawa nafsunya agar keimanannya (hubungannya) dengan Allah Ta'ala tidak terganggu, sehingga dia bisa selamat diakhirat kelak. Didalam hidup ini banyak sekali orang-orang berlomba-lomba mencari harta, ilmu dan kekuasaan. Dan tujuan mencari semua itu agar mereka diakui keberadaannya, ingin dikatakan kaya, mulia, besar dan lain sebagainya. Padahal itu semua adalah hak Allah Ta'ala, dan barang siapa yang merampas hak Allah Ta'ala akan dimasukkan kedalam neraka. Oleh sebab itu agama Islam tidak membedakan antara orang kaya dan orang miskin, orang terhormat dan tidak terhormat. Karena yang membedakan kemuliaan seseorang disisi Allah Ta'ala adalah ketaqwaannya. Yang dinamakan taqwa adalah menjalankan segala perintah Allah Ta'ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan yang menghalangi manusia tidak mau menjalankan ketaqwaan adalah hawa nafsu. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bantulah kami agar kami dapat mengendalikan hawa nafsu. Dan tolonglah kami ya Allah, agar kami dapat bersabar dengan penghinaan yang Engkau berikan kepada kami, sehingga kami dapat kembali kejalan-Mu yang lurus. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal akan menyerahkan masalah pemuliaan dan penghinaan hanya kepada Allah Ta'ala. Sedikitpun dia tidak mengharapkan pemuliaan dari manusia dan tidak memperdulikan penghinaan dari manusia. Semuanya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apakah Allah Ta'ala akan memuliakannya atau menghinakannya. Yang penting diakhirat kelak dia bisa selamat. Dengan kata lain dia tidak mempermasalahkan pemuliaan dan penghinaan dari Allah Ta'ala. Apabila dia dihinakan oleh Allah Ta'ala akibat memperturutkan hawa nafsu, maka dia sangat bersyukur kepada Allah Ta'ala, setelah itu dia bertaubat dan berusaha untuk memperbaiki diri. Dan apabila dia dimuliakan oleh Allah Ta'ala karena bisa mengendalikan hawa nafsu, maka dia sangat malu kepada Allah Ta'ala. Karena hawa nafsunya masih banyak yang belum terkendalikan, tetapi Allah Ta'ala telah memuliakannya. Kemudian dia lebih bersungguh-sungguh lagi untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya. Keenam Asma’ diatas, yaitu Al Qobidh, Al Basith, Al Khafidz, Ar Rafi’, Al Mu’izzu dan Al Mudzillu, adalah perangkat Allah Ta'ala untuk menyelamatkan hamba-hambaNya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mau menerimanya. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang bertawakkal dia tidak mempermasalahkan semua itu. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Mu’izzu Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan memuliakan orang-orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. Dan ia melakukan itu semata-mata adalah untuk menjalankan hukum-hukum Allah Ta’ala. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Mu’izzu Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu didalam memuliakan orang-orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, agar mereka dapat melihat rahmat dan nikmat-Mu bagi orang-orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. J. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Mudzillu Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan menghinakan orang-orang yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. Karena ia sebagai wakil Allah untuk menjalankan hukum-hukumNya dan ia tidak pernah segan atau takut untuk menghinakan orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. K. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Mudzillu Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu didalam memperingatkan orang-orang yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya, sehingga mereka menyadari bahwa sesungguhnya memperturutkan hawa nafsu itu adalah sebuah kemusyrikan, sehingga mereka dapat kembali kejalan yang lurus.