23. AL KHAFIDZ (Dzat Yang Maha Merendahkan) 24. AR RAFI’ (Dzat Yang Maha Meninggikan) Sifat Al Khafidz dan Ar Rofi’ ini merupakan instrumen Allah Ta’ala untuk menjaga keimanan hamba-hambaNya yang diberi amanah ilmu. Maksudnya adalah, apabila dengan ilmunya membuat seseorang menjadi sombong, merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih pintar, dan cenderung menganggap remeh orang lain, maka Allah Ta’ala akan merendahkannya. Hal ini karena kasih sayang Allah Ta’ala agar hamba-Nya menjadi sadar dan kembali kejalan yang lurus. Begitu juga sebaliknya apabila seseorang itu dengan ilmunya membuat dirinya bertambah takut kepada Allah Ta’ala, sehingga kesombongannya menjadi hilang, maka Allah Ta’ala akan meninggikannya. Akan tetapi kedua Asma’ ini hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang dikehendaki Allah Ta’ala untuk diselamatkan. Ilmu yang wajib dicari (pelajari) adalah : “Ilmu mengenal Allah, Al Qur’an dan Al Hadist”. Apabila ketiga ilmu pokok ini tidak dikuasai, maka seseorang itu cenderung akan mencari ilmu hanya untuk kebutuhan duniawi saja dan biasanya akan membuatnya menjadi sombong. Akan tetapi apabila ketiga ilmu pokok ini dapat dikuasai, Insya-Allah akan menjadikan seseorang itu menjadi benar. Yaitu akan mendapat hidayah dari ilmu yang diberikan Allah Ta’ala kepadanya dan tidak ada kesombongan dalam dirinya serta membuatnya takut kepada Allah Ta’ala. Disamping ilmu yang pokok, perlu juga dipelajari ilmu yang bersifat umum, karena akan mempermudah seseorang dalam melakukan amal sholeh. Oleh sebab itu apabila kita termasuk orang yang beriman dan dikehendaki Allah untuk diselamatkan, apabila tumbuh kesombongan dalam diri kita karena ilmu yang Allah titipkan maka Allah akan merendahkan kita sebagai bentuk kasih sayangNya. Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak beriman dan tidak dikehendaki Allah untuk diselamatkan apabila kesombongannya bertambah maka sanjungan dan pujian orangpun bertambah, sehingga orang lain bertambah hormat kepadanya. Berarti Allah membiarkannya dalam kesesatan atau disebut dengan istijroj (Allah membalas dengan perhiasan dunia, tetapi diakhirat akan mendapat neraka). Apabila bertambah ilmu kita, bertambah pula riya’, ujub dan kesombongan kita, tetapi Allah tidak memberikan hukuman (peringatan) seharusnya kita takut dan khawatir. Jangan-jangan kita termasuk orang-orang yang dibiarkan Allah dalam kesesatan dan dikunci mati hati kita. Berarti kita termasuk orang-orang yang tidak akan diselamatkan. Kita sadar bahwa dosa-dosa yang kita lakukan sudah terlalu banyak, tetapi kenapa Allah tidak menghukum kita? Padahal berbuat salah terhadap sesama manusia saja harus dihukum, sedangkan kepada Allah yang menciptakan kita kenapa tidak? Seharusnya terhadap Allah kita harus konsekuen. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Apabila kita bersalah harus bersiap untuk menerima hukuman sehingga nanti diakhirat menjadi bersih, karena pencucian dosa adalah pembalasan dari kesalahan-kesalahan. Kalau tidak mau dihukum maka selamanya tidak akan bersih, karena setiap kesalahan harus ada hukuman. Tetapi hukuman didunia jauh lebih ringan dibanding dengan hukuman diakhirat. Apabila seseorang dikehendaki Allah Ta'ala untuk diselamatkan, apabila tumbuh kesombongan dalam dirinya akan langsung direndahkan oleh Allah Ta’ala, bahkan terkadang melalui anak kecil. Karena sebesar biji bayam kesombongan tidak akan mencium baunya syurga. Akan tetapi kesombongan inilah yang selalu dibisik-bisikkan syetan untuk menjerumuskan manusia, sehingga kesombongan ini mengenai seluruh lapisan masyarakat. Oleh sebab itu seharusnya kita bersyukur apabila Allah merendahkan kita. Karena jika tidak maka kita tidak bisa selamat. Untuk itu apabila ada orang yang menghina (merendahkan) kita sesunguhnya itu adalah dari Allah, karena Allah perintahkan ia sebagai perantaraNya agar kita menjadi sadar. Sedangkan bagi kita yang menjadi perantara Allah harus bisa mengambil pelajaran. Jangan sekali-kali merendahkan orang tersebut karena merasa lebih baik. Maksudnya apabila kita melihat orang lain yang sombong lalu kita merendahkannya karena merasa lebih baik, ini adalah salah. Akan tetapi kalau kita tidak mau merendahkan orang lain tetapi secara spontan ada perasaan merendahkan, berarti kita menjadi perantara Allah dan harus bisa mengambil pelajaran. Jadi barometernya jangan membandingkan dengan diri kita. Sebetulnya setiap orang yang sombong akan diingatkan oleh Allah. Karena kesombongan seberat biji sawi tidak akan mencium baunya syurga dan kesombongan itu sangat dibenci oleh Allah. Oleh karenanya Allah pasti mengingatkan. Akan tetapi karena mengikuti hawa nafsunya banyak sekali orang yang merasa senang dengan kesombongannya. Oleh sebab itu apabila ada orang yang sombong lalu kita sombongi lagi dengan niat karena Allah agar ia berhenti dari kesombongannya, maka nilainya adalah shodaqah. Ingat.....! kesombongan tidak hanya mengenai orang-orang kaya dan pintar saja. Tetapi juga mengenai orang-orang miskin dan bodoh. Bahkan terkadang orang yang bodoh apabila mendapatkan ilmu sedikit saja membuatnya menjadi sombong dan memandang rendah orang lain. Masalah kesombongan harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena sebesar biji sawi saja tidak bisa mencium bau syurga. Oleh sebab itu hendaknya hati ini harus selalu kita jaga. Dan kesombongan ini adalah akibat dari nafsu. Maksudnya adalah, semakin terkendali nafsu maka semakin tipis kesombongannya. Biasanya orang-orang yang berilmu sering kali dibutuhkan orang lain, sehingga terkadang membuat dirinya merasa dibutuhkan dan menjadikan dia sombong, ujub dan riya’. Hal ini disebabkan karena dia merasa bahwa ilmu yang dia miliki adalah karena hasil kemampuannya sendiri, tidak menyadari bahwa semua itu adalah pemberian (amanah) dari Allah Ta'ala Ta’ala yang akan dimintai pertanggung jawaban. Oleh sebab itu Allah Ta’ala akan merendahkannya, dengan harapan agar kiranya dia bisa bertaubat dan kembali kejalan yang lurus. Hal ini Allah Ta’ala lakukan karena kasih sayangNya agar hambaNya tersebut selamat didunia dan diakhirat. Karena barang siapa yang didalam hatinya terdapat sebesar biji sawi kesombongan, maka dia tidak bisa mencium baunya syurga. Mencari ilmu hukumnya wajib, akan tetapi setelah diberi oleh Allah Ta’ala, jangan sekali-kali membuat kita menjadi sombong dan merendahkan orang lain. Oleh sebab itu para Ulama’ mengatakan: “Andaikata ilmu tanpa ketaqwaan itu mulia, maka iblislah makhluq yang paling mulia karena dia adalah makhluq yang paling pintar”. Akan tetapi dengan ilmunya tersebut membuat iblis menjadi sombong, selalu mengingkari perintah-perintah Allah Ta’ala dan merasa lebih baik dari orang lain. Oleh sebab itu iblis menjadi makhluq yang paling rendah dan dilaknat oleh Allah Ta’ala, sehingga dia akan masuk kedalam neraka. Didalam salah satu hadits Qudsi Allah Ta’ala berfirman : “Keagungan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku. Barang siapa yang merampasnya dari-Ku, maka akan Aku benamkan kedalam api neraka”. Dari ‘Abdullah r.a., katanya Rasulullah S.A.W. bersabda: “Tidak dapat masuk neraka seseorang yang terdapat iman di dalam hatinya walaupun seberat biji bayam dan tidak akan masuk surga seorang yang terdapat dalam hatinya kesombongan walaupun hanya seberat biji bayam.” (Shahih Muslim) Sebetulnya tujuan mencari ilmu agama adalah agar bisa selamat didunia dan diakhirat (masuk syurga). Akan tetapi kenapa setelah belajar ilmu justru membuat kita masuk kedalam neraka?. Hal ini disebabkan karena kita sombong dengan ilmu yang telah kita pelajari serta merendahkan orang lain. Siksa yang paling berat dineraka kelak akan diterima oleh orang-orang yang berilmu agama tetapi tidak diamalkan dalam kehidupannya sehari-hari. Padahal Rasulullah SAW bersabda : “Tidak dapat masuk syurga orang yang dalam hatinya terdapat rasa sombong walaupun hanya seberat debu. Seorang laki-laki bertanya : “Bagaimana kalau seseorang suka memakai baju dan sepatu bagus? Jawab Rasulullah SAW : “Allah Ta’ala SWT itu jamil, Dia menyukai yang indah-indah, sedangkan sombong itu menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain”. (Shahih Muslim dari Abdullah Bin Mas’ud r.a) Didalam mencari ilmu harus kita mulai dengan sesuatu yang benar dan dengan niat yang benar yaitu untuk kita amalkan sebagai kebutuhan dan keselamatan diri kita sendiri dan keluarga. Jangan sekali-kali kita mencari ilmu dengan niat untuk mengajari, menilai atau mengoreksi kesalahan orang lain. Dan didalam mencari ilmu kita harus belajar dengan pembimbing yang benar yaitu orang yang selalu mengajak kepada Allah Ta’ala bukan menarik (mengajak) kepada dirinya sendiri. Dan apabila Allah Ta’ala telah menitipkan ilmu kepada kita, jangan sekali-kali merasa paling benar dan merendahkan orang lain. Karena jika demikian kita sama seperti iblis, sehingga menjadikan kita sebagai makhluq yang paling rendah disisi Allah Ta’ala. Padahal sepandai-pandainya orang, pasti masih ada yang lebih pandai lagi. Dan jangan sekali-kali kita mengharapkan pujian dari manusia dan jangan merasa senang apabila ada manusia yang memuji. Karena semua ilmu adalah kepunyaan Allah Ta'ala, dan ilmu yang ada pada diri kita hanyalah sedikit dan itupun merupakan titipan dari Allah Ta'ala. Untuk itu hendaknya kita meneladani Rasulullah SAW. Beliau adalah orang yang paling berilmu, paling beriman, paling bertaqwa dan paling baik akhlaqnya. Akan tetapi sedikitpun tidak ada kesombongan pada diri beliau. Yang dinamakan ilmu bermanfaat adalah : “Ilmu yang dipakai untuk keselamatan dirinya sendiri, yaitu diamalkan dalam kehidupannya sehari-hari. Dan tidak dipergunakan untuk menilai (mengoreksi) orang lain dan tidak minta dinilai oleh orang lain”. Sedangkan yang dinamakan ilmu barokah adalah : “Setelah ilmunya bermanfaat untuk dirinya sendiri dan bermanfaat pula untuk orang lain. Bisa lewat jika ada orang yang bertanya atau ada orang yang melihat pengamalan ilmunya sehingga orang tersebut mencontohnya”. Oleh sebab itu apabila dengan ilmu yang Allah Ta’ala titipkan membuat seseorang semakin dekat dan takut kepada Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan meninggikan derajatnya dan dia termasuk ulama’ dimata Allah Ta’ala. Karena yang dinamakan ulama’ adalah : “Orang-orang yang dengan ilmunya membuat dia semakin takut kepada Allah Ta’ala”. Firman Allah Ta’ala dalam Surat Al Fathir (35) : 28 28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah Ta’ala di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak ilmu yang dititipkan oleh Allah kepada diri kita yang membuat kita menjadi sombong? Dan sudah berapa banyak ilmu-ilmu yang Allah titipkan yang membuat kita semakin takut dan patuh kepadaNya sehingga ilmu itu bermanfaat dan barokah? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, rendahkanlah kami apabila kami menjadi sombong dengan ilmu yang Engkau titipkan kepada kami, agar kami mengetahui bahwa apa yang kami perbuat adalah salah. Dan tinggikanlah kami ya Allah, apabila kami berendah diri dan menjadi takut kepada-Mu karena ilmu yang telah Engkau titipkan kepada kami. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat menyadari bahwa apabila dia sombong akan direndahkan oleh Allah Ta'ala dan apabila dia semakin takut akan ditinggikan oleh Allah Ta'ala. Dengan kata lain dia sangat yakin bahwa perendahan dan peninggian semata-mata datangnya dari Allah Ta'ala, disebabkan perbuatan dirinya sendiri. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa akan selalu menjaga agar dengan ilmunya tersebut dia semakin bertambah takut kepada Allah Ta'ala dan semakin bertambah amalnya. Dan sedikitpun dia tidak menginginkan sanjungan dari manusia, karena yang dia inginkan adalah sanjungan dari Allah Ta'ala. Dan yang paling utama dia akan menggunakan ilmunya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan keluarganya, dan kalaupun Allah Ta'ala mengizinkan akan dia pakai untuk menyelamatkan orang lain. Akan tetapi orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu, dia tidak mau mengamalkan ilmunya. Justru dengan ilmunya dia pakai untuk kesombongan dan merendahkan orang lain, sehingga dengan bertambahnya ilmu membuat dia semakin bertambah berani kepada Allah Ta'ala. Mencari ilmu hukumnya memang wajib, yaitu ilmu mengenal Allah, Al Qur’an dan Al Hadits. Akan tetapi bahanya akan menjadi sombong dan merendahkan orang lain. Padahal seharusnya setelah mendapat ilmu adalah untuk kita amalkan dan untuk mengendalikan hawa nafsu, karena kita telah faham dengan hukum-hukum Allah Ta'ala. Oleh sebab itu carilah ilmu yang bisa menyelamatkan kita dan didalam mencari ilmu hendaknya kita berniat untuk mengamalkannya. Dan setelah dapat, hendaknya kita berusaha mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai menumpuk-numpuk ilmu tetapi tidak diamalkan. Karena jika demikian kita sama seperti keledai yang memanggul kitab-kitab, dan diakhirat kelak ilmu-ilmu tersebut akan beterbangan seperti debu. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami dapat bersabar ketika Engkau merendahkan kami, karena Engkau merendahkan kami melalui perantaraan hamba-hambaMu. Dan tolonglah kami ya Allah, agar kami dapat bersyukur dengan ilmu yang telah Engkau titipkan kepada kami, sehingga kami bisa bertambah takut kepada-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal tidak mempermasalahkan ilmu yang Allah Ta'ala berikan, apakah sedikit atau banyak. Yang dia fikirkan adalah bagaimana ilmunya tersebut bisa dia amalkan dalam kehidupannya sehari-hari sehingga bisa menyelamatkan dirinya diakhirat kelak. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apakah Allah Ta'ala akan merendahkannya atau meninggikannya. Yang penting dia bisa selamat diakhirat kelak. Apabila dia direndahkan oleh Allah Ta'ala akibat sombong dengan ilmu yang Allah Ta'ala titipkan padanya, maka dia akan menerimanya dengan ikhlas bahkan sangat bersyukur. Karena dengan direndahkan itulah dia bisa bertaubat dan memperbaiki diri. Dan apabila dia ditinggikan oleh Allah Ta'ala akibat bisa mengamalkan ilmunya, maka dia sangat malu. Karena baru sedikit ilmu yang bisa dia amalkan, tetapi Allah Ta'ala telah meninggikannya. Kemudian dia lebih bersungguh-sungguh lagi untuk mengamalkan ilmunya. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Khafidz Apabila sudah menjadi kholifah, ia sangat keras merendahkan orang-orang yang sombong dengan ilmunya. Maksudnya, ia sebagai kholifah akan menjalankan hukum-hukum Allah dan diberi perasaan dalam hatinya untuk merendahkan orang-orang yang berilmu yang dengan ilmunya tersebut menjadikan dirinya sombong. Dengan kata lain, apabila ada orang yang berilmu dan dengan ilmunya tersebut membuat ia sombong, maka paling dahulu ia yang merendahkan orang tersebut. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Khafidz Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu didalam mengingatkan orang-orang yang sombong karena ilmu yang Engkau titipkan kepada mereka, agar mereka mengetahui bahwa sesungguhnya ilmu itu adalah datang dari-Mu dan Engkau-lah yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mereka ketahui. J. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Ar Rafi’ Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan selalu meninggikan derajat orang-orang yang dengan ilmunya menjadikan dirinya semakin takut kepada Allah Ta’ala. K. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Ar Rafi’ Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu didalam meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, yang dengan ilmunya mereka selalu bertawadhu’ dan tidak sombong. Agar menambah keyakinan mereka, bahwasannya ilmu yang mereka peroleh adalah datangnya dari-Mu.