21. AL QOBIDH (Dzat Yang Maha Menyempitkan Rizki) 22. AL BASITH (Dzat Yang Maha Melapangkan Rizki) Setelah kita memahami sifat Ar RozzaqNya Allah bahwa Dia adalah Maha Memberi Rizki baik berupa harta, ilmu, tenaga dan kekuasaan, sifat Al Qobidh dan Al Basith ini adalah khusus untuk masalah harta. Maksudnya adalah, apabila dengan harta yang diberikan Allah Ta’ala menjadikan kita sombong, riya’, melampaui batas dan memperturutkan hawa nafsu, sehingga membuat kita semakin jauh dari Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan menyempitkan rizki kita. Hal ini adalah karena kasih sayang Allah Ta’ala untuk menyelamatkan akidah hamba-hambaNya. Kondisi seperti ini sering kali kita terima dalam kehidupan ini. Seperti contohnya kita ditipu orang, rugi dalam perdagangan dan lain sebagainya. Akan tetapi kita tidak sadar dan tidak merasa bahwa itu semua adalah perbuatan Allah Ta’ala, sehingga kita cenderung untuk menyalahkan kondisi atau menyalahkan orang lain. Sebetulnya kebutuhan kita selama hidup didunia ini telah dijamin oleh Allah Ta’ala sebatas apa yang kita perlukan. Oleh karena itu apabila ada kelebihan, hal itu merupakan amanah dari Allah Ta’ala agar dapat kita gunakan untuk melakukan amal sholeh. Sedangkan besarnya amanah yang diberikan Allah Ta’ala kepada seseorang itu bergantung dari tingkat kesanggupan orang tersebut dalam menerimanya. Yang paling berbahaya dalam masalah amanah adalah, kita bergantung dengan amanah tersebut. Misalnya kita menabung sejumlah uang di bank, sehingga membuat kita tenang dengan adanya uang tabungan tersebut. Inilah kemusyrikan yang tipis yang jarang sekali kita sadari. Sebenarnya dengan sifat Al QobidhNya ini, Allah Ta’ala tidak menyempitkan rizki kita, tetapi hanya memindahkan kelebihan-kelebihan yang diberikan kepada kita kepada orang lain yang lebih amanah. Oleh sebab itu apabila rizki kita disempitkan oleh Allah Ta'ala, jangan sekali-kali menyalahkan orang lain, tetapi salahkanlah diri sendiri karena belum bisa amanah. Dan perlu juga diketahui apabila seseorang itu tidak bisa amanah dalam mengelola pemberian-pemberian Allah Ta’ala, maka di padang mahsyar nanti akan dihisab dengan hisab yang berat. Sedangkan salah satu cara apabila ingin menjadi orang yang amanah adalah dengan menafkahkan harta dijalan Allah Ta’ala yang lebih dari keperluan kita. Akan tetapi standar cukup atau keperluan ini adalah melihat diri sendiri bukan melihat orang lain dan mengukurnya dengan taqwa bukan dengan nafsu. Bentuk kesempitan ada dua macam : 1. Kesempitan sebagai ujian : “Hal ini untuk meningkatkan keimanan kita dan cara mensikapinya adalah dengan bersabar”. 2. Kesempitan sebagai peringatan : “Hal ini disebabkan karena kita tidak bisa amanah dan cara mensikapinya adalah dengan bertaubat dan memperbaiki diri”. Apabila seseorang diberi amanah oleh Allah Ta’ala uang 500 ribu, sebatas cukup ia gunakan untuk keperluannya dan selebihnya dia nafkahkan dijalan Allah Ta’ala, setelah itu ditambah oleh Allah Ta’ala menjadi satu juta dan seterusnya dan dia masih terus bisa amanah, orang seperti inilah yang akan dilapangkan oleh Allah Ta’ala. Begitu juga apabila seseorang itu dengan kefakiran yang ia hadapi akan menjadikannya kufur dan bergantung kepada selain Allah Ta’ala, maka orang ini juga akan dilapangkan oleh Allah Ta’ala agar tidak sampai menjadi kufur. Sebenarnya masalah Qobidh dan Basith ini tidak perlu kita permasalahkan, karena kedua hal ini hanyalah sebagai alat atau instrumen Allah Ta’ala untuk menjaga keimanan hamba-hambaNya. Akan tetapi yang harus kita fikirkan adalah apa yang telah kita perbuat dan akibat yang kita terima yang merupakan nilai tafakkur atau introsfeksi diri, dan juga bukan untuk menyalahkan orang lain atau kondisi. Asma’ Al Qobidh ini hanya berlaku bagi orang-orang yang masih ingin diselamatkan oleh Allah Ta’ala. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak diinginkan untuk diselamatkan, justru akan diberikan kelebihan harta yang melimpah ruah sebagai bentuk balasan didunia. Akan tetapi diakhirat nanti tidak akan memperoleh apa-apa melainkan Neraka. Hal ini disebabkan ia selalu melalaikan peringatan-peringatan Allah Ta’ala, sehingga Allah Ta’ala membukakan semua pintu kesenangan baginya sampai batas waktu tertentu. Sesuai surat Al An'aam (6) : 44 44. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Apabila Allah memberi rizki bertambah banyak tetapi tidak membuat kita bertambah dekat kepadaNya (memperbanyak amal sholeh), hendaknya kita menjadi takut. Jangan-jangan kita termasuk orang-orang yang diberi harta Istijroj seperti ayat diatas. Apabila pemberian-pemberian Allah justru kita pakai untuk kedurhakaan tetapi Allah tidak memberikan peringatan, seharusnya kita tanyakan pada diri sendiri. Kenapa aku tidak diperingatkan oleh Allah Ta’ala? padahal aku adalah salah. Apakah aku termasuk orang-orang yang melupakan peringatan-peringatan Allah Ta’ala atau termasuk orang-orang yang tidak beriman? Oleh sebab itu hendaknya kita hitung-hitung sudah berapa banyak yang Allah berikan kepada kita. Setelah itu kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Sudahkah pemberian-pemberian Allah membuat kita bertambah dekat kepadaNya? Berapa banyak yang kita pakai untuk ketaqwaan? Dan berapa banyak yang kita pakai untuk kedurhakaan (kepuasan hawa nafsu)? Untuk itu pada saat kita disempitkan seharusnya kita bersyukur kepada Allah. Berarti Allah masih sayang kepada kita dan masih menginginkan keselamatan bagi diri kita. Begitu juga apabila kesempitan yang kita alami akan membawa kepada kekufuran, maka Allah akan melapangkan agar kita bersyukur. Dan ini juga berlaku hanya bagi orang-orang yang ingin diselamatkan oleh Allah. Maksudnya adalah, apabila dengan kesempitan tersebut akan membuat keimanan kita kepada Allah goyah, maka Allah akan melapangkan rizki supaya kita bertambah yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Akan tetapi terkadang setelah dilapangkan tidak membuat kita bersyukur sehingga disempitkan lagi. Dunia ini adalah panggung sandiwara dan kita ini hanyalah sebagai pemain. Apabila kita berperan sebagai orang kaya seharusnya jangan merasa kaya, karena hanya sebatas peran saja. Begitu juga kalau berperan sebagai orang miskin jangan bersedih hati. Yang paling penting bagaimana kita bisa main dengan baik dan benar sehingga sang sutradara akan senang dan menggaji kita dengan berlipat ganda. Karena semakin baik kita memainkan peran, maka semakin besar gaji yang diberikan oleh sang sutradara. Apabila harta yang Allah berikan kepada kita sudah kita nafkahkan dijalan-Nya (untuk beramal sholeh), kemudian Allah menambah lagi pemberianNya, hal itu menandakan Allah Ta'ala percaya kepada kita karena kita bisa amanah. Dengan tujuan agar penambahan tersebut bertambah pula amal kita. Ibaratnya kita menitipkan uang kepada si A 100 ribu untuk diberikan kepada si B. Apabila si A menyampaikan titipan tersebut sesuai apa yang kita perintahkan, berarti ia bisa amanah. Sehingga membuat kita percaya kepadanya. Kita hidup ini pasti punya standart. Standat ini harus kita pertahankan sehingga apabila diberi lebih akan kita keluarkan untuk dijalan Allah. Karena inilah yang akan menjadi rizki kita nanti diakhirat. Ingat.....! Allah adalah Tuhan kita, maka senangkanlah Dia. Karena apabila didalam hidup ini kita selalu berusaha untuk menyenangkan Allah Ta’ala, maka nanti diakhirat Dia akan menyenangkan kita. Orang-orang yang diberi harta yang banyak oleh Allah Ta’ala bukan berarti ia adalah orang-orang yang terbaik disisiNya. Akan tetapi orang-orang yang baik itu adalah orang-orang yang diberi harta oleh Allah Ta’ala, lalu ia syukuri dan setelah itu ia pakai untuk ketaqwaan kepadaNya (amal sholeh). Karena sebetulnya harta yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, pada hakikatnya adalah sarana untuk melakukan keta’atan kepadaNya, bukan untuk kesombongan dan mengikuti hawa nafsu. Oleh sebab itu apabila harta yang Allah Ta’ala berikan justru menjadikan kita mengikuti hawa nafsu, sombong, menghianati Allah Ta’ala dan berdurhaka kepadaNya, maka harta tersebut akan disempitkan oleh Allah Ta’ala. Hal ini Allah Ta’ala lakukan sebagai bentuk peringatan bagi hambaNya yang masih dinginkan untuk diselamatkan. Agar kiranya dengan peringatan tersebut sang hamba mau sadar dan kembali kepada Allah Ta’ala. Dan apabila kesempitan yang kita alami justru akan membuat kita menjadi kufur, maka Allah Ta’ala akan melapangkan rizki kita supaya kita pandai bersyukur dan memperbanyak amal-amal sholeh. Sebetulnya kesempitan ada dua macam, yaitu : 1. Kesempitan hartanya, dari segi jumlahnya memang berkurang. 2. Kesempitan hatinya (nafsunya), sehingga harta sebanyak apapun masih terasa kurang dan menjadikan hatinya gelisah. Begitupun juga kelapangan : 1. Kelapangan hartanya, dari segi jumlahnya memang bertambah. 2. Kelapangan hatinya (nafsunya), sehingga walaupun hartanya sedikit tetapi dia rasakan lebih (lapang) dan hatinya menjadi tenang (bahagia). A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kita bisa bersabar atas kesempitan yang diberikan Allah Ta’ala sebagai cara untuk mendekatkan diri kepadaNya? dan seberapa banyak kita bisa mengintrospeksi pengelolaan rizki yang Allah berikan kepada kita? Seberapa banyak kita bisa bersyukur atas harta yang diberikan Allah Ta'ala kepada kita, dan bersabar didalam menggunakannya? yang bisa membuat kita bertambah dekat kepada Allah Ta’ala. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, sempitkanlah rizki kami apabila kami tidak dapat bersyukur kepada-Mu atas nikmat-nikmat yang telah Engkau berikan, dan lapangkanlah rizki kami apabila kami dapat bersyukur kepada-Mu. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa kesempitan dan kelapangan itu datangnya dari Allah Ta'ala, sehingga dia tidak mempermasalahkannya. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa apabila disempitkan rizkinya dia menyadari bahwa itu adalah akibat dari kesalahannya, sehingga dia bertaubat dan memperbaiki diri. Dan apabila dilapangkan rizkinya dia bersyukur dan merasa malu, melihat apa yang dia lakukan hanyalah sedikit dan belum bisa sempurna, tetapi Allah Ta'ala melapangkannya. Kemudian dia menambah amal-amal sholehnya dari kelapangan yang Allah Ta'ala berikan tersebut. Orang-orang yang bertaqwa tidak mau dilapangkan rizkinya oleh Allah Ta'ala, andaikata dengan kelapangan tersebut akan menjauhkannya dari Allah Ta'ala. Lebih baik dia dalam keadaan sempit asalkan bisa selalu dekat dengan Allah Ta'ala. Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak beriman, apabila diberi kesempitan dia berkeluh kesah dan berburuk sangka kepada Allah Ta’ala. Bahkan dia akan mengadukan Allah Ta’ala dengan sekutu-sekutuNya. Padahal didalam kesempitan sebetulnya ada dua keuntungan. Pertama apabila dia bersabar, maka dia akan mendapat pahala sabar. Dan yang kedua diakhirat kelak dia tidak mempunyai hisab yang berat. Dan apabila diberi kelapangan tidak membuatnya semakin bertambah dalam beramal, tetapi justru semakin memperturutkan hawa nafsu. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar dapat bersabar atas kesempitan yang Engkau berikan kepada kami, dan dapat bersyukur atas kelapangan yang Engkau berikan kepada kami, sehingga kami dapat kembali bertaqwa kepada-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal tidak mempermasalahkan pemberian-pemberian Allah Ta'ala kepadanya, apakah sedikit (sempit) atau banyak (lapang), dan semuanya akan dia syukuri. Yang penting dia berusaha mengendalikan hawa nafsunya dibawah pemberian-pemberian Allah Ta'ala, sehingga hatinya akan selalu merasa lapang. Dan seberapapun rizki yang Allah Ta'ala berikan, akan dia gunakan untuk ketaqwaan (amal sholeh) sehingga bisa menjadi bekal diakhirat kelak. Bagi orang-orang yang bisa menurunkan keinginan hawa nafsunya dibawah penghasilannya, maka dia akan merasa lapang. Sebagai contohnya penghasilannya satu juta dan keinginannya hanya 800 ribu. Maka dia akan merasa kaya karena masih lebih 200 ribu. Dan kelebihan 200 ribu inilah yang bisa dia nafkahkan dijalan Allah Ta'ala. Sedangkan bagi orang-orang yang keinginan hawa nafsunya diatas penghasilannya, maka dia akan selalu merasa kurang dan gelisah. Sebagai contohnya penghasilannya satu juta tetapi keinginannya satu juta setengah. Jika kita faham dengan yang demikian, maka sebetulnya tidak ada masalah dalam hidup ini. Yang penting kita bisa mengendalikan hawa nafsu. Apakah Allah Ta'ala akan memberikan kaya atau miskin tidak menjadi masalah. Apabila diberi kaya bersyukur dan jangan sombong dan apabila diberi miskin jangan berkeluh kesah dan minder, karena yang dilihat disisi Allah Ta'ala adalah ketaqwaan. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas dan bersyukur apapun yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya. Apakah Allah Ta'ala akan menyempitkan rizkinya atau melapangkan rizkinya. Apabila disempitkan rizkinya dia bersyukur, karena jika tidak disempitkan akan membuatnya melampaui batas dan memperturutkan hawa nafsu, sehingga akan mencelakakannya diakhirat kelak. Dan apabila dilapangkan rizkinya juga bersyukur, karena dengan kelapangan itulah dia bisa memperbanyak melakukan amal-amal sholeh. Apabila dia tidak bisa amanah dengan pemberian-pemberian Allah Ta'ala, dia sangat berharap agar kiranya Allah Ta'ala menyempitkan rizki-Nya. Dan apabila dia bisa amanah dengan rizki yang Allah Ta'ala berikan, maka dia berharap agar kiranya Allah Ta'ala melapangkannya. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Qobidh Apabila telah menjadi kholifah, maka ia cenderung tidak mau menolong kepada orang-orang yang jauh dari Allah Ta’ala. Karena dia mewakili Allah Ta’ala dalam hal tersebut, agar hukum Allah Ta’ala yang telah ditentukan bisa berjalan. Bukan berarti ia kikir (tidak mau menolong), tetapi ia hanya menegakkan hukum-hukum Allah Ta’ala. Ibaratnya ada orang tua yang mempunyai anak lagi sakit demam, tetapi sang anak ingin minum es. Sebagai orang tua tentunya tidak akan memberinya, karena akan membuat penyakit anaknya semakin parah. Dan apabila ada orang lain yang memberi anaknya es, tentunya orang tua tersebut akan marah. Begitu juga dengan Allah Ta’ala. Hamba-hambaNya yang tidak bisa amanah, atau yang menghambakan diri kepada dunia adalah seperti anak yang sedang sakit. Oleh sebab itu Allah Ta'ala akan menyempitkan rizki hambaNya tersebut. Dan apabila ada manusia yang menolongnya, tentunya keinginan Allah Ta'ala untuk menyelematkan hambaNya tersebut tidak berjalan. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Qobidh Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk memberikan peringatan kepada orang-orang yang tidak bersyukur kepada-Mu, dengan jalan memperingatkan mereka tentang pemberian-pemberianMu yang tidak mereka syukuri, sehingga Engkau sempitkan rizki mereka. Agar mereka dapat kembali kejalan-Mu yang lurus. J. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Basith Apabila telah menjadi kholifah, maka ia akan membantu dengan sungguh-sungguh orang-orang yang sudah kembali kepada Allah Ta’ala. Hal ini ia lakukan agar orang tersebut semakin dekat kepada Allah Ta’ala dan tidak kembali lagi meninggalkan Allah Ta’ala. K. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Basith Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk memberikan semangat kepada orang-orang yang patuh kepada-Mu, yaitu dengan memberikan kabar gembira tentang rahmat dan nikmat yang Engkau berikan kepada orang-orang yang ta’at. Agar mereka akan lebih banyak lagi melakukan keta’atan kepada-Mu.